Kangasti ID
Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Kaver buku "Sejarah Lengkap Penyabaran Islam" karya Prof. Dr. Thomas W. Arnold

 

Data buku:

Judul: Sejarah Lengkap Penyebaran Islam

Penulis: Prof. Dr. Thomas W. Arnold

Penerbit: Ircisod, Yogyakarta

Cetakan ke-1: Juli 2019

Tebal: 672 hlm

ISBN: 978-602-7696-90-7

 

Islam merupakan salah satu agama dakwah (missionary) terbesar di dunia bersama dengan Kristen dan Buddha. Sejarah penyebaran Islam menempuh perjalanan yang sangat panjang hingga mencapai jumlah pemeluk yang besar di seluruh belahan dunia seperti sekarang ini.

 

Max Muller, seorang filsuf dari Jerman yang juga pendiri studi ilmu agama, mendefinisikan istilah agama misioner sebagai “agama yag memiliki ajaran mendakwahkan kebenaran disertai meningkatnya upaya penarikan orang lain yang masih ingkar oleh pendiri atau para pengganti dari pendiri agama yang bersangkutan sampai titik upaya tersebut dianggap menjadi kewajiban suci.”

 

Masih menurut Muller, “Misionari menjadi semangat kebenaran yang menyala dalam hati para penganut dan tidak bisa ditinggalkan, bahkan ditunjukkan dalam pemikiran, kata-kata, dan perbuatan, yang tidak akan puas sampai agama tersebut bisa merasuk dalam setiap jiwa manusia hingga hal yang diyakini sebagai kebenaran diterima sebagai kebenaran pula oleh seluruh manusia.”

 

Semangat dakwah semacam itulah yang menjadi pemacu semangat kaum muslimin untuk senantiasa menyebarkan ajaran Islam ke seluruh umat manusia di setiap benua. Data tahun 2015 memperlihatkan, dari  7,3 miliar penduduk dunia, sekitar sepertiganya memeluk Kristen (31%). Umat Islam menduduki proporsi terbesar kedua dengan 1,8 miliar atau setara dengan 24% dari populasi global. Jumlah penganut umat Islam yang tersebar di seluruh dunia itu merupakan bukti kerja panjang dalam kegiatan dakwah Islam selama berabad-abad.    

 

Buku berjudul Sejarah Lengkap Penyebaran Islam ini merupakan karya seorang orientalis Islam asal Inggris yang juga seorang Profesor Studi Arabia di University of London bernama Sir Thomas Walker Arnold. Sebagai sebuah buku sejarah Islam, buku ini menyuguhkan kajian yang sangat menarik seputar penyebaran Islam, sejak awal agama Islam didakwahkan oleh Nabi Muhamad Saw di Mekah dan Madinah, hingga menyebar ke berbagai negara di dunia.

 


 

Penyebaran ajaran Islam demikian pesat menjamah hampir di setiap penjuru dunia dengan beragam sebab dan aneka latar belakang sosial, politik, serta agama. Namun, dari berbagai sebab yang ada, faktor terbesar dari persebaran ajaran Islam yang kian tak terbantahkan adalah munculnya tenaga-tenaga misionaris muslim. Mereka merelakan diri menjadi dai untuk mengislamkan orang-orang kafir dengan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan utama mereka.  

 

Hebatnya, menurut Thomas W. Arnold dalam buku ini, dakwah misioner Islam tidak pernah dilakukan dengan penganiayaan yang penuh kekejaman atau dilandasi kemarahan sikap fanatik. (hlm. 19). Metode dakwah damai hanya akan ditinggalkan ketika lingkungan politik memaksa mereka untuk menggunakan kekuatan dan kekerasan atau cara-cara damai tidak mungkin ditempuh dan jalur politik tak bisa diusahakan lagi. (hlm. 20).

 

Prinsip Dakwah

Buku ini oleh Thomas W. Arnold dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana idealisme ini muncul dalam sejarah dan bagaimana prinsip-prinsip kegiatan dakwah dipraktikkan di lapangan oleh para eksponen Islam. Di luar tujuan ini, buku ini tidak bertujuan mengungkap contoh-contoh kekuatan pengislaman yang mungkin ditemukan di sana-sini dari lembaran sejarah umat Islam. (hlm. 25).

 

Seperti contoh ungkapan kekejaman Khalifah Marwan, seorang khalifah terakhir Bani Umayyah, “Siapa pun penduduk Mesir yang tidak mau memeluk agamaku dan beribadah sebagaimana aku beribadah dan mengikuti ajaranku, maka aku akan membunuh dan menyalibnya.” Sebaliknya, Khalifah al-Mutawakkil, Khalifah al-Hakim, dan Sultan Tippu dianggap sebagai ciri khas misionaris Islam seperti halnya para dai semisal Sunan Maulana Malik Ibrahim di tanah Jawa, Khwaja Mu’inuddin Chisti di India dan dai-dai lain yang tak terhitung jumlahnya yang telah berhasil melakukan pengislaman dengan cara damai. (hlm. 27).

 

Buku ini terdiri atas 13 bahasan utama. Di bahasan awal, Thomas W. Arnold dengan sangat baik menyuguhkan ulasan tentang seputar kehidupan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang dai. Perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw yang panjang telah melewati liku-liku dan tantangan hebat, namun ia tak gentar meski menghadapi beragam intimidasi dan upaya kriminalisasi.

