√ Sarasehan Penggiat Sosial Grobogan, Mendorong Program Social Empowerment - Kangasti ID

Sarasehan Penggiat Sosial Grobogan, Mendorong Program Social Empowerment

Memandu sarasehan penggiat sosial Grobogan di acara Gebyar Muharram 1444 H.

Sabtu (30/7/2022), saya menghadiri acara Satunan Anak Yatim dalam rangka Gebyar Muharram 1444 H yang diselenggarakan oleh BAZNAS Kabupaten Grobogan dan Forum Komunikasi Penggiat Sosial Grobogan (FKPSG) di Pendopo Kabupaten Grobogan.  Acara dihadiri Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni, Ketua BAZNAS Kabupaten Grobogan Ari Widodo, dan Ketua FKPSG Ipda Supardi, SH.

 

Dari Ketua Panitia Gebyar Muharram 1444 H Tomi Faisal,  saya mendapatkan informasi ada 300 anak yatim yang disantuni dalam acara tersebut. Dari 300 anak tersebut, hanya 100 anak yang diundang ke pendopo. Selebihnya, paket santunan diserahkan ke rumah masing-masing. Dan dari 100 anak yatim yang hadir di pendopo, 10 di antaranya mendapatkan penyerahan langsung paket santunan secara simbolik oleh Bupati Grobogan, Hj. Sri Sumarni.  

 

Setelah acara santunan usai, 100 anak yatim yang diundang ke pendopo mengikuti outbound yang dipandu oleh Tim Dobaba (Dolanan Bareng-bareng) dan tim dari komunitas Life is Right. Outbound di halaman samping pendopo.

 

Sementara anak-anak mengikuti outbound, perwakilan dari komunitas dan lembaga sosial yang tergabung dalam FKPSG menghelat sarasehan dalam rangka menyamakan persepsi dan konsolidasi guna meneguhkan sinergi untuk program-program sosial selanjutnya. Saya didapuk memandu sarasehan.  

 

Dari sarasehan itulah saya jadi lebih tahu bahwa jumlah komunitas dan lembaga sosial—saya menyebutnya sebagai komunitas dan lembaga filantropi—di Kabupaten Grobogan sangat banyak. Jumlahnya mencapai puluhan. Antara lain yang tergabung di FKPSG: Jumat Bersedekah (JB), LazisNU, Yayasan Khazanah Indahnya Sedekah (YKIS), Yayasan Bina Insan Murni (Binsani), Rumah makan Rakyat (RMR) Grobogan, Yayasan Santunan Sedekah Jariyah (SSJ), Baitulmaal FKAM, Jamiyyah Pedagang Ngalap Berkah (JPNB), Panglima Sedekah Grobogan (PSG), Banjarsari Yatim Manajement (Bayam), Yayasan Gangsar Ing Ati Grobogan, Driver Grobogan Ojek (DGO), SiJum (Nasi Jumat), Life is Right, dan masih banyak lagi.

 

Itu baru yang tergabung di FKPSG. Masih banyak yang belum tergabung seperti Lazis Jateng, LazisMu, Baitulmaal Hidayatullah (BMH), dan Yayasan Pencinta Sedekah Grobogan (PSG), serta sejumlah komunitas lainnya yang memiliki sayap filantropi. Jumlah komunitas dan lembaga filantropi di Kabupaten Grobogan sebanyak itu, menurut Ketua BAZNAS Grobogan Ari Widodo, termasuk yang terbanyak setidaknya di Jawa Tengah.

 

Berfoto bersama Bupati Grobogan Hj. Sri Sumarni dan para penggiat sosial Grobogan di acara Gebyar Muharram 1444 H di pendopo Kabupaten Grobogan, Sabtu, 30/7/2022.

Sependek yang saya tahu, fenomena itu baru marak sekira lima atau empat tahun terakhir. Bila ditilik dari maraknya lembaga filantropi nasional di Indonesia, baru mulai marak  awal tahun 2000-an, meski beberapa lembaga filantropi berdiri sebelum tahun 2000. Antara lain: Dompet Dhuafa (1994), DSUQ—yang kemudian berubah nama menjadi Rumah Zakat (1998), DPU DT—sekarang beralih nama menjadi DT Peduli (1999), Solopeduli (1999), Pos Keadilan Peduli Umat—Human Initiative (1999), LaZis Jateng—sebelumnya bernama Lembaga Amil Zakat Al-Ihsan Surakarta [LaZis] (2000), dan ACT (2005).    

