Kangasti ID
“Asal-usul Aku Jatuh Cinta Pada Buku” dalam Antologi Puisi Samudra Ekspresi

“Asal-usul Aku Jatuh Cinta Pada Buku” dalam Antologi Puisi Samudra Ekspresi

Sumber ilustrasi: thumbnail di channel YouTube GolAGong TV
 

Sejak menekuni dunia kepenulisan pada tahun 1994, saya merasa “gak berbakat” menulis tulisan jenis fiksi. Saya lebih enjoy menulis nonfiksi. Tulisan pertama saya juga dalam bentuk artikel, dimuat di majalah Rindang edisi Juni 1994. Judulnya “Krisis Pergaulaan Remaja Modern”. Rindang adalah majalah bulanan yang diterbitkan oleh Departeman Agama (Depag) Jawa Tengah. Sekarang sudah tidak terbit.

 

Seterusnya, hingga sekarang, yang saya tulis juga tulisan-tulisan nonfiksi antara lain dalam bentuk: opini, esai, berita (liputan kegiatan), feature, resensi, dan lain sebagainya. Seingat saya, sekali saya pernah menulis cerkak (cerita cekak) alias cerpen berbahasa Jawa dan dimuat di majalah Jaya Baya. Edisi berapa dan tahun berapa saya lupa. Hanya yang saya ingat adalah judulnya, “Episode Cinta”—karena isinya memang cerita roman remaja dan dimuat di rubrik Roman Secuil.

 

Kalau puisi? Saya sudah koleksi dan membaca berulangkali buku-buku antologi puisi karya penyair bereputasi nasional maupun lokal, seperti Gus Mus, Rendra, D Zawawi Imron, dan lain sebagai, tapi saya merasa selalu “gagal” dan “tak percaya diri” setiap kali menulis puisi.

 

Puisi saya cenderung berbunga-bunga atau terlalu mudah “diendus” maksudnya. Meski kebanyakan puisi-puisi Gus Mus juga “lugas” dan “mudah diketahui maksudnya” seperti puisi “Di Negeri Amplop”, tapi puisi-puisi Gus Mus—menurut saya—pilihan katanya benar-benar memiliki daya satra dan “magis”.

 

Karena itulah, sepanjang usia kepenulisan saya, hingga kini saya memosisikan diri sebagai penikmat sastra, baik novel maupun cerpen dan puisi. Seumur-umur saya tak pernah memupuk mimpi menulis novel atau punya buku antologi cerpen atau puisi. Terbersit sih pernah—tapi hingga sekarang belum juga gumregah dan punya greget untuk merealisasikannya.

 

Tapi atas “todongan” seseorang pegiat literasi nasional bernama Dr. Muhsin Kalida—yang juga seorang pakar psichowriter dan dosen UIN Sunan Kalijaga Kogjakarta, beberapa waktu lalu, akhirnya saya “dipaksa” atau “terpaksa” menulis puisi dan akhirnya 3 buah puisi saya masuk ke dalam sebuah buku antologi bersama. Judul bukunya “Samudra Ekspresi, Antologi Puisi”, diterbitkan oleh penerbit Ladang Kata Jogjakarta bekerja sama dengan Yasuka Institute, Juli 2021.   

 

Buku itu diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. H. Hanna, M.Pd., seorang pegiat literasi, pengurus pusat Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), dan guru besar Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari. Buku diberi endorsement oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong dan penggagas buku tersebut, tak lain adalah Dr. Muhsin Kalida—yang “menodong” saya untuk ikut di “proyek penulisan” itu.

 

Berikut ini dua dari tiga puisi saya yang ada di dalam buku tersebut:

 

Asal-usul Aku Jatuh Cinta Pada Buku

 

di sebuah desa kecil

di sebuah madrasah sore

di sebuah ruang kelasnya

tersebutlah lemari buku tua

dengan ratusan buku-buku

di dalamnya

 

lemari buku itu

di pojokan kelas letaknya

di situlah aku biasa menghabiskan

waktu

saat teman-teman kecilku

asyik bermain gundu

aku lebih suka membaca buku

saat teman-teman kecilku asyik gegojekan

aku asyik melahap bacaan

 

aku selalu kagum

dengan cerita-cerita

di buku yang kubaca

seperti tentang regu pramuka

yang sukses menggulung komplotan penjahat

atau seorang anak yang berjasa pada kampungnya

 

bertahun buku di lemari itu

tak pernah bertambah

hingga aku lulus dari madrasah

mungkin, sampai kini

atau kini buku-buku itu sudah raib

aku tak tahu

 

tapi lemari buku di madrasah itu

tapi lemari buku di pojokan kelas itu

adalah tempat pertama kali

aku jatuh cinta pada buku

 

