√ Meneladani Keagungan Akhlak Nabi Muhammad Saw - Kangasti ID

Meneladani Keagungan Akhlak Nabi Muhammad Saw

Resensi buku "Syarah Syamail, Mengenal Pribadi dan Akhlak Rasulullah Saw" dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 10 November 2019.

Data Buku:

Judul               : Syarah Syamail, Mengenal Pribadi dan Akhlak Rasulullah Saw

Penulis             : Imam Tirmidzi

Pensyarah        : Syaikh Abdurazaq bin Abdil Muhsin Al-Badr

Penerbit           : Al-Qowam

Cetakan ke-1   : Agustus 2019

Tebal               : viii + 592 hlm

ISBN               : 978-602-8417-90-7

 

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad Saw tidak hanya seorang nabi dan rasul, akan tetapi juga inspirator, motivator, dan role model (teladan) terbaik. Seluruh tutur kata dan perilakunya dijadikan sebagai acuan di semua sendi kehidupan.

 

Bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw, kiranya penting dijadikan oleh umat Islam sebagai momentum untuk mengevaluasi diri sudah sejauh mana mengenalnya. Karena tidak mungkin bisa meneladaninya, kecuali dengan mengetahui secara baik sejarah, perilaku, karakter, akhlak, dan sifatnya yang agung dan mulia.

 

Buku Syarah Syamail, Mengenal Pribadi dan Akhlak Rasulullah Saw adalah sebuah buku yang sangat menarik dan istimewa bagi siapapun yang ingin mengenal pribadi dan akhlak Nabi Muhammad Saw dari sumber yang otentik, yaitu hadis Nabi Saw. Di dalam buku ini, tidak hanya diungkap deskripsi fisik Nabi Muhammad Saw serta kebiasaan-kebiasaanya, tapi juga keagungan pribadi dan akhlaknya.

 

Buku klasik ini merupakan salah satu karya magnun opus Imam Tirmidzi atau bernama lengkap Imam Abu Isa Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, seorang ulama ahli hadis yang wafat pada tahun 279 H. Ada 58 bab yang terdiri dari 415 hadis di buku ini. Dan pada setiap hadis, diberi syarah (penjelasan) oleh Syaikh Abdurazaq bin Abdil Muhsin al-Badr, sehingga pembaca bisa lebih mudah mencerna dan memahami setiap informasi dari hadis-hadis yang ada dengan baik. 

 

Dengan membaca buku ini, kita bisa lebih mengenal sosok Nabi Muhammad Saw secara lebih detil dan komprehensif. Dari segi postur fisik, ada banyak hadis yang diketengahkan, yang hadis satu dengan hadis lainnya saling melengkapi. Di antaranya sebuah hadis yang menyebutkan “Rasulullah Saw berpostur tubuh proporsional. Tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek. Tubuh beliau bagus dan menawan. Rambut beliau tidak keriting, namun tidak lurus kaku menjuntai dan berwarna gelap kecoklatan. Jika beliau berjalan, beliau berjalan dengan cepat.” (halaman 20).

 

Buku ini juga menjelaskan secara spesifik rambut Nabi Muhammad Saw, bagaimana Nabi merawat rambutnya, menyemirnya, bahkan jumlah uban yang ada di rambutnya. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Rasulullah Saw wafat, sedang di rambut dan jenggotnya hanya terdapat sekitar dua puluh rambut beruban”. (halaman 84).

 

Selain deskripsi fisik, buku ini juga mengulas pakaian Nabi Saw, sandal yang dipakai, cincin dan cara Nabi memakainya, pedang dan baju besi Nabi, serban dan sarung, hingga kain penyeka kepala Nabi. Gaya berjalan, gaya duduk, gaya bicara, senyum, dan canda tawa Nabi juga tak luput dari pembahasan.

 

Gaya hidup Nabi terkait pola tidur, makanan dan minuman serta cara Nabi makan dan minum juga menarik disimak. Secara spesifik juga dibahas lauk pauk dan buah favorit Nabi Muhammad Saw. Sebuah hadis, misalnya, menyebutkan, “Nabi Saw mengonsumsi melon dan kurma muda.”

 

Syaikh Abdurazaq bin Abdil Muhsin Al-Badr dalam syarah-nya atas hadis ini menyatakan, efek panas yang ditimbulkan oleh kurma muda dinetralkan dengan efek dingin yang ada pada melon. (halaman 276). Selain kurma muda dan melon, an-Nabidz adalah jenis minuman yang biasa diminum Nabi.

 

An-Nabidz adalah kurma atau anggur yang direndam dalam air pada malam hari. Sehingga keesokan harinya, air rendaman tersebut terasa manis karena tercampur dengan sari buah yang direndam di dalamnya. (halaman 274).  An-Nabidz inilah yang saat ini diadopsi dalam kebiasaan membuat infused water, yaitu air putih dalam wadah tertutup yang diberi potongan buah-buahan segar seperti apel, strowberi, mangga, dan lain-lain, juga potongan rempah-rempah seperti jahe, kunyit, kencur, dan sebagainya, yang dimafaatkan untuk tujuan kesehatan.    

 


Pembahasan lain yang tak kalah penting dalam buku ini adalah soal ibadah dan akhlak Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang sangat bersungguh-sungguh di dalam beribadah. Juga memiliki akhlak yang mulia. Di antara kemuliaan akhlah Nabi adalah dalam hal ketawadhuannya. Ketawadhuan atau sifat rendah hati itu misalnya tercermin dalam hal menghadiri jamuan yang tidak pilih-pilih siapa yang mengundangnya. Sebuah hadis menyebutkan, “Rasulullah Saw biasa menjenguk orang sakit dan bertakziyah. Beliau Saw juga biasa menunggangi keledai dan menghadiri undangan dari seorang budak sahaya...”. (halaman 449).   

 

Keluhuran dan keagungan akhlak Nabi juga tercermin saat ia menghadapi orang yang bersikap keras dan tidak sopan saat mendatangi majelisnya. Diriwayatkan dalam sebuah hadis, ketika Rasulullah Saw menemui dan berbincang dengan orang yang keras dan tidak sopan, beliau tetap bersikap ramah dan lemah lembut. (halaman 473).

 

Menurut Syaikh Abdurazaq bin Abdil Muhsin al-Badr dalam syarah-nya atas hadis ini, hal itu merupakan cermin keluhuran dan keutamaan akhlak beliau yang dapat menarik hati yang sesat, jiwa yang menyimpang, dan menjadikan dakwah beliau dapat diterima oleh masyarakat secara luas. (halaman 474).

 

Sebuah hadis panjang menyebutkan testimoni dari seorang sahabat terkait keagungan akhlak Nabi. Disebutkan, “Rasulullah adalah seorang yang selalu berwajah ramah, berakhlak baik, tawadhu’, tidak bengis dan kasar, tidak suka berteriak-teriak, tidak berlaku keji, tidak mencela dan mencaci, serta tidak kikir.”

 

“Beliau tidak suka mencela sesuatu yang tidak beliau sukai. Beliau tidak pernah menolak mereka yang meminta pertolongan dan bantuannya. Beliau selalu menghindarkan diri dari tiga hal: debat, memperbanyak harta dunia, dan sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.”

 

“Dalam berinteraksi dengan masyarakat, beliau Saw meninggalkan tiga hal ini, yakni: mencela orang lain, mempermalukan orang lain, dan mencari-cari kesalahan orang lain. Beliau Saw tidak pernah berbicara tentang sesuatu hal, kecuali yang dapat mendatangkan nilai-nilai kebaikan dan pahala.” (halaman 482).

 

Hadis ini masih cukup panjang lagi, juga hadits yang menceritakan keagungan akhlak nabi masih banyak lagi yang diangkat di buku ini. Namun kutipan di atas kiranya cukup untuk menggambarkan keluhuran akhlak Nabi Muhammad Saw yang begitu memukau.

 

Buku tebal dan bersampul keras (hard cover) ini kiranya layak ada di rumah-rumah keluarga muslim Indonesia agar kecintaan terhadap Nabi Muhammad Saw tidak sekedar di bibir saja, tapi terimplementasikan dalam realitas kehidupan sehari-hari dengan cara meneladani keagungan dan keluhuran akhlaknya.

 

*) Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan.

Get notifications from this blog