 

Dari sekian lembaga filantropi itu, yang ikut “berkiprah” (baca: punya perwakilan) di Grobogan tahun 2000-an—sejauh yang saya tahu—hanya Solopeduli dan Lazis Jateng. Praktis, Grobogan ketika itu belum begitu marak pergerakan filantropis. Pergerakan filantopis di Grobogan mulai semarak dengan mulai masuknya lembaga filantropi nasional dan regional yang membuka perwakilan di Grobogan seperti Baitulmaal FKAM, Baitulmal Hidayatullah (BMH), LazisNu (NU Care), One Care, dan LazisMu. Lalu muncul komunitas Pencinta Sedekah Grobogan (PSG) sekira tahun 2016 yang boleh saya sebut sebagai pelopor “komunitas sedekah” (bila tidak salah) di Kabupaten Grobogan.

 

Dari komunitas PSG itulah—sejauh pengamatan saya—lalu “menginspirasi” munculnya komunitas serupa, antara lain: Yayasan Khazanah Indahnya Sedekah (YKIS), Yayasan Santunan Sedekah Jariyah (SSJ), Yayasan Pencinta Amal Sedekah (PAS), Panglima Sedekah Grobogan, dan lain sebagainya. Semakin marak lagi dengan berdirinya Jumat Bersedekah (JB), Sedekah Jumat (DeJum), Rumah Makan Rakyat (RMR), Yayasan Bina Insan Murni (Binsani), dan lain-lainnya. 

 

Kita tentu optimis dan bersyukur bahwa berdirinya sejumlah komunitas dan lembaga filantropi di Kabupaten Grobogan itu memiliki makna yang positif. Dalam arti, semakin banyak eksponen yang ambil bagian dalam kepedulian untuk “mengatasi” sejumlah problematika sosial di Kabupaten Grobogan.

 

Seperti kita ketahui, Grobogan masih “dihantui” sejumlah problem sosial seperti angka nikah dini yang tinggi, angka perceraian yang tinggi, angka kematian ibu dan bayi baru lahir yang tinggi, jumlah kasus HIV/AIDS yang tinggi, dan sejumlah problematika sosial lainnya.

 

Saya berharap, ada di antara komunitas dan lembaga filantropi di Kabupaten Grobogan yang ikut “menggarap” wilayah itu—yang sejujurnya memang “tidak seksi” bila dibanding (misalnya) dengan program sedekah nasi setiap Jumat atau santunan anak yatim.

 

Implementasi programnya bisa dalam bentuk beasiswa pendidikan bagi siswa berprestasi atau siswa yatim atau tidak mampu—akan lebih baik bila terpadu dengan pembinaan intensif dalam panti asuhan atau pondok pesantren, kursus pra-nikah, penyuluhan HIV-AIDS (bekerja sama dengan ormas), pelatihan berbagai life skill dan kewirausahaan, pendampingan usaha, pemberian modal bergulir, dan lain sebagainya. Progrem bisa di-create sedemikian rupa agar menarik donatur dan kalangan aghniya’.

 

Karena hemat saya, berbagai problematika sosial itu akarnya terletak pada aspek moral dan ekonomi.  Solusi keduanya menurut saya antara lain dengan penguatan pendidikan (karakter, religiusitas) dan entrepreneurship. Program rutin seperti sedekah nasi kotak tiap Jumat, santunan anak yatim, bantuan sosial untuk dhuafa, dan semisalnya tetap berjalan, namun program-program "empowerment" juga digarap. Biar lebih powerful, seluruh lembaga filantropi—terutama yang tergabung di FKPSG, bisa bersinergi dan bahu-membahu untuk mengeksekusinya. Tidak musti pada semua isu, namun bisa menggarap satu isu yang menjadi konsens bersama. 

 

Insya Allah dengan seperti itu, kiprah lembaga filantropi di kabupaten ini akan semakin luas kebermanfaatannya di masa-masa yang akan datang. Demikian, sekedar catatan, barangkali bermanfaat. Mohon maaf bila ada kata atau kalimat yang tidak berkenan. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, penulis buku, citizen journalist, pernah menjadi pengurus bidang program Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) cabang Grobogan dan Sekretaris Forum Masyarakat Madani Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMM KIA) Kabupaten Grobogan.  

Dapatkan notifikasi tulisan terbaru dari blog ini

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.