Bugel, Juni 2021

 

 

Sajak Kampung Halaman

 

berziarah ke kampung halaman

memungut serpihan tapak kenangan

yang menyerpih di pelataran madrasah

juga di sepanjang jalan dusun tanah tumpah darah

 

dulu, semua masih bersahaja

bermain jithungan di bawah terang purnama

bermain galasin, atau gobag sodor kami menyebutnya

di pelataran madrasah yang lumayan luasnya

 

dulu, hujan adalah kado dari langit

yang kami bisa pesta air dan bola
sungai lusi laksana bengawan surga

tempat berenang-renang dan berkejaran di bening airnya

 

sekarang, semua berlalu, zaman telah amat maju

tapak-tapak kenangan itu mulai sirna

anak-anak hanya karib dengan gawai

setan gepeng itu membius amatlah piawai

 

Berukudon, nama kampung halamanku

betapa pun tetaplah pelabuhan rindu

tempat aku pulang menenun kenangan

ihwal suatu masa pada zaman yang telah silam

 

Bugel, Juli 2019

 

Terlepas dari kualitas puisi saya yang “jauh panggang dari api” itu, tak apalah. Saya kira pembaca memaklumi, karena saya memang bukan serorang penyair hahaha.....tapi puisi saya di buku itu sempat mendapat komentar dari Gol A Gong yang bisa disimak di chanel YouTube-nya.

 

*Badiatu Muchlisin Asti, Citizen Journalist, Penulis Nonfiksi, bukan penyair.

Dr. Riadi Darwis dan Serial Gastronomi Sunda

Dr. Riadi Darwis dan Serial Gastronomi Sunda

Dr. Riadi Darwis dengan buku pertamanya. (Foto: merdeka.com)

Sebagai penikmat (sejarah) kuliner tradisional Indonesia, saya memang mengoleksi banyak buku kuliner dari para pakar dan pesohor di bidang kuliner seperti mendiang Bondan Winarno (berseri buku kulinernya lengkap saya koleksi), mendiang Julie ‘Nyonya Rumah’ Sutarjana--sang Gastronom Tiga Zaman, mendiang Tuti Soenardi--pakar di bidang gizi, William Wongso, Sisca Soewitomo, Murdijati Gardjito—pakar gastronomi UGM, dan banyak lagi.

 

Tak hanya karya para pesohor di blantika kuliner Indonesia, namun juga karya siapapun yang berkaitan dengan tema kuliner tradisional Indonesia, saya koleksi, baik buku-buku lawas—yang terbit jauh sebelum saya lahir, maupun buku-buku kuliner yang terbit setelah saya lahir hingga sekarang.

 

Salah satu sosok yang buku-buku karyanya saya koleksi dan saya nikmati betul adalah Dr. Riadi Darwis, M.Pd. Ia memang tidak sepopuler nama-nama yang saya sebutkan di awal. Namun sisi ketekunannya sebagai seorang dosen dan peneliti gastronomi, benar-benar membuat saya kagum.

 

Saya memang tidak mengenalnya secara khusus, apalagi bersua. Saya hanya penikmat yang menikmati karya-karyanya. Dan sesekali berinterasi di media sosial facebook—sekedar komen atau like statusnya.

 

Awal saya “berkenalan” dengannya adalah saat saya “menemukan” buku perdananya yang cukup tebal berjudul  Seri Gastronomi Tradisional Sunda: Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon” yang diterbitkan oleh Penerbit Selaksa Media (Kelompok Intans Publishing) Malang, cetakan pertama Agustus 2019.

 

Waktu “menemukan” buku itu saya seperti mendapat durian runtuh. Buku semacam ini yang (di antaranya) saya cari. Buku yang menggali khazanah kuliner dari pelbagai manuskrip kuno. Buku semacam ini, bagi saya, setidaknya menunjukkan dua hal:

 

Pertama, leluhur kita era dulu sejatinya telah memiliki tradisi literasi yang baik, yang teruntai dalam banyak relief dan manuskrip kuno, yang jejaknya masih bisa kita telusur hingga saat ini.