 

Saat di awal-awal dakwah, orang-orang Quraisy mengultimatum agar ia menghentikan dakwahnya dan mengancam akan melancarkan lebih banyak lagi siksaan dan kekerasan kepadanya bila ia tidak mau berhenti berdakwah. Namun dengan gagah ia menjawab:

 

“Sekalipun matahari diturunkan di atas tangan kananku dan bulan dikirimkan di atas tangan kiriku sebagai pilihan pengganti agar aku meninggalkan dakwahku atau binasa dalam rangka menjalani misi Tuhan, aku tidak akan pernah mencampakkan ajaran ini sampai Tuhan menyuruhku berhenti.” (hlm. 35).

 


Dengan demikian, dari sejak semula, Islam mengemban label sebagai agama misioner (agama dakwah) yang mengejar kemenangan hati manusia untuk mengislamkan serta menyerukan orang-orang agar mengikuti persaudaraan seiman. Dan sebagaimana permulaannya, karakter misioner ini berlanjut hingga sekarang ini. (hlm. 84).

 

Dari karakter misioner itulah, Islam menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Dan di bab-bab selanjutnya, Thomas W. Arnold menyuguhkan ulasan yang memikat terkait sejarah penyebaran Islam tersebut, sejak penyebaran Islam di negara-negara Asia Barat, Afrika, Spanyol, Eropa, Asia Tengah, Mongol dan Tartar, India, Tiongkok, hingga di Kepulauan Melayu.

 

Dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna, serta didukung oleh data-data yang kredibel, buku setebal 672 halaman dan bersampul keras (hard cover) ini layak menjadi salah satu bacaan dan referensi terkait sejarah penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia dari kaca mata seorang orientalis. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan.Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 3 Novermber 2019.

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Eko Supa, seniman lukis karikatur dari Grobogan. [Foto: Wahyu K]

Tubuhnya gemuk. Kalau bicara pelan. Saya bertemu dengannya saat menghadiri kegiatan Nggambar Bareng Palipuro di Alun-alun Purwodadi akhir bulan Mei 2022 lalu. Sembari menggoreskan kuas ke media gambar di depannya, ia meladeni saya berbincang.

 

Nama lengkapnya Eko Suparyanto, namun di panggung lukis yang digelutinya, ia populer dengan nama Eko Supa. Pria kelahiran Grobogan, 2 April 1982 ini memang dikenal sebagai seorang pelukis, spesialis karikatur. Bukan sekelas pelukis temeh-temeh, tapi lukisannya sudah menjelajah dari pameran-pameran berkelas, lokal, regional, nasional, hingga internasional.  

 

Minatnya di bidang seni lukis sudah sejak  dari kecil. Tapi mulai menekuni dunia seni lukis secara profesional sejal lulus dari SMA  PGRI Purwodadi. Ia bertolak ke Jogjakarta untuk belajar seni lukis secara lebih intens.

 


Di Kota Gudeg itu, ia belajar seni lukis dari para pelaku seni rupa di sepanjang Jalan Malioboro. Jogjakarta rupanya membuatnya betah berlama-lama menimba ilmu dan menekuni dunia seni lukis. Setidaknya tercatat tujuh tahun ia tinggal di Jogjakarta sejak tahun 2002 hingga 2009.

 

Di Jogjakarta itulah kemampuan seni lukisnya terasah dengan baik. Ia ikut pameran demi pameran dan percaya diri menjual lukisannya. Lukisan pertamanya berupa gambar harimau terjual Rp 750 ribu.

 

Eko Supa pun semakin mantap menapaki profesi sebagai seorang seniman lukis. Berbagai aliran seni lukis pernah ia pelajari dan tapaki. Mulai dari aliran realis, naturalis, ekspresif, impresif, dan lain-lain. Hingga kemudian ia memantapkan diri cenderung memilih seni lukis gaya karikatur—yaitu seni lukis yang menggambarkan suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut.

 

Pameran Tunggal

Setelah aktif mengikuti sejumlah pameran, Eko Supa menjadi lebih percaya diri, ia pun menghelat pameran tunggal. Pameran tunggal pertamanya diadakan di Galeri Hadiprana Jakarta tahun 2009 dengan mengusung tema “Orde Batik” yang menggambarkan tokoh-tokoh internasional dalam busana batik. 

 

Pameran tunggal itu nampaknya menjadi titik balik bagi Eko Supa untuk menunjukkan reputasinya sebagai seorang seniman lukis berkelas. Tahun 2010, lukisannya menjadi finalis Jakarta Art Awards dan Indonesia Art Awards. Tahun-tahun berikutnya secara beruntun, yaitu tahun 2011, 2012, dan 2015, lukisannya menjadi finalis UOB Painting of the Year Indonesia, menyisihkan ribuan lukisan yang dikompetisikan.

 

Lukisan bertajuk "Spirit Selendang" karya Eko Supa

Tahun 2018, lukisannya bertajuk “Spirit Selendang” termasuk yang dipamerkan dalam Pameran Temporer Museum Basoeki Abdullah bertema “Spirit Potret”. Pada pameran itu, Eko Supa bersama sekitar 30 seniman lukis se-Indonesia—yang lukisannya terpilih, diminta untuk melukis  karya maupun karakter Basoeki Abdullah dengan eksplorasi sesuai aliran dan imajinasi masing-masing.

 

Saat itu Eko Supa membuat lukisan karikatur yang menggambarkan Basoeki Abdullah masuk ke dalam lukisan “Jaka Tarub”—sebuah lukisan yang pernah dibuat oleh Basoeki Abdullah berdasarkan cerita rakyat tentang Jaka Tarub dan 7 Bidadari. 

