Kangasti ID
Fiqh Kuliner #1: Status Hukum Daging Biawak

Fiqh Kuliner #1: Status Hukum Daging Biawak

 

Banner sebuah warung yang menyediakan menu rica-rica dan sate biawak. [foto: facebook]

Seiring perkembangan zaman, dunia kuliner juga berkembang pesat. Banyak ragam kuliner yang ditawarkan, di antaranya menu yang diolah dari daging biawak. Daging biawak bisa diolah menjadi berbagai menu masakan seperti sate, sup, dan rica-rica. Namun bagaimana sebenarnya status hukum daging biawak, halal atau haram?

 

Banyak yang berpendapat akan halalnya daging biawak. Dalil yang menjadi landasan mereka menghalalkan biawak umumnya bersandar pada sejumlah riwayat hadits yang menyatakan kehalalan binatang dhabb. Di antaranya, dari Ibnu Abbas ra berkata, 

 

أُكِلَ الضَّبُّ عَلَى مَا ئِدَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

 

Dhabb pernah dimakan (oleh para sahabat) dalam hidangan Rasulullah Saw.” (Muttafaq Alaih).

 

Menurut Imam Ash-Shan’ani dalam Subulus Salam—Syarah Bulughul Maram, hadits ini menjadi dalil yang membolehkan memakan dhabb dan inilah pendapat mayoritas ulama.

 

Hanya saja yang menjadi pertanyaan, benarkah dhabb adalah biawak—yang dapat dijumpai di sejumlah daerah di Indonesia, terutama di Jawa?

 


Sejumlah buku terjemahan dari Bahasa Arab yang beredar di Indonesia kebanyakan menerjemahkan kata dhabb dengan biawak. Sehingga yang terjadi kemudian, riwayat hadits tentang dhabb dijadikan dalil kehalalan mengonsumsi daging biawak.

 

Sejumlah literatur menyebutkan bahwa biawak yang dijumpai di Indonesia dan dhabb itu berbeda. Beberapa literatur menyebutkan, dhabb (Uromastyx aegyptia) adalah sejenis biawak yang terdapat di padang pasir dan sebagai salah satu anggota terbesar dari genus Uromastyx. Dhabb dapat dijumpai di Mesir, Libya, dan seluruh daerah Timur Tengah, tetapi sangat jarang ditemui saat kini karena penurunan habitatnya.

 

Dhabb tergolong dalam keluarga kadal dan termasuk hewan herbivora. Ia menghabiskan banyak waktunya dalam lubang yang digalinya untuk menyembunyikan dirinya atau dicelah batuan yang aman untuk berlindung. Panjang seekor dhabb lebih kurang 14 inci sampai dengan 36 inci.

 

Sebagai sejenis biawak, dhabb merupakan hewan reptilia yang berdarah dingin dan berkembang biak dengan cara bertelur serta mempunyai kulit bersisik tebal. Mereka hidup di daerah kering dan berbatu. Ia mampu bertahan dengan lingkungan habitatnya yang panas dan kering tanpa meminum air.

 

Adapun biawak adalah sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae). Biawak dalam bahasa lain disebut sebagai bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik (Jawa), berekai (Madura), dan monitor lizard atau goanna (Inggris).

 

Biawak banyak macamnya. Yang terbesar dan terkenal ialah biawak komodo (Varanus komodoensis), yang panjangnya dapat melebihi 3 m. Biawak ini, karena besarnya, dapat memburu rusa, babi hutan, dan anak kerbau. Bahkan ada kasus-kasus di mana biawak komodo menyerang manusia, meskipun jarang. Biawak ini hanya menyebar terbatas di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara, seperti di p. Komodo, p. Padar, p. Rinca dan di ujung barat p. Flores.

 

Biawak yang kerap ditemui di desa-desa dan perkotaan di Indonesia barat kebanyakan adalah biawak air dari jenis Varanus salvator. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit, meskipun ada pula yang dapat mencapai 2,5 m.

 

Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai.

 


Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cecurut. Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu, dan buaya.