 

Potongan resensi buku "Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon" di Jawa Pos Radar Madura, edisi Minggu, 5 Juni 2020.

Relief yang terdapat di Candi Borobudur, misalnya, ternyata banyak menyimpan cerita kehidupan di masa lampau—saat relief itu dibuat, yang salah satunya bercerita tentang pelbagai kuliner yang berkembang di masa itu—yang saat ini (sedang dan telah) dikembangkan menjadi wisata gastronomi melengkapi paket wisata Candi Borobudur.

 

Kedua, kajian kuliner tempo dulu signifikan untuk dilakukan guna menggali khazanah kuliner warisan leluhur yang mencerminkan banyak hal seperti kreativitas, nilai-nilai filosofis, kearifan lokal, strategi ketahanan pangan, dan sebagainya. Hasil kajiannya bisa menjadi referensi penting untuk meneguhkan budaya kuliner bangsa yang adiluhung dan pengembangan wisata gastronomi berbasis sejarah dan local genius (kearifan lokal) sebuah daerah.

 

Setelah membaca tandas buku itu, saya lanjut meresensinya dan tulisan resensi itu dimuat satu halaman penuh di koran Jawa Pos Radar Madura edisi Minggu, 5 Juni 2020 dengan judul “Kuliner dalam Tradisi Keraton Kesultanan Cirebon”. Masih belum puas, lalu saya susuli tulisan resensi versi kedua dan dimuat di media Islam daring Alif ID edisi Minggu, 5 September 2021 dengan judul “Kuliner Etnik Sunda dalam Naskah Kuno dan Tradisi Keraton”.

 

Peneliti yang Tekun

Setelah buku  berjudul “Seri Gastronomi Tradisional Sunda: Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon” terbit (2019), setahun kemudian pada September 2020, buku karyanya (yang kedua) kembali terbit. Kali ini berjudul “Seri Gastronomi Tradisional Sunda: Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik” yang diterbitkan oleh penerbit UPI Press. Bukunya lebih tebal lagi dari buku pertamanya. Bila buku pertama “hanya” 554 halaman, buku keduanya ini mencapai 656 halaman dengan ukuran buku yang lebih besar.

 

Tahun 2021, harusnya terbit buku ketiganya, namun—sependek yang saya tahu, karena persoalan teknis, buku itu baru terbit Maret 2022 oleh penerbit UPI Press. Amazing-nya, buku ketiganya ini lebih “gila” lagi tebalnya.

 


Karena terlampau tebal, bahkan penerbit “harus” membaginya menjadi dua jilid. Judul buku ketiganya adalah “Serial Gastronomi Tradisional Sunda: Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Ték-ték (Jilid 1 dan 2)”. Jilid pertama setebal 734 halaman dan Jilid 2 setebal 336 halaman. Bila disatukan, buku itu bertebal lebih dari seribu halaman.

 

Boleh jadi secara kuantifikasi, karyanya belum banyak. Namun dari sisi bobot dan kekayaan data di dalam ketiga buku tersebut, sangat menunjukkan produktivitas, ghirah, dan ketekunan seorang Dr. Riadi Darwis yang sangat luar biasa. Membaca ketiga buku tersebut,  kita seperti diajak menuju ke lorong waktu, masuk ke “masa lalu”, menyigi pelbagai budaya kuliner dan khazanah kulinernya di zaman itu, secara “detail dan mendalam”.

 

Ketiga buku karya Dr. Riadi Darwis memang merupakan hasil riset dari pelbagai manuskrip dan naskah kuno, sehingga dihasilkan data terkait kosa kata dan ungkapan kuliner yang terbagi dalam berbagai klaster antara lain minuman, makanan, teknik kuliner, dan lain sebagainya.

 

Buku-buku Seri Gastronomi Tradisional Sunda karya Dr. Riadi Darwis yang saya koleksi. (Foto: dokumentasi pribadi)

Termasuk buku terbarunya yang berjudul “Serial Gastronomi Tradisional Sunda: Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Ték-ték (Jilid 1 dan 2)” yang baru saya terima hari ini (Kamis, 14/07/2022). Saya memang belum membacanya, tapi dari sekilas daftar isi yang saya baca, buku ini menyigi khazanah lalab—yang sangat populer dalam budaya kuliner Sunda, rujak, sambal, dan ték-ték dalam berbagai prasasti masa klasik dan naskah sunda kuno.