 

Dalam lukisannya, Eko Supa menggambarkan karakter Basoeki Abdullah yang mengambil selendang bidadari, sehingga karya lukisannya itu diberi tajuk “Spirit Selendang” dan terpajang di katalog galeri tersebut. 

 

Satu Lukisannya Terjual Rp 35 Juta

Setelah malang melintang di Jogjakarta, Eko Supa harus pulang ke kampung halamannya di Kota Purwodadi. Ia pulang karena harus menunggui ibunya. Namun, hal itu tak membuatnya lantas vakum dari dunia lukis. Ia tetap produktif. Hingga saat ini, Eko Supa masih terus aktif sebagai pelukis bebas yang mengolah karakter karikatural tokoh-tokoh dunia.

 

Apalagi dunia seni lukis boleh dibilang sudah menyatu dalam hidup dan kehidupannya. Seni lukis menjadi mata pencahariannya. Sepanjang karir sebagai seniman lukis, Eko Supa mengaku, satu lukisannya pernah terjual hingga seharga Rp 35 juta.

 

Menurutnya, itu belum seberapa dibanding pelukis-pelukis lainnya yang sudah lebih tersohor yang bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk satu buah lukisan. Namun ia tetap bersyukur dengan apa yang telah dicapainya hingga seperti sekarang.

 

Bulan Desember 2018, ia bersama dua seniman lukis Purwodadi lainnya, yaitu Didik Budiarto dan Andi Kebo, membidani lahirnya sebuah komunitas seniman lukis Purwodadi bernama Palipuro yang merupakan kepanjangan dari “Perkumpulan Pelukis Purwodadi Grobogan”. 

 

Ia berharap, lahirnya komunitas ini menjadikan seniman lukis Grobogan lebih memiliki pengaruh di kancah seni lukis nasional maupun internasional, serta memiliki kontribusi bagi citra positif daerah.

 

Simak video perbincangan saya dengan Eko Supa di rumahnya di daerah Kebondalem, Purwodadi, Grobogan:

 


 *Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist     

     

10 Kuliner Khas Grobogan versi Kang Asti

10 Kuliner Khas Grobogan versi Kang Asti

 

Saya (dua dari kiri) saat menjadi narsum Festival Kuliner Podcast di Festival Kuliner di Swalayan Luwes Purwodadi pertengahan April 2022 lalu. [Foto: Agus Wibowo]

Apa kuliner khas Grobogan? Bila pertanyaan ini diajukan sebelum tahun 2000, boleh jadi jawabannya hanya satu: swike. Tapi bila pertanyaan itu diajukan setelahnya, alternatif jawabannya menjadi lebih banyak.

 

Era media sosial, utamanya facebook, telah  merevolusi banyak hal, termasuk lalu lintas informasi yang berlangsung sangat cepat. Banyak hal yang mengemuka setelah diunggah di media sosial. Viral adalah sebuah istilah yang ngetren di era media sosial. Sebuah postingan menjadi viral bila menarik minat publik, dibagikan berkali-kali,  dan menjadi trending topic alias pembicaraan hangat.

 

Selain akun pribadi, saat itu saya juga membuat sebuah akun facebook bernama “Grobogan Corner“. Sejujurnya, pemantik pembuatan akun ini adalah untuk mengimbangi sebuah akun facebook bernama Peduli Grobogan Yuk (sering disingkat PGY) yang getol membuat postingan terkait dugaan korupsi di lingkaran birokrasi Kabupaten Grobogan.

 

Membaca postingan-postingan PGY setiap hari, memberi impresi kuat seolah Grobogan itu isinya hanyalah kebobrokan para pejabatnya—seolah tak ada hal positif yang bisa dibanggakan. Meski sesungguhnya PGY juga memosting pelbagai potensi lokal Grobogan, namun postingan-postingan itu seperti tenggelam oleh gencarnya sang admin mengekspose  dugaan perilaku korup pejabat Grobogan.

 

Nah, akun Grobogan Corner (biasa disingkat GC) saya proyeksikan sebagai akun penyeimbang yang mengekspose pelbagai potensi lokal Grobogan dan mengangkat isu-isu positif, inspiratif, dan konstruktif terkait Grobogan—meski terkadang juga menyelipkan kritik. Di akun GC, saya memosting pelbagai potensi lokal Grobogan dari berbagai bidang, sejak produk UMKM, kuliner khas, hingga jejak sejarah, budaya, dan tokoh, serta lainnya.

 

Publikasi nasi becek khas Grobogan yang saya lakukan, salah satunya dimuat di Koran Muria, edisi Minggu, 30 November 2014. [Foto: dokumen pribadi]

Di bidang kuliner utamanya saya mencoba menggali kuliner-kuliner khas yang selama ini “tersembunyi” karena tiadanya publisitas atau tenggelam oleh citra swike yang sudah telanjur menghegemoni—sehingga merasuk ke alam pikir khalayak bahwa kuliner khas Grobogan ya swike. Ketika itu mulai saya publish becek, garang asem, sega pager (saat itu masih bernama sega janganan), sega pecel gambringan, mi tek-tek, dan nasi jagung.    

 

Tidak hanya melalui facebook, saya juga gencar mem-publish kuliner Grobogan selain swike melalui koran lokal yang saat itu masih banyak yang terbit dan beredar, seperti Koran Muria, Suara Merdeka, dan Jawa Pos Radar Kudus.

 

Saat itu, yang saya push adalah becek yang saat itu memang mulai populer dan saya proyeksikan bisa ‘menyaingi’ hegemoni dan popularitas swike.  Saya ikut membantu mem-publish secara masif warung makan yang menyediakan menu becek.

 

Beberapa warung makan yang saya push antara lain Warung Makan Mbak Mun Godong—sayang, warung ini sekarang sudah tutup; dan Warung Sedep Yanto Ganjar Getasrejo—yang menyediakan menu becek kerbau dan saat ini masih eksis bahkan makin ramai pelanggannya.

 

Di Suara Merdeka saya menulis artikel opini berjudul Alternatif Kuliner Grobogan, dimuat di rubrik Wacana Lokal edisi Jumat, 31 Oktober 2014. Pada tulisan ini saya memperkenalkan dua kuliner Grobogan yang bisa di-branding menjadi ikon kuliner Grobogan selain swike, yaitu becek dan nasi pecel gambringan. 

 

Saya (paling kanan) saat menjadi narasumber pada diskusi "Membranding Kuliner Grobogan" di Alun-alun Purwodadi pada tahun 2015 lalu. [Foto: Dokumen pribadi]

Alhamdulillah, tahun 2015, Komunitas Pelestari Budaya Grobogan (KPBG) menghelat acara Festival Kuliner Grobogan di Alun-alun Purwodadi. Saya ikut diundang menjadi narasumber dalam sesi diskusi “Membranding Kuliner Grobogan” pada festival tersebut, bersama anggota DPD RI ketika itu, Dr. Bambang Sadono. Setelah diskusi, dihelat makan nasi becek bersama.

 

Publisitas yang masif pelbagai kuliner Grobogan, utamanya becek, secara perlahan menampakkan hasilnya. Kini, di seantero Grobogan sudah banyak sekali warung makan yang menyediakan menu becek. Bahkan saat menjadi narasumber Festival Kuliner yang dihelat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan x Sinergi Production pada 16 April 2022 di Swalayan Luwes Purwodadi, saya menyatakan bahkan becek saat ini sudah mengalami diversifikasi.

 

Becek yang awalnya menggunakan iga sapi, kini sudah berkembang menjadi becek kerbau, becek ayam, becek kambing, bahkan becek ikan nila. Tentu hal itu merupakan eksperimentasi dan perkembangan yang sangat bagus yang perlu didukung oleh berbagai pihak, terutama oleh dinas terkait.

 


Di acara festival tersebut, juga saya sampaikan 10 kuliner khas Grobogan hasil riset saya, yaitu swike, becek, garang asem, ayam pencok atau ayam panggang bledug, nasi jagung, sega pager (sega janganan), sega pecel gambringan, lempok, mi tek-tek, dan lontong pecel sayur.

 

Daftar ini akan bertambah bila kita memasukkan kuliner jenis kudapan khas Grobogan seperti yangko Godong, sale pisang, emping jagung, marning, kue semprong, dan keripik tempe.

 

Jadi, betapa kayanya Grobogan akan khazanah kuliner khasnya. Kuliner Grobogan tidak melulu swike. Itu belum culinary heritage-nya yang juga banyak dijumpai di sejumlah wilayah di Kabupaten Grobogan. Insya Allah kita bahas di tulisan mendatang.

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Food Blogger & YouTuber, Founder Jatengnyamleng ID  

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (2)

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (2)

Saat rekaman cover lagu "Sesungguhnya" karya Raihan. [Foto: dokumen pribadi]

Akhir tahun 1990-an, saya mulai mengenal lagu-lagu nasyid di luar Nasida Ria Semarang. Berbagai group nasyid, dalam maupun luar negeri, mulai saya kenal—dan menjadi genre lagu yang menjadi hiburan ‘baru’ saya. Snada (Indonesia) dan Raihan (Malaysia) adalah dua group nasyid yang berhasil ‘mencuri’ hati saya.

 

Saya pun membeli kaset-kaset album mereka. Namun dibanding Snada, Raihan adalah group nasyid paling saya gemari yang—boleh dibilang—hampir semua album  yang mereka keluarkan saya beli, sejak era kaset hingga era CD. Mulai dari album pertama Puji-pujian (1996), Syukur (1998), Senyum (1999), Demi Masa (2001), Gema Alam (2003), Allahu (2004), dan Ameen (2005).

 

Hanya tiga album terakhir yaitu Tawakal (2006), The Spirit of Shalawat (2008) dan Zikir Theraphy (2011) saya tidak membelinya. Boleh jadi karena saya merasa kualitas perfoma Raihan menurun sejak ditinggalkan vokalis utamanya, Nazrey Johani, pada tahun 2006. Tahun 2007, Raihan sempat memiliki vokalis baru bernama Zulfadli Mustaza.

 

Kendati demikian, saya tetap menyimak perkembangan group nasyid yang didirikan pada Oktober 1996 dengan formasi personel lengkap: Nazrey Johani (vokalis), Azhari Ahmad, Abubakar Md. Yatim, Che Amran Idris, dan Amran Ibrahim. 

 

Dua personel Raihan yaitu Azhari Ahmad meninggal dunia tahun 2001 dan Nazrey Johani, sang vokalis, keluar tahun 2006. Sehingga praktis kini personel Raihan tinggal tersisa tiga, yaitu  Abu Bakar, Che Amran, dan Amran Ibrahim. Meski demikian, mereka tetap eksis meski belum lagi mengeluarkan album atau single terbaru—kecuali mereproduksi lagu-lagu mereka dengan arrangement baru.

Raihan formasi lengkap, dari kiri Azhari Ahmad (alm), Che Amran Idris, Nazrey Johani, Amran Ibrahim, dan Abu Bakar Md. Yatim. [Foto: istimewa]

 Raihan, Legenda Nasyid Dunia

Bagi saya, Raihan adalah legenda nasyid dunia yang belum tertandingi oleh group nasyid manapun hingga sekarang. Kehadirannya, hemat saya, serupa Rhoma Irama di Indonesia—yang bila Rhoma Irama menjadi legenda dalam musik dangdut, maka Raihan adalah legenda dalam musik religi—yang lagu-lagunya tetap asyik dinikmati khalayak sepanjang masa.

 

Pada masa kejayaannya, lagu-lagu Raihan banyak yang menjadi hits dan kaset maupun CD album mereka laku keras, termasuk di Indonesia. Tercatat, Raihan pernah mendapatkan double platinum untuk album Demi Masa. Raihan sering diundang untuk konser di seantero dunia, di antaranya di Hongkong, Kanada, Prancis, Rusia, dan Inggris. Saat konser di Inggris, Raihan diberikan penghargaan oleh Ratu Elizabeth II.

 

Seperti lagu-lagu karya Rhoma Irama, lagu-lagu Raihan juga tetap enak dinikmati hingga kini. Tema-temanya antara lain tentang akidah, ibadah, akhlak, sejarah, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan syair-syair yang mudah dipahami serta seni lagu yang asyik dinyanyikan. Sehingga saya pun banyak hafal lagu-lagu Raihan.

 

Di antara lagu Raihan yang banyak saya hafal, ada yang menjadi favorit saya, antara lain: Kita Hamba, Sesungguhnya, Iman Mutiara, Kabar Iman, Damba Cinta-Mu, Carilah Cinta, dan sebagainya.

 




Selain Raihan, juga Snada, banyak group nasyid lainnya yang saya suka, baik dari Indonesia maupun Malaysia. Namun, seperti biasanya, saya tidak begitu memfavoritkan group—dalam arti lebih ke menyukai lagunya yang asyik didengar dan syair lagunya yang menyentuh hati.

 

Beberapa group nasyid dari Indonesia yang beberapa lagunya saya suka antara lain: The Fikr, Tazakka, Edcoustic, Seismic, Shoutul Harakah, dan Izzatul Islam. Adapun group nasyid dari Malaysia yang beberapa lagunya saya suka antara lain: Unic, Inteam, Hijaz, Rabbani, dan Saujana.

 

Pandemi Covid-19 dan Cover Lagu

Sebagai penikmat lagu, saya tidak pernah menyanyikannya ke publik, di acara sekecil apapun. Kalau saya menyanyi, itu pun lirih, hanya untuk kepentingan diri sendiri—di kala sendiri pula hahaha....

 

Pandemi Covid-19 yang mengguncang dunia, juga Indonesia, menghentak kita semua—termasuk saya. Jelang Indonesia ditetapkan sebagai wilayah terpapar Covid-19 dan warganya dinyatakan untuk stay at home, saya masih mengisi sebuah pelatihan menulis di sebuah hotel.  

 

Jadwal pelatihan 5 hari baru berjalan 2 hari, sehingga 3 hari selanjutnya harus di-cancel dulu akibat kebijakan stay at home dan larangan berkerumun—dan kemudian akhirnya diadakan secara daring melalui zoom meeting

 


 

Beberapa bulan di awal pandemi, saya dan seluruh anggota keluarga (anak saya yang di pesantren juga dipulangkan) benar-benar stay at home. Hal itu membuat banyak waktu luang.

 

Akhirnya di sela aktivitas membaca, menulis, beribadah, bercengkerama dengan keluarga, saya bisa menyisihkan aktivitas ‘baru’: yaitu menyanyi di ruang kerja haha.... Dari aktivitas ‘baru’ itulah, atas dorongan seorang kawan, saya memberanikan diri untuk mengcover lagu.

 

Kebetulan ada lagu religi yang tengah viral ketika itu dan saya menyukai lagu tersebut, yaitu lagu berjudul Aisyah, dipopulerkan oleh Mr. Bie. Setelah memantapkan diri bisa menyanyikannya dengan relatif baik—versi saya tentu saja, maka saya pun menjadwalkan rekaman di sebuah studio music di Semarang. Saya diantar oleh seorang teman, namanya Teguh Santoso—dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Ungaran, yang telah terlebih dulu biasa rekaman cover lagu di studio tersebut.

 

Rekaman itu adalah untuk pertama kalinya saya ke studio, untuk pertama kalinya saya nyanyi agak serius satu lagu utuh (haha...), dan untuk pertama kalinya saya rekaman. Awalnya agak ndredeg juga. Take ulang berkali-kali. Tapi akhirnya, rekaman pertama berjalan sukses, meski saya masih merasa kurang percaya diri.     


 

Setelah rekaman pertama lagu Aisyah—dengan versi lirik yang sedikit saya gubah (akan saya ceritakan di tulisan tersendiri, insya Allah), lalu disusul cover lagu berikutnya, yaitu lagu Bidadari Surga-nya Ustaz Jefri Al-Buchori, lalu Wahai Seorang Kekasih-nya Nazrey Johani, Suci Sekeping Hati-nya Saujana, dan terakhir lagu Sesungguhnya Raihan.

 

Seiring kehidupan yang mulai (kembali) normal, saya sudah tidak lagi menyisihkan waktu menyanyi, kecuali sekedarnya saja di sela kerja. Namun kelima lagu cover tersebut, bisa ditonton di channel YouTube saya: Badiatul Muchlisin Asti. Saya akan senang bila Anda berkenan menontonnya dan meninggalkan jejak di kolom komentar hahaha....Demikian sedikit cerita tentang saya, lagu, dan cover lagu. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur dan Citizen Jornalist.   

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (1)

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (1)

Saat rekaman untuk cover lagu Bidadari Surga-nya Ust. Jefri Al-Buchori. [Foto: dokumen pribadi]

Saya akui, sejak kecil saya suka lagu—sekadar sebagai penikmat. Dan sebagai anak kamso (kampungan dan ndeso), memori saya tentang lagu-lagu yang saya sukai sumbernya adalah radio dan televisi (baca: TVRI) yang memang merupakan sumber utama hiburan ketika itu.

 

Masa kecil dan remaja saya lakoni pada rentang masa tahun 1980-an dan 1990-an. Soal lagu, saya tidak memfavoritkan genre lagu tertentu. Asal nadanya asyik dan syairnya syahdu—mengena di hati saya, saya suka. Karena itu, saya punya banyak memori lagu-lagu favorit secara pribadi lintas genre, baik dangdut, pop, dan nasyid—yang dulu diwakili oleh Nasida Ria Semarang.

 

Sampai sekarang, saya masih banyak hafal dan mampu mendendangkan sebagian besar lagu-lagu dangdut favorit saya—kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan Evi Tamala seperti Lilin-lilin Putih, Luka di Atas Luka, Sedingin Salju, Selamat Malam, Rembulan Malam, Senandung Rembulan, Kandas, dan sebagainya.

 

Harus saya akui, di antara pedangdut yang lagunya banyak (tidak semua) saya favoritkan adalah Evi Tamala. Sedang pedangdut lain hanya lagu-lagu tertentu saja seperti Ine Sinthya saya suka lagunya yang berjudul Memori Daun Pisang dan Prasangka; Ikke Nurjanah Cinta dan Dilema;  Cici Paramida Wulan Merindu; dan sebagainya.

 

Untuk pedangdut pria, Rhoma Irama-lah yang harus saya sebut. Pasalnya, saat saya kecil, dua orang kakak sepupu saya yang tinggalnya sebelah rumah, sangat menyukai lagu-lagu Rhoma Irama. Kata mereka kepada saya ketika itu, ibarat pepatah “tidak ada rotan, akar pun jadi”— lagu-lagu Rhoma Irama adalah rotan, dan lagu-lagu penyanyi lainnya adalah akar. Begitulah mereka mengibaratkan posisi Rhoma di hati mereka dibanding pedangdut lainnya.

 

Meski demikian, sebagaimana penyanyi lainnya, tak semua lagu-lagu Rhoma saya suka. Hanya beberapa lagu saja seperti Raib, Tabir Kepalsuan,  Pertemuan, dan Bahtera Cinta. Saya memang cenderung menyukai lagu-lagu bertema roman. 

 


 

Lagu Pop, Sejak Tito Sumarsono Hingga Poppy Mercury

Sebagaimana dangdut, saya juga tidak fanatik pada penyanyi pop tertentu. Saya menyukai lagunya—yang nada dan syairnya pas meresap di hati saya. Makanya, saya punya memori lagu-lagu tertentu yang saya suka dari banyak lagu pop lawas yang populer ketika itu.

 

Saya hafal dan suka lagu-lagu seperti Di Puncak Bukit Hijau-nya Jayanthi Mandasari; Maria-nya Julius Sitanggang; Kisah Kasih di Sekolah-Nya Obbie Messakh; bahkan hafal trilogi lagu Hati yang Luka karangan Obbi Messakh meliputi Hati yang Luka (dinyanyikan Betharia Sonata), Penyesalan (jawaban untuk lagu Hati yang Luka, dinyanyikan Obbie Mesakh sendiri) dan  Tiada Duka Lagi (dinyanyikan duet Betharia Sonata dan Obbie Mesakh).

 

Selain itu ada lagu-lagu yang populer setelahnya yang saya suka antara lain: Aku Sayang Kamu-nya Cindy Claudia Harahap; Cintaku Tak Terbatas Waktu-nya Annie Carera, dan Kasih-nya Ismi Aziz. Lalu, lagu-lagu yang didendangkan Poppy Mercuri seperti Pelangi Cinta, Tragedi Antara Kuala Lumpur – Penang,  Antara Jakarta dan Penang, Surat Undangan, Hati yang Luka, Terlambat Sudah, dan lainya.

 

Lagu-lagu pop lainnya yang saya suka: Untukmu dan Tuhan Tolonglah-nya Tito Sumarsono, Dinda di Mana-nya Katon Bagaskara, dan Sanggupkah Aku-nya Andy Liany. Untuk lagu-lagu yang dibawakan group musik, favorit saya antara lain: Kangen-nya Dewa 19, Tataplah-nya Cool Colour, Bukan Pujangga-nya Base Jam, Yogyakarta-nya Kla Project, Cerita Cinta-nya Kahitna, Mungkinkah dan Cinta Suci-nya Stinky, dan lain sebagainya.

 

Nasida Ria, Kenangan Bersama Bapak

Nasida Ria, group kasidah legendaris dari Semarang. [Foto: istimewa]

Adapun lagu-lagu nasyid--tepatnya kasidah, tak banyak ketika itu. Yang saya kenal hanya Nasida Ria Semarang yang sangat populer di masa kecil saya. Bapak saya yang secara tidak sengaja memperkenalkannya. Di rumah, bapak sering memutar lagu-lagu Nasida Ria dari radio tape yang beliau punya.

 

Dari situlah, saat bapak memutar kaset Nasida Ria, mau tak mau, saya ikut mendengarkannya dan sebagian secara tak sadar saya hafal liriknya. Lagu-lagu Nasida Ria seperti Jilbab Putih, Tahun 2000, Kota Santri, Perdamaian, dan lain-lain, sangat akrab di telinga saya dan sangat memorable.

 

Lagu-lagu Nasida Ria tak melulu religi, tapi juga ada yang bertema roman cinta, di antaranya yang sangat saya hafal ketika itu adalah sebuah lagu berjudul Tergila-gila, penggalan syairnya sebagai berikut:

 

Seindah-indah bulan purnama, lebih indah wajahnya

Semanis-manisnya madu, lebih manis senyumnya

Duh aduh aku tak tahan, kala ia memandangku

Hati rasa begetar, berdenyut-denyut jantungku

Dia tersenyum mesra, dengan ramah menyapaku

Bingung bingung, aku bingung, tersipu malu  

 

Boleh dikata, ketika itu, Nasida Ria merupakan satu-satunya group musik religi yang paling masyhur. Sebagai anak yang lahir dari keluarga dengan iklim religius, mau tidak mau, saya mengenal lagu-lagu Nasida Ria yang hingga saat ini masih direproduksi juga dicover oleh banyak group-group  musik religi.

 

Ketika itu, lagu-lagu religi dari Nasida Ria banyak diputar saat pesta hajatan warga, terutama di perdesaan, antara lain di acara mantenan atau walimatul ‘ursy. Syahdunya ketika itu....

 

Menggemari Nasyid

Tahun-tahun terakhir di pengujung tahun 1990-an, saya mulai menyukai lagu-lagu religi atau nasyid dengan tema religi yang lebih kental yang booming ketika itu, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Genre nasyid inilah yang sangat membekas di hati saya, yang berpuluh tahun kemudian ketika pageblug Covid-19 mengguncang dunia dan masyarakat harus stay at home, saya merasa perlu ada hiburan, salah satunya menyalurkan “hobi terpendam” saya, yaitu: menyanyi.

 

Lagu nasyid yang saya pilih. Kenapa saya memilih nasyid? Apa dan bagaimana saya kemudian “memberanikan diri” mengcover lagu nasyid? Simak di tulisan berikutnya ya. (Bersambung).  

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur dan Citizen Journalist

Formula Hidup Sehat Rasulullah

Formula Hidup Sehat Rasulullah

 

Kaver buku Jurus Sehat Rasulullah karya dr. Zaidul Akbar. [foto: toko-muslim.com]

Data buku:

Judul: Jurus Sehat Rasulullah, Hidup Sehat Menebar Manfaat

Penulis: dr. Zaidul Akbar

Penerbit: PT. Sygma Media Inovasi, Bandung

Cetakan ke-1: Februari 2020

Tebal: xx + 316 hlm

ISBN: 978-623-92873-5-1

 

“Sehat memang bukan segala-galanya, tapi tanpa sehat, segala-galanya sering tak berarti apa-apa,” begitu kalimat bijak yang sering kita dengar. Kesehatan memang penting, bahkan sangat penting, tapi sayangnya, tak sedikit yang mengabaikannya. Baru tersadar akan arti penting kesehatan saat raga sudah terkulai lemah diserang penyakit.

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua nikmat yang karenanya banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

 

Salah satu penyumbang rentannya kesehatan orang zaman sekarang adalah pola makan yang buruk. Makan hanya asal enak, tanpa menimbang apakah makanan yang masuk ke perutnya itu baik, atau justru merusak raganya.

 

Melalui buku yang berjudul Jurus Sehat Rasulullah ini, dokter Zaidul Akbar mengingatkan pentingnya memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Menurutnya, tubuh yang sehat dimulai dari pencernaan atau perut yang sehat. Jika perut bermasalah, dipenuhi makanan tinggi gula, kurang serat, dan tercampur dengan bahan kimia sintetis, bisa dipastikan perut itu akan jadi rumah penyakit.

 

Dalam doktrin Islam, makanan yang dikonsumsi haruslah memenuhi dua syarat, yaitu halal dan thayyib (baik). Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran, “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan thayyib (baik) yang terdapat di Bumi...” (QS. Al-Baqarah, 2: 168).      

 

Sesuai pesan ayat tersebut, halal saja tidak cukup dalam soal makanan sehat. Makanan yang dikonsumsi haruslah thayyib. Soal thayyib ini, dokter Zaidul menyatakan, sebuah makanan disebut thayyib apabila memenuhi parameter umum: aman dikonsumsi—baik jangka pendek atau pun jangka panjang; tumbuh di tanah yang tinggi mineral; bebas dari bahan kimia sintetik; mendapat cahaya matahari; dan tidak terpapar logam berat, serta tidak banyak pengolahan.

 

Bahan-bahan yang tidak baik dimasukkan ke dalam tubuh, khususnya jika digunakan secara terus-menerus seperti: penyedap, pengawet, perisa, pewarna, gula pasir, produk olahan, makanan cepat saji, makanan instan, dan obat kimia. Bahan-bahan tersebut dapat merusak tubuh kita, sehingga jelas semua bahan itu tidak thayyib.

 

Gaya Hidup Sehat

Melalui buku ini, dokter Zaidul mengajak pembaca untuk membangun pola makan yang sehat agar memperoleh tubuh yang sehat serta terhindar dari pelbagai penyakit. Namun tidak hanya soal makan yang perlu mendapat perhatian dalam menerapkan jurus atau formula sehat ala Rasulullah.

 

Gaya hidup sehat seperti menjaga kebersihan, berolahraga, tidur yang berkualitas, serta buang air kecil dan buang air besar yang benar juga perlu diperhatikan dan menjadi habit (kebiasaan) untuk memperoleh tubuh yang sehat.

 

Rasulullah misalnya, diriwayatkan sangat gemar berolah raga. Tubuh Rasulullah pun terawat dan atletis, sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Ummu Hani’, “Aku tidak melihat bentuk dari perut Rasulullah Saw kecuali aku teringat akan gulungan kertas yang bersusun antara satu dengan yang lainnya.” (Abu Dawud Sulaiman, Musnad Abi Dawud Ath Thayalisi, 1999/1419 H).

 

Riwayat tersebut menunjukkan betapa Rasulullah Saw disiplin dalam merawat kesehatan tubuhnya. Beberapa olahraga yang digemari Rasulullah adalah gulat, berkuda, memanah, berenang, dan berlari. 

 


 

Selain berolah raga, tidur berkualitas di malam hari juga penting untuk kesehatan. Tidurlah di malam hari dalam keadaan gelap karena ada hormon yang dikeluarkan kelenjar hipofisis yang bernama melatonin. Ternyata, malam yang diciptakan Allah untuk istirahat merupakan cara tubuh untuk memperbaiki diri dengan mengeluarkan melatonin.  

 

Meski terlihat sepele, cara buang air kecil dan buang air besar ternyata juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Rasulullah misalnya, mencontohkan buang air besar dengan posisi jongkok. Posisi jongkok jauh lebih efektif. Proses pengeluaran tinja akan jauh lebih cepat karena tekanan perut jauh lebih besar dibandingkan dengan posisi duduk.

 

Agar buang air besar lancar, dokter Zaidul juga menyarankan memperbanyak mengonsumsi serat dari buah-buahan dan minyak, seperti minyak zaitun, minyak pala, minyak wijen, dan beberapa minyak esensial lainnya, sehingga kita tidak perlu berlama-lama di kamar mandi.

 

Ibadah Kunci Kesehatan

Selain fisik, formula sehat yang tak kalah penting  adalah kesehatan qalbu (hati atau batin). Berpikir positif salah satunya. Semua pikiran positif akan memberi energi positif pada kehidupan seseorang. Orang yang berenergi positif akan memiliki emosi yang baik. Penyakit tidak akan datang pada orang yang memiliki emosi yang baik.

 

Beribadah dengan benar juga menjadi kunci kesehatan. Sehatnya Rasulullah Saw ternyata bermula dari amal ibadah yang luar biasa. Itu karena sesungguhnya banyak sekali hikmah dan kebaikan yang akan kita dapatkan ketika melaksanakan amal ibadah dengan baik, salah satunya adalah manfaat dalam bidang kesehatan.

 

Amal ibadah seperti wudhu, shalat, dan puasa, bila dijalankan dengan baik, akan sangat bermanfaat, termasuk dalam bidang kesehatan. Bahkan amal-amal ibadah lainnya seperti membaca Al-Quran, berdoa, bersedekah, bahkan haji dan umrah, juga memiliki manfaat terhadap kesehatan.

 


 

Shalat misalnya. Gerakan dalam shalat telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kesehatan. Dr. Alexis Carrel—pemenang Nobel dalam bidang kedokteran, pernah menyebutkan bahwa shalat ternyata memberi kumpulan energi yang luar biasa pada tubuh seseorang. Bahkan, dia mengatakan bahwa dalam shalat seakan-akan ada radium (bahan radioaktif) sebagai sumber energi yang dapat dipakai sebagai pengobatan pada penderita tuberkulosis, osteomyelitis (infeksi tulang), luka ulserasi, kanker, dan lain-lain.

 

Penelitian yang cukup menarik pernah dilakukan oleh Guru Besar Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Mohammad Sholeh, M.Pd, terkait dengan manfaat shalat tahajud. Hasilnya ditemukan fakta bahwa shalat tahajud yang dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan, tepat, rutin dan ikhlas, mampu memberikan peningkatan pada sistem kekebalan tubuh.  

 

Banyak kupasan menarik lainnya yang bisa dibaca secara lengkap di buku ini. Buku ini menyuguhkan formula hidup sehat Rasulullah—atau dalam istilah Dokter Zaidaul Akbar, JSR atau Jurus Sehat Rasulullah yang digali dari Al-Quran maupun al-Hadits, kemudian diperkaya dengan data-data ilmiah modern terkait kesehatan. Sehingga buku ini selain kontekstual, juga mencerahkan sekaligus aplikatif.

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan, Jawa Tengah. Tulisan ini dimuat di Duta Masyarakat, edisi 18 April 2020.