√ Kerupuk Puli, Dulu Sisa Nasi, Kini Tidak Lagi - Kangasti ID

Kerupuk Puli, Dulu Sisa Nasi, Kini Tidak Lagi

 

Kerupuk beras Sari Karak, kerupuk puli yang dikemas dengan kemasan berkelas [Foto: Kang Asti]

Sebagai orang desa, makan tanpa kerupuk itu serasa ada yang kurang. Kedudukan kerupuk bagi saya sepadan dengan sambal yang musti ada dalam setiap menu makan. Favorit saya, setidaknya dulu saat kecil—karena saat ini sudah mulai mengurangi makan kerupuk, adalah kerupuk uyel.

 

Kerupuk uyel bentuknya bulat keriting seperti mi tapi tebal. Warnanya putih dan kuning. Lalu ada kerupuk puli atau lazim juga disebut kerupuk gendar. Baik kerupuk uyel maupun kerupuk puli sama-sama renyah dan gurih yang bisa menawan lidah saya.

 

Beda keduanya, kerupuk uyel beli di warung, kalau kerupuk puli adalah buatan ibu saya sendiri. Dulu, ibu sering membuat kerupuk puli. Biasa, bila ada nasi sisa. Tinggal di desa dengan tradisi yang kental memang memungkinkan untuk punya nasi sisa cukup banyak. Misalnya pada momen sebelum bulan Ramadhan yang ada acara megengan.

 

Megengan adalah tradisi menyambut bulan suci Ramadhan. Pada megengan, setiap rumah mengadakan doa selamatan dengan mengundang seluruh tetangga (minimal satu RT) dan pulangnya masing-masing membawa nasi berkat yang ketika itu masih mempertahankan kearifan ekologis menggunakan takir atau besek sebagai tempat nasinya.

 

Bayangkan bila satu RT ada 40 rumah, maka bisa dipastikan kita akan mendapatkan setidaknya 40 buah nasi berkat—yang sebagian besarnya tidak kemakan. Nah, agar tidak sia-sia, maka nasi sisa yang melimpah itu lalu dibuat kerupuk—yang kami menyebutnya kerupuk puli atau kerupuk gendar.

 

Sayangnya, salah satu bahan yang digunakan ketika itu adalah bleng atau puli yang kemudian setelah dewasa saya tahu itu adalah jenis borax yang tidak boleh digunakan sebagai bahan tambahan makanan—karena sangat berbahaya untuk kesehatan.

 

Beruntung, ibu saya saat ini sudah jarang bahkan tidak lagi membuat kerupuk puli. Selain usia yang sudah tua, juga tradisi megengan di kampung sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang, acara megengan diadakan di masjid dengan masing-masing keluarga membawa satu buah nasi berkat. Sehingga lebih hemat dan tidak lagi ada sisa nasi melimpah di masing-masing rumah. 

 

Kerupuk Karak

Selain kerupuk puli dan kerupuk gendar, ternyata ada nama lain untuk kerupuk yang terbuat dari nasi—yang dulu biasa dibuat oleh ibu saya itu, yaitu kerupuk karak. Sama versi, hanya beda nama. Bahkan kemudian saya tahu bahwa kerupuk karak adalah kerupuk khas Solo—yang eksistensinya dipelopori oleh Mbah Sastro dari Bratan, Solo, sekira tahun 1940-an pada era pendudukan Jepang.

 

Cerita asal-usulnya sama, sama-sama dari sisa nasi yang melimpah. Sisa nasi yang melimpah mencetuskan ide mengolahnya agar bisa tetap dikonsumsi. Lau tercetuslah ide membuat kerupuk yang kemudian populer dengan nama kerupuk karak. Dan Bratan kini dikenal sebagai sentra kerupuk karak Solo.

 

Kabar baiknya adalah saat ini sudah banyak produsen kerupuk puli atau kerupuk gendar atau kerupuk karak yang produknya mudah kita temukan di pasaran. Karena sudah merupakan produk usaha, maka kerupuk puli sekarang tidak lagi terbuat dari nasi sisa, melainkan nasi yang sengaja dibuat kerupuk.

 

Kualifikasi kerupuknya pun ada yang kualitas biasa dengan marketing konvensional (dijual di pasar tradisional, dari tangan ke tangan), ada pula yang kualitas premium. Kerupuk puli kualitas premium dibuat dari beras pilihan dan tentu tidak menggunakan borax, bahkan tanpa MSG dan tanpa pengawet. Serta dikemas dengan kemasan yang lebih menarik dan penjualannya juga melalui outlet-outlet modern dan pelbagai marketplace.

 


Kerupuk Beras Sari Karak

Salah satu merek kerupuk puli yang beradar di pasaran adalah kerupuk beras merek Sari Karak dari Sukoharjo. Kerupuk puli merek ini berkualitas premium, terbuat dari beras pilihan—baik beras putih maupun beras hitam. Bebas borax serta tanpa MSG dan tanpa pengawet.

 

Cita rasanya gurih dan sangat renyah alias kriuk. Dibuat dalam bentuk kotak ukuran kecil. Setidaknya ada dua pilihan kemasan: kemasan plastik dan box yang cukup eksklusif. Kemasan ini menjadikan kerupuk puli naik kelas. Ia tidak saja menjadi teman makan nasi, tapi juga bisa dijadikan cemilan teman minum teh atau kopi, dan sangat cocok dijadikan oleh-oleh atau buah tangan.

 

Kerupuk beras Sari Karak sangat mudah ditemukan di beberapa marketplace, di antaranya di Shopee. Pertemuan saya dengan kerupuk beras Sari Karak ini membuat saya takjub. Saya tak pernah menyangka, kerupuk puli yang identik dengan sisa nasi dan ndeso itu, bisa naik kelas dengan branding yang (jua) berkelas.

 

*Badiatul Muchlisin Asti, penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia. Food blogger di Jatengnyamleng ID.

Get notifications from this blog