 

Ternyata, sebagaimana ditulis Dr. Riadi Darwis dalam buku terbarunya (Jilid 1), tradisi menyantap lalab di kawasan Pulau Jawa sudah tercatat dalam sejumlah prasasti. Ditengarai pada abad ke-9 atau ke-10 Masehi, hal tersebut sudah tercatat.

 

Saat ini lalaban atau lalapan menjadi budaya kuliner yang identik dengan masyarakat Sunda. Penelitian Prof. Unus Suriawiria sampai tahun 2000—sebagaimana yang dikutip Prof. Murdijati Gardjito dalam buku Kuliner Sunda, Nikmat Sedapnya Melegenda (2019) menyebutkan, ditemukan tidak kurang 200 jenis tanaman yang bisa dijadikan lalap.

 

Buku terbaru karya Dr. Riadi Darwis ini menghadirkan data yang lebih banyak lagi. Berdasarkan hasil telusur melalui sejumlah referensi maupun observasi, dalam buku terbarunya (Jilid 2), Dr. Riadi Darwis menyajikan sejumlah 718 jenis tanaman lalab yang hidup dan tumbuh subur di kawasan budaya Sunda.

 

Buku terbaru 2 jilid karya Dr. Riadi Darwis ini sangat menarik. Saya sedang “menyiapkan” energi untuk melahap buku tebal yang terbagi dalam dua jilid ini. Agar bisa menyerap gizi buku tebal—hasil riset mandiri selama 31 tahun—ini secara lebih maksimal. Buku terbaru karya Dr. Riadi Darwis, yang tak berlebihan bila saya sebut sebagai "Sang Gastronom dari Tatar Sunda". 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist yang penikmat (sejarah) kuliner Indonesia.

Naik Trans Jateng, Tamasya Keluarga ke Semarang Zoo

Naik Trans Jateng, Tamasya Keluarga ke Semarang Zoo

 

Berfoto bersama formasi lengkap di Semarang Zoo. (Foto: dokumentasi keluarga)

Senin, 11 Juli 2022

 

Seingat saya, ini kali ketiga kami bertamasya ke Semarang Zoo atau yang lebih terkenal dengan sebutan "Bonbin Mangkang" atau "Taman Margasatwa Semarang". Pertama kali ke sini saat Hanum—anak ragil saya masih kecil. Tepatnya tahun berapa lupa, tapi kami masih menyimpan foto-fotonya. Ketika itu, Hanum minta naik gajah. Sedang dua kakaknya, Bina dan Mumtaz, memilih uji nyali dengan flying fox.

 

Kali kedua ke Taman Margasatwa Mangkang tahun 2017, tepatnya hari Minggu, 24 Desember. Saya ingat persis tanggal dan tahunnya karena salah satu sesi foto bersama dengan latar salah satu sudut di ruang museum satwa terpajang di dinding rumah. Piknik ke Bonbin Mangkang kedua kali ini, Mamak Tukirah—khadimat kami—ikut serta bersama anak perempuannya, Mbak Kiki. Ikut juga keponakan saya, Muti’.

 

Tamasya keluarga ke Bonbin Mangkang yang ketiga kali ini memanfaatkan sisa liburan ketiga anak kami, yang masing-masing akan segera kembali aktif sekolah. Apa yang menarik dari tamasya ke Bonbin Mangkang kali ini? Target wisatanya mungkin biasa—karena sudah yang kesekian kalinya, tapi cara kami menuju ke Semarang Zoo yang “tak biasa”.

 

Hanum berfoto dengan latar belakang unta di Bonbin Mangkang. (Foto: dokumentasi keluarga)

Ya, biasanya kami naik mobil, tapi  kali ini kami “bereksperimentasi” dengan naik moda transportasi umum Trans Jateng koridor VI dengan rute Semarang-Grobogan (Godong) yang baru diresmikan pada Oktober 2021 lalu oleh Pak Ganjar Pranowo (Gubernur Jateng). Selain "nyaman", naik bus Trans Jateng juga lebih hemat secara ongkos. Di luar itu, sebagai pengalaman baru—agar lebih seru.

 

Kami start dari Terminat Godong ke Terminal Penggaron per orang tiketnya hanya Rp 4.000. Kami berlima, jadi total Rp 20.000. Lalu dari Terminal Penggaron menuju ke Terminal Mangkang per orang tiketnya Rp 3500. Kami berlima jadi Rp 17.500.

 

Dari Terminal Mangkang kami beralih naik bus angkutan umum menuju ke Semarang Zoo (jalan kaki sebenarnya bisa sih, karena agak dekat, tapi cukup memegalkan kaki) dengan tarif Rp 3.000 per orang. Kami berlima Rp 15.000. Jadi total biaya pergi ke Mangkang dari Godong—tempat tinggal kami, “hanya” butuh biaya Rp 52.500.

 

Bila pulang dan pergi menggunakan moda transportasi yang sama, berlima hanya menghabiskan dana Rp 105.000 (seratus lima ribu rupiah). Cukup ekonomis. Di bus, bisa santai sembari ngantuk bersama hahaha...Kekurangnnya, kami tidak bisa leluasa mampir ke mana-mana, termasuk ke objek lain yang kami tuju.

 

Destinasi Wisata Keluarga

Bonbin Mangkang tak banyak berubah. Maklum, habis terdampak badai pandemi Covid-19. Selama pandemi, Semarang Zoo tutup total. Pengelola tentu rugi, karena harus mengeluarkan biaya makan hewan-hewan yang ada di dalamnya dan menggaji pegawainya.

 

Namun alhamdulillah, setelah pandemi mereda dan objek wisata kembali boleh dibuka, Bonbin Mangkang kembali ramai. Meski kami datang bukan saat weekend, Bonbin Mangkang lumayan ramai. Tiketnya pada hari biasa Rp 20.000 per orang, sedang saat Weekend (Sabtu dan Minggu) Rp 30.000 dengan bonus 1 kali permainan (di wahana permainan khusus) di lokasi untuk satu tiketnya.

 

Orang utan dan harimau, di antara binatang koleksi di Semarang Zoo. (Foto: dokumentasi keluarga)

Untuk koleksi binatang, sependek yang saya tahu, tak banyak berubah. Namun, kami tetap semangat "menyisir" semua kandang hewan. Mulai dari area reptil (ular, kura-kura) hingga area burung, monyet, orang utan, harimau, singa, rusa, unta, buaya, dan banyak lagi.


Setelah capek berkeliling, kami rehat sejenak. Sedang istri menemani Hanum memanfaatkan bonus permainan. Lima tiket berarti gratis lima kali permainan. 

 

Bonbin Mangkang ini memang cocok sebagai tujuan tamasya keluarga, terutama untuk nak-anak. Selain mengenalkan aneka satwa, banyak wahana permainan di area ini, antara lain naik becak air, ATV, flying fox, mini waterboom, dan lain sebagainya.

 

Bonbin Mangkang (Semarang Zoo) beralamat di Jalan Walisongo KM 16, tepatnya di seberang terminal Mangkang, Semarang. Bila hari-hari biasa, Bonbin Mangkang buka dari jam 08.00 hingga 15.00. Namun bila weekend (Sabtu dan Minggu), Semarang Zoo buka mulai jam 08.00 hingga 16.00. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist

Fiqh Kuliner #1: Status Hukum Daging Biawak

Fiqh Kuliner #1: Status Hukum Daging Biawak

 

Banner sebuah warung yang menyediakan menu rica-rica dan sate biawak. [foto: facebook]

Seiring perkembangan zaman, dunia kuliner juga berkembang pesat. Banyak ragam kuliner yang ditawarkan, di antaranya menu yang diolah dari daging biawak. Daging biawak bisa diolah menjadi berbagai menu masakan seperti sate, sup, dan rica-rica. Namun bagaimana sebenarnya status hukum daging biawak, halal atau haram?

 

RAIT Ilma Nafia Godong Gelar Akhirussannah dan Wisuda ke-13

RAIT Ilma Nafia Godong Gelar Akhirussannah dan Wisuda ke-13

Keceriaan siswa-siswi RAIT Ilma Nafia Godong yang diwisuda berpose dengan para dewan guru. [Foto: Wahyu K]

Setelah dua tahun di masa pandemi Covid-19 tidak bisa mengadakan haflah akhirussannah secara leluasa, alhamdulillah pada Rabu (15/6/2022) lalu, Raudlatul Athfal Islam Terpadu (RAIT)  Ilma Nafia Godong dapat menggelar akhirusannah dan wisuda siswa yang ke-13. Acara digelar di balai pertemuan Desa Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.  