 

Sehingga biawak—atau  di daerah saya di Grobogan, Jawa Tengah, disebut seliro, termasuk binatang buas alias termasuk hewan karnivora yang dalam fiqh termasuk binatang yang haram dikonsumsi, sebagaimana hadits Abu Hurairah ra bahwa Nabi Saw bersabda:

 

كُلُّ ذِي نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

 

“Setiap binatang buas yang mempunyai gigi taring haram dimakan.” (HR. Muslim)

 

Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-7 di Bandung pada tanggal 13 Rabiust Tsani 1351 H/9 Agustus 1932 M menyatakan, binatang biawak (seliro-Bhs. Jawa) itu bukan binatang dhabb, oleh karenanya maka haram dimakan. Keterangan, dalam kitab Al-Qulyubi ‘Alal Minhaj: “Binatang dhabb adalah binatang yang menyerupai biawak yang hidup sekitar tujuh ratus tahun. Binatang ini tidak minum air dan kencing satu kali dalam empat puluh hari. Betinanya mempunyai dua alat kelamin betina, dan yang jantan mempunyai dua alat kelamin jantan.” (Ahkamul Fuqaha, hlm. 119).

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan.

 

 

 

Nasi Padang Babi dan Falsafah Hidup Minang

Nasi Padang Babi dan Falsafah Hidup Minang

 

Ilustrasi dari Indozone.id

Dunia kuliner Indonesia dihebohkan dengan viralnya sebuah restoran yang menawarkan menu nasi Padang babi. Restoran bernama Babiambo itu sempat mempromosikan nasi Padang babi-nya di media sosial Instagram.

 

Sontak viralnya postingan nasi Padang babi itu mencuatkan pro dan kontra yang cukup tajam di tengah masyarakat. Ada yang membela, toh kata Babi disematkan, sehingga target market usaha kuliner itu jelas. Juga, ada yang bilang, masakan tidak punya agama, sehingga boleh dimasak dengan bahan apapun, termasuk dengan bahan nonhalal.

 

Ada pula yang mengkritik bahkan mengecam keras, karena nasi Padang babi bertentangan dengan filosofi budaya masyarakat Minang yang identik dengan syariat Islam. Kecaman terutama datang dari komunitas masyarakat Minangkabau. Nasi Padang babi dianggap melecehkan falsafah hidup masyarakat Minang.

 

Bagi saya, pro dan kontra itu wajar mengingat bahwa di masa lalu fenomena persentuhan budaya kuliner di Indonesia merupakan sesuatu yang jamak terjadi. Tak sedikit kuliner Indonesia yang sejatinya merupakan adaptasi dan akulturasi dari budaya kuliner bangsa lain.

 

Kehadiran orang-orang Arab, Eropa, Tiongkok, India, dan lainnya, ke Indonesia di masa lalu, harus diakui turut membentuk karakter budaya kuliner Indonesia. Kehadiran orang-orang Tiongkok misalnya, telah menyumbang khazanah kuliner Indonesia seperti bakpia, bakso, soto, lumpia, kue keranjang, wedang ronde, dan sebagainya.

 

Pelbagai kuliner itu tentu telah mengalami akulturasi (dan “halalisasi”) karena beradaptasi dengan budaya kuliner lokal. Bakpia misalnya, ketika dibawa pertama kali oleh imigran Tiongkok ke Jogjakarta masih menggunakan isian daging babi. Tapi kemudian agar laku di pasaran, karena mayoritas masyarakat Jogjakarta adalah muslim, maka isian babi itu diganti dengan isian halal berupa kacang hijau.

 

Fenomena itu jamak terjadi dan proses itu berlangsung dengan baik tanpa gejolak ketika itu. Tapi ketika sekarang muncul nasi Padang babi, kenapa muncul pro dan kontra? Kenapa muncul kritik dan kecaman? Tidak bolehkah membuat rendang yang khas Minang itu misalnya dengan mengganti dagingnya dengan daging nonhalal?

 

Soal ini, setidaknya ada dua hal yang bisa saya kemukakan: Pertama; umat Islam—sebagai populasi terbesar di Indonesia—sejauh ini memang sangat sensitif dengan persoalan pangan, terutama menyangkut halal dan nonhalal. Bisa dimaklumi mengingat doktrin Islam memang mengatur dengan relatif ketat terkait pangan yang harus dikonsumsi—yaitu berdasarkan kehalalannya.

 

Karena itu pula pada tahun 1989, di Indonesia didirikan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI)—sebagai lembaga yang diberi otoritas penuh mengeluarkan sertifikat halal pada sebuah produk.

 

Meski kini kewenangannya “diambil alih” oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Keagamaan RI, tapi sejarah berdirinya LPPOM MUI dulu tak bisa dilepaskan dari upaya membentengi umat Islam dari produk-produk yang tidak halal di pasaran.  

 

Kedua;  meski persoalan halal dan nonhalal sangat sensitif bagi umat Islam, namun bukan berarti umat Islam tidak toleran dengan umat agama lain soal pangan. Adalah fakta bahwa banyak warung dan rumah makan yang menyediakan menu-menu nonhalal, tapi tetap bisa eksis di berbagai daerah. Karena umat Islam tahu captive market-nya beda dan jelas bukan untuk mereka.

 


 

Ketiga; menu-menu khas Minang seperti rendang merupakan produk final dari akulturasi budaya kuliner yang telah berlangsung ratusan tahun lalu—yang tidak bisa dipisahkan dari budaya masyarakat Minang.   

 

Sehingga, kemunculan nasi Padang babi ini otomatis berbeda karena membawa atau menyematkan nama daerah—lebih tepatnya etnis yang selama ini sudah tercitrakan dengan baik sebagai etnis yang memiliki keidentikan dengan syariat Islam. 

 

Masyarakat Minangkabau—atau yang biasa disebut dengan Minang saja, memiliki aforisme atau falsafah hidup yang berbunyi: Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Kitabullah”.

 

Aforisme inilah yang menjadi landasan pengamalan adat dan Islam dalam masyarakat Minang. Dalam arti, adat Minang harus berlandaskan syariat Islam, yang maksudnya tentu adalah berdasarkan Alquran dan Assunah.

 

Konsekuensi logisnya, menyandingkan nasi Padang dengan babi yang nonhalal akan cenderung menimbulkan gejolak dan masalah, karena bisa berarti melecehkan local wisdom masyarakat Minang yang selama ini  identik dengan syariat Islam—dengan jaminan nilai kehalalan pada setiap menu masakannya.

 

Murdijati Gardjito, dkk dalam buku Kuliner Minangkabau, Pusaka Nenek Moyang yang Pantas Disayang (2019) menyatakan, adat dalam kehidupan masyarakat Minang merupakan bentuk atau perilaku yang berasal dari proses pembelajaran dan pengetahuan dari alam dan syarak atau ajaran agama Islam. Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Inilah salah satu filosofi hidup yang dipegang teguh sebagai landasan utama dalam nilai-nilai kehidupan oleh masyarakat Minangkabau dari dulu hingga kini.

 

Lantas apakah dengan demikian tidak boleh memasak rendang dan menu khas Minang lainnya dengan mengganti dagingnya dengan daging nonhalal seperti babi? Pada prinsipnya, hemat saya, tidak ada larangan. Hanya saja, (seyogyanya) penggantian daging nonhalal itu tidak dikaitkan dengan Padang—sebagai representasi dari etnis Minang yang identik dengan syariat Islam. Dalam hal ini, rasa saling menghargai perlu dikedepankan, agar tidak timbul polemik yang berpotensi menimbulkan konflik berbau SARA.  

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan & peminat kajian kuliner Nusantara. Artikel dimuat di Duta Masyarakat, edisi Senin, 27 Juni 2022.

RAIT Ilma Nafia Godong Gelar Akhirussannah dan Wisuda ke-13

RAIT Ilma Nafia Godong Gelar Akhirussannah dan Wisuda ke-13

Keceriaan siswa-siswi RAIT Ilma Nafia Godong yang diwisuda berpose dengan para dewan guru. [Foto: Wahyu K]

Setelah dua tahun di masa pandemi Covid-19 tidak bisa mengadakan haflah akhirussannah secara leluasa, alhamdulillah pada Rabu (15/6/2022) lalu, Raudlatul Athfal Islam Terpadu (RAIT)  Ilma Nafia Godong dapat menggelar akhirusannah dan wisuda siswa yang ke-13. Acara digelar di balai pertemuan Desa Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.  

 

Kepala RAIT Ilma Nafia Godong Laela Nurisysyafa’ah, S.Psi menyatakan, meski menggelar acara akhirusannah, namun pihaknya masih membatasi hanya anak-anak Kelas B atau yang diwisuda saja yang dihadirkan beserta orangtua walinya. Acara belum melibatkan anak-anak dari kelas A seperti biasanya—kecuali yang bertugas mengisi pentas, agar tidak menimbulkan kerumunan yang terlalu besar.

 

Begitu pun acara pentasnya juga dibatasi yang tampil. Selain prosesi wisuda, pentas hanya menampilkan parade tahfiz oleh perwakilan anak-anak yang diwisuda dan pentas senandung Al-Quran dari perwakilan siswi Kelas A. Selain itu, ada pembacaan surat terbuka untuk guru yang dibacakan oleh Almer Arsenio Amaro Utomo—salah satu anak yang diwisuda.

Suasana acara akhirusannah dan wisud ke-13 RAIT Ilma Nafia Godong di balai pertemuan Desa Godong. [Foto: Wahyu K]

Sambutan Maera Sukawati, perwakilan orangtua wali murid yang anaknya diwisuda. [Foto: Wahyu K]
 
Sambutan Kepala RAIT Ilma Nafia Godong, Laela Nurisysyafa'ah, S.Psi. [Foto: Wahyu K]

Sambutan Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan, Badiatul Muchlisin Asti. [Foto: Wahyu K]

Anak-anak Kelas A berpose dengan para dewan guru setelah pentas Senandung Al-Quran. [Foto: Wahyu K]

Kak Jendro dari Semarang saat menyampaikan kisah Islami kepada anak-anak yang disambut dengan sangat antusias. [Foto: Wahyu K]

Dalam acara tersebut, selain sambutan perwakilan dari orangtua wali siswa yang diwisuda, juga hadir dalam acara tersebut dan memberi sambutan Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan, Badiatul Muchlisin Asti.

 

Dalam sambutannya, ia berharap wisuda siswa yang ke-13 ini menjadi trigger bagi RAIT Ilma Nafia untuk lebih baik lagi memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat muslim di Kecamatan Godong dan sekitarnya. Setelah pageblug Covid-19 berakhir,  ia berharap kegiatan belajar mengajar menjadi normal kembali sehingga bisa berlangsung optimal sekaligus menghasilkan output yang maksimal pula.

 

Acara akhirussannah dan wisuda ke-13 dimeriahkan dengan sajian kisah anak Islami oleh Kak Jendro dari Semarang. Anak-anak pun antusias mendengarkan untaian kisah yang diceritakan secara menarik dan atraktif oleh Kak Jendro.

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan

 

Simak video liputan akhirussanah dan Wisuda VIII RAIT Ilma Nafia Godong:

 



Mbah Bejo, Boyong Grobog, dan Sejarah Lokal Grobogan (1)

Mbah Bejo, Boyong Grobog, dan Sejarah Lokal Grobogan (1)

Mbah Bejo atau bernama asli Heru Hardono dikenal sebagai pemerhati sejarah Grobogan. [Foto: Wahyu K]

Saya mengenal dan kemudian banyak berinteraksi dengan Mbah Bejo saat saya menahkodai komunitas Grobogan Corner. Mbah Bejo termasuk salah satu yang kami daulat menjadi penasehat Grobogan Corner.

 

Grobogan Corner sendiri—biasa kami singkat GC—adalah sebuah komunitas yang basis awalnya adalah media sosial (facebook) yang kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah gerakan sosial di dunia nyata. GC resmi didirikan melalui sebuah pertemuan kopi darat pertama yang diadakan di Warung Makan Mbak Mun Godong (depan SPBU)  pada Jumat (21/11/2014).

 

Saat pertemuan itu, saya didaulat menjadi ketua komunitas dan Dr. Suwignyo Siswodiharjo, Sp.OG ditunjuk sebagai ketua dewan pembina. Salah satu tujuan GC sejak berdirinya adalah menggali dan ikut serta mengembangkan potensi lokal Grobogan di berbagai bidang, seperti kuliner, pariwisata, sejarah, UMKM, dan lain sebagainya. Beberapa program yang (pernah) digulirkan GC antara lain: susur wisata, visit UMKM, dan bincang inspirasi.

 


Di GC, saya banyak berinteraksi dengan Mbah Bejo karena memiliki minat yang sama terkait dengan sejarah lokal Grobogan. Mengenal Mbah Bejo—yang bernama asli Heru Hardono, adalah sesuatu yang amazing. Bagi saya, Mbah Bejo adalah ensikopedi hidup tentang sejarah lokal Grobogan.

 

Mbah Bejo fasih bila bercerita tentang pelbagai tempat dan bangunan bersejarah di Kabupaten Grobogan. Berinteraksi dengan Mbah Bejo, saya mendapat banyak asupan informasi tentang Grobogan di masa lalu. Mbah Bejo sendiri adalah seorang pensiunan pegawai negeri sipil, tinggal di Gubug. Berlatar seorang guru sekolah dasar.

 

Pengetahuannya yang melimpah terkait sejarah lokal Grobogan ternyata berawal dari hobinya ngluyur atau kluyuran ke berbagai tempat—terutama saat masih aktif dulu, di seantero wilayah Grobogan. Tak sekedar kluyuran, namun di balik itu Mbah Bejo banyak menggali dan dan mencatat data sejarah—yang kemudian dipadukan dengan bahan pustaka—baik dari buku, majalah, maupun artikel di internet. Kekayaan data itulah yang menjadikan Mbah Bejo kritis terhadap narasi sejarah.

Mbah Bejo (kiri) setelah menerima penghargaan sebagai pemerhati sejarah Grobogan pada Pekan Raya Gubug (PRG) Jumat (13/9/2019). [Foto: group Kluyuran]

Di media sosial Facebook, Mbah Bejo membuat group bernama Kluyuran sebagai tempat ia berbagi cerita sejarah lokal Grobogan—di samping juga membuat blog dengan link akses: heruhardono.blogspot.com (sudah non-aktif).  Postingan di blog ini banyak menjadi referensi atau rujukan para penulis saat menulis cerita lokal Grobogan.

 

Tak berlebihan bila kiprah itu mendapat apresiasi. Beberapa tahun silam, tepatnya pada Jumat (13/9/2019), Mbah Bejo memperoleh penghargaan sebagai seorang pemerhati sejarah Grobogan pada acara Pekan Raya Gubug (PRG). Penghargaan diserahkan oleh Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Sinoeng Nugroho Rachmad—yang ikut hadir pada acara tersebut.

 

Boyong Grobog

Salah satu yang mengejutkan saya adalah ketika Pemkab Grobogan menginisiasi gelaran tradisi yang dikaitkan dengan sejarah perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan—dari Grobogan ke Purwodadi—yang diberi nama Boyong Grobog. Bagi saya ketika itu, Boyong Grobog adalah gagasan genial sebagai daya tarik wisata baru sekaligus nguri-nguri sejarah.

 

Tapi tidak bagi Mbah Bejo. Suatu hari, ia tiba-tiba chat saya lewat inbox di Facebook. Di chat itu, intinya Mbah Bejo memberitahu saya bahwa gagasan Boyong Grobog adalah ahistoris. Ia tidak ada dalam perjalanan sejarah Grobogan.

 

Menurut Mbah Bejo, Boyong Grobog tidak ada dalam sejarah Grobogan—yang ada adalah perpindahan pusat pemerintahan. Nomenklatur “Boyong Grobog” karena itu tidak tepat dan ahistoris. Bila mengacu pada sejarah, yang tepat menurut Mbah Bejo, adalah “Boyong Projo”—karena yang terjadi adalah ‘sekadar’ perpindahan pusat pemerintahan, bukan nama kota yang dipindah.

 

Di sisi lain, asal-usul Grobogan sendiri, menurut Mbah Bejo, masih debatable alias belum pasti.  Apakah berasal dari Grobog berisikan senjata ataukah tempat menaruh binatang buruan yang tertangkap. Masih perlu diriset dan didiskusikan (lagi).

 

Apa yang disampaikan Mbah Bejo itu jujur mengagetkan saya sekaligus memantik hasrat saya untuk melakukan pembacaan secara kritis terkait sejarah Grobogan. Dari situlah kemudian kami terlibat diskusi cukup intens dan memutuskan untuk mempublikasi hasil diskusi kami.

Berita yang menyajikan statement Mbah Bejo tentang Boyong Grobog yang dimuat di Suara Merdeka, edisi Senin, (6/4/2015).

Koran akhirnya yang kami pilih, selain tentu media sosial Facebook sebagai basis awal gerakan kami di Grobogan Corner. Akhirnya, Suara Merdeka edisi  Senin (6/4/2015) memuat statement Mbah Bejo terkait Boyong Grobog dengan judul “Tradisi Perlu Dikaji Ulang: Tak Ada Boyong Grobog dalam Sejarah.”

 

Sepuluh hari kemudian, artikel opini saya terkait kritisisasi terhadap Boyong Grobog dimuat Suara Merdeka, edisi Kamis (16/4/2015) dengan judul “Landasan Boyong Grobog”—karena bagi kami, Boyong Grobog tidak memiliki pijakan sejarah yang kuat.

 

Tapi semua itu hanya angin lalu. Gelaran Boyong Grobog tetap berlangsung setiap tahun, hingga kini, tanpa edukasi. Banyak yang salah paham bahwa kritik kami terhadap gelaran Boyong Grobog sebagai sebuah penafian atau penolakan. Tidak. Sama sekali tidak.

 

Bagi saya, dan juga bagi Mbah Bejo, Boyong Grobog tetaplah ide genial dari sisi atraksi wisata--yang memang terbukti sangat magnetis menyedot masyarakat untuk menyaksikan. Namun, ide genial itu, gagasan keren itu, gagasan top abis itu, gagasan jos gandos itu, harus diikuti sosialisasi dan edukasi sejarah yang benar, agar masyarakat Grobogan, terutama generasi mudanya, tidak mendapatkan asupan sejarah yang distorsif. (bersambung).

 

Simak perbincangan hangat saya tentang Boyong Grobog dan Asal-usul Sejarah Grobogan dengan Mbah Bejo di Rumah Pustaka BMA yang saya kelola:

 


 
*Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist & Peminat Sejarah Lokal

Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Kaver buku "Sejarah Lengkap Penyabaran Islam" karya Prof. Dr. Thomas W. Arnold

 

Data buku:

Judul: Sejarah Lengkap Penyebaran Islam

Penulis: Prof. Dr. Thomas W. Arnold

Penerbit: Ircisod, Yogyakarta

Cetakan ke-1: Juli 2019

Tebal: 672 hlm

ISBN: 978-602-7696-90-7

 

Islam merupakan salah satu agama dakwah (missionary) terbesar di dunia bersama dengan Kristen dan Buddha. Sejarah penyebaran Islam menempuh perjalanan yang sangat panjang hingga mencapai jumlah pemeluk yang besar di seluruh belahan dunia seperti sekarang ini.

 

Max Muller, seorang filsuf dari Jerman yang juga pendiri studi ilmu agama, mendefinisikan istilah agama misioner sebagai “agama yag memiliki ajaran mendakwahkan kebenaran disertai meningkatnya upaya penarikan orang lain yang masih ingkar oleh pendiri atau para pengganti dari pendiri agama yang bersangkutan sampai titik upaya tersebut dianggap menjadi kewajiban suci.”

 

Masih menurut Muller, “Misionari menjadi semangat kebenaran yang menyala dalam hati para penganut dan tidak bisa ditinggalkan, bahkan ditunjukkan dalam pemikiran, kata-kata, dan perbuatan, yang tidak akan puas sampai agama tersebut bisa merasuk dalam setiap jiwa manusia hingga hal yang diyakini sebagai kebenaran diterima sebagai kebenaran pula oleh seluruh manusia.”

 

Semangat dakwah semacam itulah yang menjadi pemacu semangat kaum muslimin untuk senantiasa menyebarkan ajaran Islam ke seluruh umat manusia di setiap benua. Data tahun 2015 memperlihatkan, dari  7,3 miliar penduduk dunia, sekitar sepertiganya memeluk Kristen (31%). Umat Islam menduduki proporsi terbesar kedua dengan 1,8 miliar atau setara dengan 24% dari populasi global. Jumlah penganut umat Islam yang tersebar di seluruh dunia itu merupakan bukti kerja panjang dalam kegiatan dakwah Islam selama berabad-abad.    

 

Buku berjudul Sejarah Lengkap Penyebaran Islam ini merupakan karya seorang orientalis Islam asal Inggris yang juga seorang Profesor Studi Arabia di University of London bernama Sir Thomas Walker Arnold. Sebagai sebuah buku sejarah Islam, buku ini menyuguhkan kajian yang sangat menarik seputar penyebaran Islam, sejak awal agama Islam didakwahkan oleh Nabi Muhamad Saw di Mekah dan Madinah, hingga menyebar ke berbagai negara di dunia.

 


 

Penyebaran ajaran Islam demikian pesat menjamah hampir di setiap penjuru dunia dengan beragam sebab dan aneka latar belakang sosial, politik, serta agama. Namun, dari berbagai sebab yang ada, faktor terbesar dari persebaran ajaran Islam yang kian tak terbantahkan adalah munculnya tenaga-tenaga misionaris muslim. Mereka merelakan diri menjadi dai untuk mengislamkan orang-orang kafir dengan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan utama mereka.  

 

Hebatnya, menurut Thomas W. Arnold dalam buku ini, dakwah misioner Islam tidak pernah dilakukan dengan penganiayaan yang penuh kekejaman atau dilandasi kemarahan sikap fanatik. (hlm. 19). Metode dakwah damai hanya akan ditinggalkan ketika lingkungan politik memaksa mereka untuk menggunakan kekuatan dan kekerasan atau cara-cara damai tidak mungkin ditempuh dan jalur politik tak bisa diusahakan lagi. (hlm. 20).

 

Prinsip Dakwah

Buku ini oleh Thomas W. Arnold dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana idealisme ini muncul dalam sejarah dan bagaimana prinsip-prinsip kegiatan dakwah dipraktikkan di lapangan oleh para eksponen Islam. Di luar tujuan ini, buku ini tidak bertujuan mengungkap contoh-contoh kekuatan pengislaman yang mungkin ditemukan di sana-sini dari lembaran sejarah umat Islam. (hlm. 25).

 

Seperti contoh ungkapan kekejaman Khalifah Marwan, seorang khalifah terakhir Bani Umayyah, “Siapa pun penduduk Mesir yang tidak mau memeluk agamaku dan beribadah sebagaimana aku beribadah dan mengikuti ajaranku, maka aku akan membunuh dan menyalibnya.” Sebaliknya, Khalifah al-Mutawakkil, Khalifah al-Hakim, dan Sultan Tippu dianggap sebagai ciri khas misionaris Islam seperti halnya para dai semisal Sunan Maulana Malik Ibrahim di tanah Jawa, Khwaja Mu’inuddin Chisti di India dan dai-dai lain yang tak terhitung jumlahnya yang telah berhasil melakukan pengislaman dengan cara damai. (hlm. 27).

 

Buku ini terdiri atas 13 bahasan utama. Di bahasan awal, Thomas W. Arnold dengan sangat baik menyuguhkan ulasan tentang seputar kehidupan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang dai. Perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw yang panjang telah melewati liku-liku dan tantangan hebat, namun ia tak gentar meski menghadapi beragam intimidasi dan upaya kriminalisasi.

 

Saat di awal-awal dakwah, orang-orang Quraisy mengultimatum agar ia menghentikan dakwahnya dan mengancam akan melancarkan lebih banyak lagi siksaan dan kekerasan kepadanya bila ia tidak mau berhenti berdakwah. Namun dengan gagah ia menjawab:

 

“Sekalipun matahari diturunkan di atas tangan kananku dan bulan dikirimkan di atas tangan kiriku sebagai pilihan pengganti agar aku meninggalkan dakwahku atau binasa dalam rangka menjalani misi Tuhan, aku tidak akan pernah mencampakkan ajaran ini sampai Tuhan menyuruhku berhenti.” (hlm. 35).

 


Dengan demikian, dari sejak semula, Islam mengemban label sebagai agama misioner (agama dakwah) yang mengejar kemenangan hati manusia untuk mengislamkan serta menyerukan orang-orang agar mengikuti persaudaraan seiman. Dan sebagaimana permulaannya, karakter misioner ini berlanjut hingga sekarang ini. (hlm. 84).

 

Dari karakter misioner itulah, Islam menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Dan di bab-bab selanjutnya, Thomas W. Arnold menyuguhkan ulasan yang memikat terkait sejarah penyebaran Islam tersebut, sejak penyebaran Islam di negara-negara Asia Barat, Afrika, Spanyol, Eropa, Asia Tengah, Mongol dan Tartar, India, Tiongkok, hingga di Kepulauan Melayu.

 

Dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna, serta didukung oleh data-data yang kredibel, buku setebal 672 halaman dan bersampul keras (hard cover) ini layak menjadi salah satu bacaan dan referensi terkait sejarah penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia dari kaca mata seorang orientalis. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan.Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 3 Novermber 2019.

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Eko Supa, seniman lukis karikatur dari Grobogan. [Foto: Wahyu K]

Tubuhnya gemuk. Kalau bicara pelan. Saya bertemu dengannya saat menghadiri kegiatan Nggambar Bareng Palipuro di Alun-alun Purwodadi akhir bulan Mei 2022 lalu. Sembari menggoreskan kuas ke media gambar di depannya, ia meladeni saya berbincang.

 

Nama lengkapnya Eko Suparyanto, namun di panggung lukis yang digelutinya, ia populer dengan nama Eko Supa. Pria kelahiran Grobogan, 2 April 1982 ini memang dikenal sebagai seorang pelukis, spesialis karikatur. Bukan sekelas pelukis temeh-temeh, tapi lukisannya sudah menjelajah dari pameran-pameran berkelas, lokal, regional, nasional, hingga internasional.  

 

Minatnya di bidang seni lukis sudah sejak  dari kecil. Tapi mulai menekuni dunia seni lukis secara profesional sejal lulus dari SMA  PGRI Purwodadi. Ia bertolak ke Jogjakarta untuk belajar seni lukis secara lebih intens.

 


Di Kota Gudeg itu, ia belajar seni lukis dari para pelaku seni rupa di sepanjang Jalan Malioboro. Jogjakarta rupanya membuatnya betah berlama-lama menimba ilmu dan menekuni dunia seni lukis. Setidaknya tercatat tujuh tahun ia tinggal di Jogjakarta sejak tahun 2002 hingga 2009.

 

Di Jogjakarta itulah kemampuan seni lukisnya terasah dengan baik. Ia ikut pameran demi pameran dan percaya diri menjual lukisannya. Lukisan pertamanya berupa gambar harimau terjual Rp 750 ribu.

 

Eko Supa pun semakin mantap menapaki profesi sebagai seorang seniman lukis. Berbagai aliran seni lukis pernah ia pelajari dan tapaki. Mulai dari aliran realis, naturalis, ekspresif, impresif, dan lain-lain. Hingga kemudian ia memantapkan diri cenderung memilih seni lukis gaya karikatur—yaitu seni lukis yang menggambarkan suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut.

 

Pameran Tunggal

Setelah aktif mengikuti sejumlah pameran, Eko Supa menjadi lebih percaya diri, ia pun menghelat pameran tunggal. Pameran tunggal pertamanya diadakan di Galeri Hadiprana Jakarta tahun 2009 dengan mengusung tema “Orde Batik” yang menggambarkan tokoh-tokoh internasional dalam busana batik. 

 

Pameran tunggal itu nampaknya menjadi titik balik bagi Eko Supa untuk menunjukkan reputasinya sebagai seorang seniman lukis berkelas. Tahun 2010, lukisannya menjadi finalis Jakarta Art Awards dan Indonesia Art Awards. Tahun-tahun berikutnya secara beruntun, yaitu tahun 2011, 2012, dan 2015, lukisannya menjadi finalis UOB Painting of the Year Indonesia, menyisihkan ribuan lukisan yang dikompetisikan.

 

Lukisan bertajuk "Spirit Selendang" karya Eko Supa

Tahun 2018, lukisannya bertajuk “Spirit Selendang” termasuk yang dipamerkan dalam Pameran Temporer Museum Basoeki Abdullah bertema “Spirit Potret”. Pada pameran itu, Eko Supa bersama sekitar 30 seniman lukis se-Indonesia—yang lukisannya terpilih, diminta untuk melukis  karya maupun karakter Basoeki Abdullah dengan eksplorasi sesuai aliran dan imajinasi masing-masing.

 

Saat itu Eko Supa membuat lukisan karikatur yang menggambarkan Basoeki Abdullah masuk ke dalam lukisan “Jaka Tarub”—sebuah lukisan yang pernah dibuat oleh Basoeki Abdullah berdasarkan cerita rakyat tentang Jaka Tarub dan 7 Bidadari. 

 

Dalam lukisannya, Eko Supa menggambarkan karakter Basoeki Abdullah yang mengambil selendang bidadari, sehingga karya lukisannya itu diberi tajuk “Spirit Selendang” dan terpajang di katalog galeri tersebut. 

 

Satu Lukisannya Terjual Rp 35 Juta

Setelah malang melintang di Jogjakarta, Eko Supa harus pulang ke kampung halamannya di Kota Purwodadi. Ia pulang karena harus menunggui ibunya. Namun, hal itu tak membuatnya lantas vakum dari dunia lukis. Ia tetap produktif. Hingga saat ini, Eko Supa masih terus aktif sebagai pelukis bebas yang mengolah karakter karikatural tokoh-tokoh dunia.

 

Apalagi dunia seni lukis boleh dibilang sudah menyatu dalam hidup dan kehidupannya. Seni lukis menjadi mata pencahariannya. Sepanjang karir sebagai seniman lukis, Eko Supa mengaku, satu lukisannya pernah terjual hingga seharga Rp 35 juta.

 

Menurutnya, itu belum seberapa dibanding pelukis-pelukis lainnya yang sudah lebih tersohor yang bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk satu buah lukisan. Namun ia tetap bersyukur dengan apa yang telah dicapainya hingga seperti sekarang.

 

Bulan Desember 2018, ia bersama dua seniman lukis Purwodadi lainnya, yaitu Didik Budiarto dan Andi Kebo, membidani lahirnya sebuah komunitas seniman lukis Purwodadi bernama Palipuro yang merupakan kepanjangan dari “Perkumpulan Pelukis Purwodadi Grobogan”. 

 

Ia berharap, lahirnya komunitas ini menjadikan seniman lukis Grobogan lebih memiliki pengaruh di kancah seni lukis nasional maupun internasional, serta memiliki kontribusi bagi citra positif daerah.

 

Simak video perbincangan saya dengan Eko Supa di rumahnya di daerah Kebondalem, Purwodadi, Grobogan:

 


 *Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist