√ Menjelajah dan Menikmati Eksotisme Turki - Kangasti ID

Menjelajah dan Menikmati Eksotisme Turki

Suara Merdeka, edisi Minggu, 27 Oktober 2019.

Turki adalah salah satu destinasi wisata dunia. Ada yang menyebut Turki sebagai “museum terbuka” karena tanah Anatolia itu menyimpan banyak sekali jejak peradaban demi peradaban dalam bentuk artefak sejarah dan peninggalan arkeologis.

 

Istanbul adalah daya pikat pertama Turki yang membuat banyak turis, khususnya dari Indonesia, yang ingin menjejak dan menjelajah segenap eksotismenya. Selain kaya akan aspek-aspek sejarah yang melumurinya, Istanbul adalah daerah yang secara geografis sangat strategis, indah, dan sekaligus sangat istimewa.

 

Masyarakat dunia secara umum mengenal Istanbul sebagai kota yang terletak di antara dua benua, yaitu Asia dan Eropa. Istanbul juga menyimpan pernak-pernik sejarah panjang yang bahkan jauh sebelum Romawi, Byzantium, ataupun Usmani.

 

Tempat-tempat wisata mainstream di Istanbul meliputi Masjid Biru (Masjid Fatih/Sultanahmet), Hagia Sophia, Istana Topkapi, Tur Busphorus, Masjid Sulaiman, Dolmabahce, Taksim, Galata Kulesi, Kiz Kulesi, dan Grand Bazaar. Delapan objek wisata ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi di Istanbul karena nyaris semua turis mengunjunginya.

 

Masjid Biru dan Haga Sophia adalah contoh kedigdayaan simbol sejarah sekaligus pariwisata Turki selain Istana Topkapi. Karya besar yang dihasilkan oleh dua peradaban yang berbeda ini telah sama-sama menunjukkan kemewahannya kepada panggung dunia.

 

Masjid Biru dan  Haga Sophia terletak di kawasan Fatih, salah satu distrik padat di Istanbul bagian Eropa. Haga Sophia dibangun sebagai katedral  pada tahun 537 M di masa Justinian I dengan menunjuk dua arsitek terbaik mereka, Isidore dan Anthemius.

 

Masjid Biru dibangun belakangan, tepatnya pada tahun antara 1463 -1470 M atas perintah Fatih Sultan Mehmed, penakluk Konstantinopel dari tangan Byzantium. Arsitek masjid ini berdarah Yunani, bernama Atik Sinan atau lebih dikenal dengan sebutan Mimar Sinan (Sinan si Arsitek). Dalam aspek arsitektur, Masjid Fatih bisa dibilang sebagai proyek monumental pertama dalam tradisi arsitektural kekaisaran Usmani. Jarak Masjid Biru dan Hagia Sophia sekitar panjang lesatan anak panah, salah satu senjata andalan di masa Usmani.

 

Haga Sophia atau Aya Sofya adalah bangunan katedral ortodoks yang hari ini menjadi objek wisata paling terkenal di Turki. Sebagai tempat ibadah bagi pemeluk Kristen Ortodoks, Hagia Sophia dicatat sebagai bangunan ketiga setelah gereja-gereja kecil sebelumnya mengalami kerusakan karena materialnya berbeda.


Besar dan Kuat

Bangunan kali ini diniatkan oleh sang penguasa untuk menjadi katedral yang sepenuhnya berbeda, besar, dan kuat. Kini, bersama Masjid Biru, Hagia Sophia yang disulap menjadi masjid setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmet pada tahun 1453 ini, sudah pasti masuk ke dalam daftar tujuan wisata di Istanbul.

 

Hagia Sophia dikenal sebagai bentuk arsitektur Byzantium yang khas dan bahkan menjadi terobosan baru bagi gaya-gaya arsitektur gereja pada masanya. Ia sudah mengalami lima kali perubahan fungsi, dari Katedral Kristen Byzantium (537-1204), Katedral Katolik Roma (1204-1261), Katedral Ortodoks Yunani (1261-1453), Masjid Usmani (1453-1931), dan Museum (1935-sekarang).

 

Ketika dialihfungsikan sebagai masjid, benda-benda penting katedral seperti bel, altar, iconostasis, mosaik bergambar Yesus, Bunda Maria, Penginjil Kristen, dan malaikat, dihancurkan. Sebagian lainnya dilapisi atau ditutup, lalu ditambah dengan unsur-unsur keislaman seperti mihrab dan empat menara yang hingga kini masih tegak. Galeri besar yang bisa disaksikan secara kasat mata adalah kaligrafi besar bertuliskan nama Nabi Muhammad, empat khalifah, Hasan dan Husein.

 

Destinasi lain seperti Istana Topkapi, Masjid Sulaiman, Dolmahbace, dan Grand Bazaar berada di sekitar Fatih. Jalan kaki adalah alternatif bagus untuk menjangkau semua tempat itu. Selain menyehatkan, juga bisa menikmati suasana agar pengalaman  traveling kian tambah mantap.

 

Kawasan Sultanahmet bisa menjadi tujuan pertama, setelah itu bisa satu per satu mengunjungi wisata-wisata mainstream di Istanbul. Dari satu tempat wisata ke destinasi selanjutnya berjarak sekitar 1 – 2 km. Kalau tidak mau jalan kaki, bisa naik tramvay, transportasi  paling nyaman di tengah kota, atau bus kota.

 

Untuk Kiz Kulesi, ada tur khusus dengan naik vapur. Caranya tinggal datang ke pelabuhan vapur di tepian Selat Bosphorus dan memastikan jadwal ke Kiz Kulesi. Adapun dari Sultanahmet ke arah Galata Kulesi berjarak sekitar 4 km. Jarak ini lebih menantang bila ditempuh dengan jalan kaki karena akan melewati Galata Koprusu alias Jembatan Galata, sembari menikmati pemandangan luas di tengah Bosphorus. Dari Galata, perjalanan bisa dilanjutkan sekalian ke Taksim.

 

Buku berjudul Jalan-jalan ke Turki yang ditulis oleh 11 pelajar Indonesia di Turki ini bisa menjadi referensi dan panduan traveling menjelajah eksotisme Turki yang sangat indah dan menajubkan. Namun, buru-buru harus disampaikan, Turki bukan hanya Istanbul. Banyak sekali objek-objek indah, eksotis, dan menarik lainnya di Turki yang bisa dijelajahi. Dari wisata-wisata mainstream hingga tempat-tempat tersembunyi.


Memesona

Ankara, Izmir, Mardin, Diyarbakir, Konya, Eskisehir, hingga Harran yang berbatasan dengan Suriah, semua memiliki daya tarik dan cerita tersendiri. Bentang alam yang memesona, kota tua, biara, masjid, makam para nabi, benteng, madrasah, dan gereja, mencatat jejak sejarah panjang Islam dan Kristen di bumi Anatolia.

 

Semua destinasi itu dirangkum dan diceritakan secara apik dan menarik dengan gaya reportase yang runtut dan memikat sebagai referensi bagi siapapun yang ingin menjelajah eksotisme Turki. Atau sekedar ingin menikmati Turki dari cerita-cerita yang ditulis oleh 11 pelajar Indonesia di Turki yang terhimpun dalam Tim Spirit Turki.

 

Bila masih ada yang kurang, maka itu adalah pelbagai makanan khas Turki yang belum dieksplorasi secara khusus. Karena kuliner, sepertinya kini telah menjadi bagian tak terpisahkan saat seseorang bertamasya ke sebuah daerah atau negara.     

    

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan. Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 27 Oktober 2019.

Get notifications from this blog