 

Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Kaver buku "Sejarah Lengkap Penyabaran Islam" karya Prof. Dr. Thomas W. Arnold

 

Data buku:

Judul: Sejarah Lengkap Penyebaran Islam

Penulis: Prof. Dr. Thomas W. Arnold

Penerbit: Ircisod, Yogyakarta

Cetakan ke-1: Juli 2019

Tebal: 672 hlm

ISBN: 978-602-7696-90-7

 

Islam merupakan salah satu agama dakwah (missionary) terbesar di dunia bersama dengan Kristen dan Buddha. Sejarah penyebaran Islam menempuh perjalanan yang sangat panjang hingga mencapai jumlah pemeluk yang besar di seluruh belahan dunia seperti sekarang ini.

 

Max Muller, seorang filsuf dari Jerman yang juga pendiri studi ilmu agama, mendefinisikan istilah agama misioner sebagai “agama yag memiliki ajaran mendakwahkan kebenaran disertai meningkatnya upaya penarikan orang lain yang masih ingkar oleh pendiri atau para pengganti dari pendiri agama yang bersangkutan sampai titik upaya tersebut dianggap menjadi kewajiban suci.”

 

Masih menurut Muller, “Misionari menjadi semangat kebenaran yang menyala dalam hati para penganut dan tidak bisa ditinggalkan, bahkan ditunjukkan dalam pemikiran, kata-kata, dan perbuatan, yang tidak akan puas sampai agama tersebut bisa merasuk dalam setiap jiwa manusia hingga hal yang diyakini sebagai kebenaran diterima sebagai kebenaran pula oleh seluruh manusia.”

 

Semangat dakwah semacam itulah yang menjadi pemacu semangat kaum muslimin untuk senantiasa menyebarkan ajaran Islam ke seluruh umat manusia di setiap benua. Data tahun 2015 memperlihatkan, dari  7,3 miliar penduduk dunia, sekitar sepertiganya memeluk Kristen (31%). Umat Islam menduduki proporsi terbesar kedua dengan 1,8 miliar atau setara dengan 24% dari populasi global. Jumlah penganut umat Islam yang tersebar di seluruh dunia itu merupakan bukti kerja panjang dalam kegiatan dakwah Islam selama berabad-abad.    

 

Buku berjudul Sejarah Lengkap Penyebaran Islam ini merupakan karya seorang orientalis Islam asal Inggris yang juga seorang Profesor Studi Arabia di University of London bernama Sir Thomas Walker Arnold. Sebagai sebuah buku sejarah Islam, buku ini menyuguhkan kajian yang sangat menarik seputar penyebaran Islam, sejak awal agama Islam didakwahkan oleh Nabi Muhamad Saw di Mekah dan Madinah, hingga menyebar ke berbagai negara di dunia.

 


 

Penyebaran ajaran Islam demikian pesat menjamah hampir di setiap penjuru dunia dengan beragam sebab dan aneka latar belakang sosial, politik, serta agama. Namun, dari berbagai sebab yang ada, faktor terbesar dari persebaran ajaran Islam yang kian tak terbantahkan adalah munculnya tenaga-tenaga misionaris muslim. Mereka merelakan diri menjadi dai untuk mengislamkan orang-orang kafir dengan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan utama mereka.  

 

Hebatnya, menurut Thomas W. Arnold dalam buku ini, dakwah misioner Islam tidak pernah dilakukan dengan penganiayaan yang penuh kekejaman atau dilandasi kemarahan sikap fanatik. (hlm. 19). Metode dakwah damai hanya akan ditinggalkan ketika lingkungan politik memaksa mereka untuk menggunakan kekuatan dan kekerasan atau cara-cara damai tidak mungkin ditempuh dan jalur politik tak bisa diusahakan lagi. (hlm. 20).

 

Prinsip Dakwah

Buku ini oleh Thomas W. Arnold dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana idealisme ini muncul dalam sejarah dan bagaimana prinsip-prinsip kegiatan dakwah dipraktikkan di lapangan oleh para eksponen Islam. Di luar tujuan ini, buku ini tidak bertujuan mengungkap contoh-contoh kekuatan pengislaman yang mungkin ditemukan di sana-sini dari lembaran sejarah umat Islam. (hlm. 25).

