√ Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis - Kangasti ID

Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Kaver buku "Sejarah Lengkap Penyabaran Islam" karya Prof. Dr. Thomas W. Arnold

 

Data buku:

Judul: Sejarah Lengkap Penyebaran Islam

Penulis: Prof. Dr. Thomas W. Arnold

Penerbit: Ircisod, Yogyakarta

Cetakan ke-1: Juli 2019

Tebal: 672 hlm

ISBN: 978-602-7696-90-7

 

Islam merupakan salah satu agama dakwah (missionary) terbesar di dunia bersama dengan Kristen dan Buddha. Sejarah penyebaran Islam menempuh perjalanan yang sangat panjang hingga mencapai jumlah pemeluk yang besar di seluruh belahan dunia seperti sekarang ini.

 

Max Muller, seorang filsuf dari Jerman yang juga pendiri studi ilmu agama, mendefinisikan istilah agama misioner sebagai “agama yag memiliki ajaran mendakwahkan kebenaran disertai meningkatnya upaya penarikan orang lain yang masih ingkar oleh pendiri atau para pengganti dari pendiri agama yang bersangkutan sampai titik upaya tersebut dianggap menjadi kewajiban suci.”

 

Masih menurut Muller, “Misionari menjadi semangat kebenaran yang menyala dalam hati para penganut dan tidak bisa ditinggalkan, bahkan ditunjukkan dalam pemikiran, kata-kata, dan perbuatan, yang tidak akan puas sampai agama tersebut bisa merasuk dalam setiap jiwa manusia hingga hal yang diyakini sebagai kebenaran diterima sebagai kebenaran pula oleh seluruh manusia.”

 

Semangat dakwah semacam itulah yang menjadi pemacu semangat kaum muslimin untuk senantiasa menyebarkan ajaran Islam ke seluruh umat manusia di setiap benua. Data tahun 2015 memperlihatkan, dari  7,3 miliar penduduk dunia, sekitar sepertiganya memeluk Kristen (31%). Umat Islam menduduki proporsi terbesar kedua dengan 1,8 miliar atau setara dengan 24% dari populasi global. Jumlah penganut umat Islam yang tersebar di seluruh dunia itu merupakan bukti kerja panjang dalam kegiatan dakwah Islam selama berabad-abad.    

 

Buku berjudul Sejarah Lengkap Penyebaran Islam ini merupakan karya seorang orientalis Islam asal Inggris yang juga seorang Profesor Studi Arabia di University of London bernama Sir Thomas Walker Arnold. Sebagai sebuah buku sejarah Islam, buku ini menyuguhkan kajian yang sangat menarik seputar penyebaran Islam, sejak awal agama Islam didakwahkan oleh Nabi Muhamad Saw di Mekah dan Madinah, hingga menyebar ke berbagai negara di dunia.

 


 

Penyebaran ajaran Islam demikian pesat menjamah hampir di setiap penjuru dunia dengan beragam sebab dan aneka latar belakang sosial, politik, serta agama. Namun, dari berbagai sebab yang ada, faktor terbesar dari persebaran ajaran Islam yang kian tak terbantahkan adalah munculnya tenaga-tenaga misionaris muslim. Mereka merelakan diri menjadi dai untuk mengislamkan orang-orang kafir dengan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan utama mereka.  

 

Hebatnya, menurut Thomas W. Arnold dalam buku ini, dakwah misioner Islam tidak pernah dilakukan dengan penganiayaan yang penuh kekejaman atau dilandasi kemarahan sikap fanatik. (hlm. 19). Metode dakwah damai hanya akan ditinggalkan ketika lingkungan politik memaksa mereka untuk menggunakan kekuatan dan kekerasan atau cara-cara damai tidak mungkin ditempuh dan jalur politik tak bisa diusahakan lagi. (hlm. 20).

 

Prinsip Dakwah

Buku ini oleh Thomas W. Arnold dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana idealisme ini muncul dalam sejarah dan bagaimana prinsip-prinsip kegiatan dakwah dipraktikkan di lapangan oleh para eksponen Islam. Di luar tujuan ini, buku ini tidak bertujuan mengungkap contoh-contoh kekuatan pengislaman yang mungkin ditemukan di sana-sini dari lembaran sejarah umat Islam. (hlm. 25).

 

Seperti contoh ungkapan kekejaman Khalifah Marwan, seorang khalifah terakhir Bani Umayyah, “Siapa pun penduduk Mesir yang tidak mau memeluk agamaku dan beribadah sebagaimana aku beribadah dan mengikuti ajaranku, maka aku akan membunuh dan menyalibnya.” Sebaliknya, Khalifah al-Mutawakkil, Khalifah al-Hakim, dan Sultan Tippu dianggap sebagai ciri khas misionaris Islam seperti halnya para dai semisal Sunan Maulana Malik Ibrahim di tanah Jawa, Khwaja Mu’inuddin Chisti di India dan dai-dai lain yang tak terhitung jumlahnya yang telah berhasil melakukan pengislaman dengan cara damai. (hlm. 27).

 

Buku ini terdiri atas 13 bahasan utama. Di bahasan awal, Thomas W. Arnold dengan sangat baik menyuguhkan ulasan tentang seputar kehidupan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang dai. Perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw yang panjang telah melewati liku-liku dan tantangan hebat, namun ia tak gentar meski menghadapi beragam intimidasi dan upaya kriminalisasi.

 

Saat di awal-awal dakwah, orang-orang Quraisy mengultimatum agar ia menghentikan dakwahnya dan mengancam akan melancarkan lebih banyak lagi siksaan dan kekerasan kepadanya bila ia tidak mau berhenti berdakwah. Namun dengan gagah ia menjawab:

 

“Sekalipun matahari diturunkan di atas tangan kananku dan bulan dikirimkan di atas tangan kiriku sebagai pilihan pengganti agar aku meninggalkan dakwahku atau binasa dalam rangka menjalani misi Tuhan, aku tidak akan pernah mencampakkan ajaran ini sampai Tuhan menyuruhku berhenti.” (hlm. 35).

 


Dengan demikian, dari sejak semula, Islam mengemban label sebagai agama misioner (agama dakwah) yang mengejar kemenangan hati manusia untuk mengislamkan serta menyerukan orang-orang agar mengikuti persaudaraan seiman. Dan sebagaimana permulaannya, karakter misioner ini berlanjut hingga sekarang ini. (hlm. 84).

 

Dari karakter misioner itulah, Islam menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Dan di bab-bab selanjutnya, Thomas W. Arnold menyuguhkan ulasan yang memikat terkait sejarah penyebaran Islam tersebut, sejak penyebaran Islam di negara-negara Asia Barat, Afrika, Spanyol, Eropa, Asia Tengah, Mongol dan Tartar, India, Tiongkok, hingga di Kepulauan Melayu.

 

Dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna, serta didukung oleh data-data yang kredibel, buku setebal 672 halaman dan bersampul keras (hard cover) ini layak menjadi salah satu bacaan dan referensi terkait sejarah penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia dari kaca mata seorang orientalis. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan.Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 3 Novermber 2019.

Dapatkan notifikasi tulisan terbaru dari blog ini

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.