√ Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (2) - Kangasti ID

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (2)

Saat rekaman cover lagu "Sesungguhnya" karya Raihan. [Foto: dokumen pribadi]

Akhir tahun 1990-an, saya mulai mengenal lagu-lagu nasyid di luar Nasida Ria Semarang. Berbagai group nasyid, dalam maupun luar negeri, mulai saya kenal—dan menjadi genre lagu yang menjadi hiburan ‘baru’ saya. Snada (Indonesia) dan Raihan (Malaysia) adalah dua group nasyid yang berhasil ‘mencuri’ hati saya.

 

Saya pun membeli kaset-kaset album mereka. Namun dibanding Snada, Raihan adalah group nasyid paling saya gemari yang—boleh dibilang—hampir semua album  yang mereka keluarkan saya beli, sejak era kaset hingga era CD. Mulai dari album pertama Puji-pujian (1996), Syukur (1998), Senyum (1999), Demi Masa (2001), Gema Alam (2003), Allahu (2004), dan Ameen (2005).

 

Hanya tiga album terakhir yaitu Tawakal (2006), The Spirit of Shalawat (2008) dan Zikir Theraphy (2011) saya tidak membelinya. Boleh jadi karena saya merasa kualitas perfoma Raihan menurun sejak ditinggalkan vokalis utamanya, Nazrey Johani, pada tahun 2006. Tahun 2007, Raihan sempat memiliki vokalis baru bernama Zulfadli Mustaza.

 

Kendati demikian, saya tetap menyimak perkembangan group nasyid yang didirikan pada Oktober 1996 dengan formasi personel lengkap: Nazrey Johani (vokalis), Azhari Ahmad, Abubakar Md. Yatim, Che Amran Idris, dan Amran Ibrahim. 

 

Dua personel Raihan yaitu Azhari Ahmad meninggal dunia tahun 2001 dan Nazrey Johani, sang vokalis, keluar tahun 2006. Sehingga praktis kini personel Raihan tinggal tersisa tiga, yaitu  Abu Bakar, Che Amran, dan Amran Ibrahim. Meski demikian, mereka tetap eksis meski belum lagi mengeluarkan album atau single terbaru—kecuali mereproduksi lagu-lagu mereka dengan arrangement baru.

Raihan formasi lengkap, dari kiri Azhari Ahmad (alm), Che Amran Idris, Nazrey Johani, Amran Ibrahim, dan Abu Bakar Md. Yatim. [Foto: istimewa]

 Raihan, Legenda Nasyid Dunia

Bagi saya, Raihan adalah legenda nasyid dunia yang belum tertandingi oleh group nasyid manapun hingga sekarang. Kehadirannya, hemat saya, serupa Rhoma Irama di Indonesia—yang bila Rhoma Irama menjadi legenda dalam musik dangdut, maka Raihan adalah legenda dalam musik religi—yang lagu-lagunya tetap asyik dinikmati khalayak sepanjang masa.

 

Pada masa kejayaannya, lagu-lagu Raihan banyak yang menjadi hits dan kaset maupun CD album mereka laku keras, termasuk di Indonesia. Tercatat, Raihan pernah mendapatkan double platinum untuk album Demi Masa. Raihan sering diundang untuk konser di seantero dunia, di antaranya di Hongkong, Kanada, Prancis, Rusia, dan Inggris. Saat konser di Inggris, Raihan diberikan penghargaan oleh Ratu Elizabeth II.

 

Seperti lagu-lagu karya Rhoma Irama, lagu-lagu Raihan juga tetap enak dinikmati hingga kini. Tema-temanya antara lain tentang akidah, ibadah, akhlak, sejarah, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan syair-syair yang mudah dipahami serta seni lagu yang asyik dinyanyikan. Sehingga saya pun banyak hafal lagu-lagu Raihan.

 

Di antara lagu Raihan yang banyak saya hafal, ada yang menjadi favorit saya, antara lain: Kita Hamba, Sesungguhnya, Iman Mutiara, Kabar Iman, Damba Cinta-Mu, Carilah Cinta, dan sebagainya.

 




Selain Raihan, juga Snada, banyak group nasyid lainnya yang saya suka, baik dari Indonesia maupun Malaysia. Namun, seperti biasanya, saya tidak begitu memfavoritkan group—dalam arti lebih ke menyukai lagunya yang asyik didengar dan syair lagunya yang menyentuh hati.

 

Beberapa group nasyid dari Indonesia yang beberapa lagunya saya suka antara lain: The Fikr, Tazakka, Edcoustic, Seismic, Shoutul Harakah, dan Izzatul Islam. Adapun group nasyid dari Malaysia yang beberapa lagunya saya suka antara lain: Unic, Inteam, Hijaz, Rabbani, dan Saujana.

 

Pandemi Covid-19 dan Cover Lagu

Sebagai penikmat lagu, saya tidak pernah menyanyikannya ke publik, di acara sekecil apapun. Kalau saya menyanyi, itu pun lirih, hanya untuk kepentingan diri sendiri—di kala sendiri pula hahaha....

 

Pandemi Covid-19 yang mengguncang dunia, juga Indonesia, menghentak kita semua—termasuk saya. Jelang Indonesia ditetapkan sebagai wilayah terpapar Covid-19 dan warganya dinyatakan untuk stay at home, saya masih mengisi sebuah pelatihan menulis di sebuah hotel.  

 

Jadwal pelatihan 5 hari baru berjalan 2 hari, sehingga 3 hari selanjutnya harus di-cancel dulu akibat kebijakan stay at home dan larangan berkerumun—dan kemudian akhirnya diadakan secara daring melalui zoom meeting

 


 

Beberapa bulan di awal pandemi, saya dan seluruh anggota keluarga (anak saya yang di pesantren juga dipulangkan) benar-benar stay at home. Hal itu membuat banyak waktu luang.

 

Akhirnya di sela aktivitas membaca, menulis, beribadah, bercengkerama dengan keluarga, saya bisa menyisihkan aktivitas ‘baru’: yaitu menyanyi di ruang kerja haha.... Dari aktivitas ‘baru’ itulah, atas dorongan seorang kawan, saya memberanikan diri untuk mengcover lagu.

 

Kebetulan ada lagu religi yang tengah viral ketika itu dan saya menyukai lagu tersebut, yaitu lagu berjudul Aisyah, dipopulerkan oleh Mr. Bie. Setelah memantapkan diri bisa menyanyikannya dengan relatif baik—versi saya tentu saja, maka saya pun menjadwalkan rekaman di sebuah studio music di Semarang. Saya diantar oleh seorang teman, namanya Teguh Santoso—dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Ungaran, yang telah terlebih dulu biasa rekaman cover lagu di studio tersebut.

 

Rekaman itu adalah untuk pertama kalinya saya ke studio, untuk pertama kalinya saya nyanyi agak serius satu lagu utuh (haha...), dan untuk pertama kalinya saya rekaman. Awalnya agak ndredeg juga. Take ulang berkali-kali. Tapi akhirnya, rekaman pertama berjalan sukses, meski saya masih merasa kurang percaya diri.     


 

Setelah rekaman pertama lagu Aisyah—dengan versi lirik yang sedikit saya gubah (akan saya ceritakan di tulisan tersendiri, insya Allah), lalu disusul cover lagu berikutnya, yaitu lagu Bidadari Surga-nya Ustaz Jefri Al-Buchori, lalu Wahai Seorang Kekasih-nya Nazrey Johani, Suci Sekeping Hati-nya Saujana, dan terakhir lagu Sesungguhnya Raihan.

 

Seiring kehidupan yang mulai (kembali) normal, saya sudah tidak lagi menyisihkan waktu menyanyi, kecuali sekedarnya saja di sela kerja. Namun kelima lagu cover tersebut, bisa ditonton di channel YouTube saya: Badiatul Muchlisin Asti. Saya akan senang bila Anda berkenan menontonnya dan meninggalkan jejak di kolom komentar hahaha....Demikian sedikit cerita tentang saya, lagu, dan cover lagu. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur dan Citizen Jornalist.   

Dapatkan notifikasi tulisan terbaru dari blog ini

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.