 

Seperti contoh ungkapan kekejaman Khalifah Marwan, seorang khalifah terakhir Bani Umayyah, “Siapa pun penduduk Mesir yang tidak mau memeluk agamaku dan beribadah sebagaimana aku beribadah dan mengikuti ajaranku, maka aku akan membunuh dan menyalibnya.” Sebaliknya, Khalifah al-Mutawakkil, Khalifah al-Hakim, dan Sultan Tippu dianggap sebagai ciri khas misionaris Islam seperti halnya para dai semisal Sunan Maulana Malik Ibrahim di tanah Jawa, Khwaja Mu’inuddin Chisti di India dan dai-dai lain yang tak terhitung jumlahnya yang telah berhasil melakukan pengislaman dengan cara damai. (hlm. 27).

 

Buku ini terdiri atas 13 bahasan utama. Di bahasan awal, Thomas W. Arnold dengan sangat baik menyuguhkan ulasan tentang seputar kehidupan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang dai. Perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw yang panjang telah melewati liku-liku dan tantangan hebat, namun ia tak gentar meski menghadapi beragam intimidasi dan upaya kriminalisasi.

 

Saat di awal-awal dakwah, orang-orang Quraisy mengultimatum agar ia menghentikan dakwahnya dan mengancam akan melancarkan lebih banyak lagi siksaan dan kekerasan kepadanya bila ia tidak mau berhenti berdakwah. Namun dengan gagah ia menjawab:

 

“Sekalipun matahari diturunkan di atas tangan kananku dan bulan dikirimkan di atas tangan kiriku sebagai pilihan pengganti agar aku meninggalkan dakwahku atau binasa dalam rangka menjalani misi Tuhan, aku tidak akan pernah mencampakkan ajaran ini sampai Tuhan menyuruhku berhenti.” (hlm. 35).

 


Dengan demikian, dari sejak semula, Islam mengemban label sebagai agama misioner (agama dakwah) yang mengejar kemenangan hati manusia untuk mengislamkan serta menyerukan orang-orang agar mengikuti persaudaraan seiman. Dan sebagaimana permulaannya, karakter misioner ini berlanjut hingga sekarang ini. (hlm. 84).

 

Dari karakter misioner itulah, Islam menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Dan di bab-bab selanjutnya, Thomas W. Arnold menyuguhkan ulasan yang memikat terkait sejarah penyebaran Islam tersebut, sejak penyebaran Islam di negara-negara Asia Barat, Afrika, Spanyol, Eropa, Asia Tengah, Mongol dan Tartar, India, Tiongkok, hingga di Kepulauan Melayu.

 

Dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna, serta didukung oleh data-data yang kredibel, buku setebal 672 halaman dan bersampul keras (hard cover) ini layak menjadi salah satu bacaan dan referensi terkait sejarah penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia dari kaca mata seorang orientalis. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan.Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 3 Novermber 2019.

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Eko Supa, seniman lukis karikatur dari Grobogan. [Foto: Wahyu K]

Tubuhnya gemuk. Kalau bicara pelan. Saya bertemu dengannya saat menghadiri kegiatan Nggambar Bareng Palipuro di Alun-alun Purwodadi akhir bulan Mei 2022 lalu. Sembari menggoreskan kuas ke media gambar di depannya, ia meladeni saya berbincang.

 

Nama lengkapnya Eko Suparyanto, namun di panggung lukis yang digelutinya, ia populer dengan nama Eko Supa. Pria kelahiran Grobogan, 2 April 1982 ini memang dikenal sebagai seorang pelukis, spesialis karikatur. Bukan sekelas pelukis temeh-temeh, tapi lukisannya sudah menjelajah dari pameran-pameran berkelas, lokal, regional, nasional, hingga internasional.  

 

Minatnya di bidang seni lukis sudah sejak  dari kecil. Tapi mulai menekuni dunia seni lukis secara profesional sejal lulus dari SMA  PGRI Purwodadi. Ia bertolak ke Jogjakarta untuk belajar seni lukis secara lebih intens.

 


Di Kota Gudeg itu, ia belajar seni lukis dari para pelaku seni rupa di sepanjang Jalan Malioboro. Jogjakarta rupanya membuatnya betah berlama-lama menimba ilmu dan menekuni dunia seni lukis. Setidaknya tercatat tujuh tahun ia tinggal di Jogjakarta sejak tahun 2002 hingga 2009.

 

Di Jogjakarta itulah kemampuan seni lukisnya terasah dengan baik. Ia ikut pameran demi pameran dan percaya diri menjual lukisannya. Lukisan pertamanya berupa gambar harimau terjual Rp 750 ribu.

 

Eko Supa pun semakin mantap menapaki profesi sebagai seorang seniman lukis. Berbagai aliran seni lukis pernah ia pelajari dan tapaki. Mulai dari aliran realis, naturalis, ekspresif, impresif, dan lain-lain. Hingga kemudian ia memantapkan diri cenderung memilih seni lukis gaya karikatur—yaitu seni lukis yang menggambarkan suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut.

 

Pameran Tunggal

Setelah aktif mengikuti sejumlah pameran, Eko Supa menjadi lebih percaya diri, ia pun menghelat pameran tunggal. Pameran tunggal pertamanya diadakan di Galeri Hadiprana Jakarta tahun 2009 dengan mengusung tema “Orde Batik” yang menggambarkan tokoh-tokoh internasional dalam busana batik. 

 

Pameran tunggal itu nampaknya menjadi titik balik bagi Eko Supa untuk menunjukkan reputasinya sebagai seorang seniman lukis berkelas. Tahun 2010, lukisannya menjadi finalis Jakarta Art Awards dan Indonesia Art Awards. Tahun-tahun berikutnya secara beruntun, yaitu tahun 2011, 2012, dan 2015, lukisannya menjadi finalis UOB Painting of the Year Indonesia, menyisihkan ribuan lukisan yang dikompetisikan.

 

Lukisan bertajuk "Spirit Selendang" karya Eko Supa

Tahun 2018, lukisannya bertajuk “Spirit Selendang” termasuk yang dipamerkan dalam Pameran Temporer Museum Basoeki Abdullah bertema “Spirit Potret”. Pada pameran itu, Eko Supa bersama sekitar 30 seniman lukis se-Indonesia—yang lukisannya terpilih, diminta untuk melukis  karya maupun karakter Basoeki Abdullah dengan eksplorasi sesuai aliran dan imajinasi masing-masing.

 

Saat itu Eko Supa membuat lukisan karikatur yang menggambarkan Basoeki Abdullah masuk ke dalam lukisan “Jaka Tarub”—sebuah lukisan yang pernah dibuat oleh Basoeki Abdullah berdasarkan cerita rakyat tentang Jaka Tarub dan 7 Bidadari. 

 

Dalam lukisannya, Eko Supa menggambarkan karakter Basoeki Abdullah yang mengambil selendang bidadari, sehingga karya lukisannya itu diberi tajuk “Spirit Selendang” dan terpajang di katalog galeri tersebut. 

 

Satu Lukisannya Terjual Rp 35 Juta

Setelah malang melintang di Jogjakarta, Eko Supa harus pulang ke kampung halamannya di Kota Purwodadi. Ia pulang karena harus menunggui ibunya. Namun, hal itu tak membuatnya lantas vakum dari dunia lukis. Ia tetap produktif. Hingga saat ini, Eko Supa masih terus aktif sebagai pelukis bebas yang mengolah karakter karikatural tokoh-tokoh dunia.

 

Apalagi dunia seni lukis boleh dibilang sudah menyatu dalam hidup dan kehidupannya. Seni lukis menjadi mata pencahariannya. Sepanjang karir sebagai seniman lukis, Eko Supa mengaku, satu lukisannya pernah terjual hingga seharga Rp 35 juta.

 

Menurutnya, itu belum seberapa dibanding pelukis-pelukis lainnya yang sudah lebih tersohor yang bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk satu buah lukisan. Namun ia tetap bersyukur dengan apa yang telah dicapainya hingga seperti sekarang.

 

Bulan Desember 2018, ia bersama dua seniman lukis Purwodadi lainnya, yaitu Didik Budiarto dan Andi Kebo, membidani lahirnya sebuah komunitas seniman lukis Purwodadi bernama Palipuro yang merupakan kepanjangan dari “Perkumpulan Pelukis Purwodadi Grobogan”. 

 

Ia berharap, lahirnya komunitas ini menjadikan seniman lukis Grobogan lebih memiliki pengaruh di kancah seni lukis nasional maupun internasional, serta memiliki kontribusi bagi citra positif daerah.

 

Simak video perbincangan saya dengan Eko Supa di rumahnya di daerah Kebondalem, Purwodadi, Grobogan:

 


 *Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist