Kangasti ID
Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (1)

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (1)

Saat rekaman untuk cover lagu Bidadari Surga-nya Ust. Jefri Al-Buchori. [Foto: dokumen pribadi]

Saya akui, sejak kecil saya suka lagu—sekadar sebagai penikmat. Dan sebagai anak kamso (kampungan dan ndeso), memori saya tentang lagu-lagu yang saya sukai sumbernya adalah radio dan televisi (baca: TVRI) yang memang merupakan sumber utama hiburan ketika itu.

 

Masa kecil dan remaja saya lakoni pada rentang masa tahun 1980-an dan 1990-an. Soal lagu, saya tidak memfavoritkan genre lagu tertentu. Asal nadanya asyik dan syairnya syahdu—mengena di hati saya, saya suka. Karena itu, saya punya banyak memori lagu-lagu favorit secara pribadi lintas genre, baik dangdut, pop, dan nasyid—yang dulu diwakili oleh Nasida Ria Semarang.

 

Sampai sekarang, saya masih banyak hafal dan mampu mendendangkan sebagian besar lagu-lagu dangdut favorit saya—kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan Evi Tamala seperti Lilin-lilin Putih, Luka di Atas Luka, Sedingin Salju, Selamat Malam, Rembulan Malam, Senandung Rembulan, Kandas, dan sebagainya.

 

Harus saya akui, di antara pedangdut yang lagunya banyak (tidak semua) saya favoritkan adalah Evi Tamala. Sedang pedangdut lain hanya lagu-lagu tertentu saja seperti Ine Sinthya saya suka lagunya yang berjudul Memori Daun Pisang dan Prasangka; Ikke Nurjanah Cinta dan Dilema;  Cici Paramida Wulan Merindu; dan sebagainya.

 

Untuk pedangdut pria, Rhoma Irama-lah yang harus saya sebut. Pasalnya, saat saya kecil, dua orang kakak sepupu saya yang tinggalnya sebelah rumah, sangat menyukai lagu-lagu Rhoma Irama. Kata mereka kepada saya ketika itu, ibarat pepatah “tidak ada rotan, akar pun jadi”— lagu-lagu Rhoma Irama adalah rotan, dan lagu-lagu penyanyi lainnya adalah akar. Begitulah mereka mengibaratkan posisi Rhoma di hati mereka dibanding pedangdut lainnya.

 

Meski demikian, sebagaimana penyanyi lainnya, tak semua lagu-lagu Rhoma saya suka. Hanya beberapa lagu saja seperti Raib, Tabir Kepalsuan,  Pertemuan, dan Bahtera Cinta. Saya memang cenderung menyukai lagu-lagu bertema roman. 

 


 

Lagu Pop, Sejak Tito Sumarsono Hingga Poppy Mercury

Sebagaimana dangdut, saya juga tidak fanatik pada penyanyi pop tertentu. Saya menyukai lagunya—yang nada dan syairnya pas meresap di hati saya. Makanya, saya punya memori lagu-lagu tertentu yang saya suka dari banyak lagu pop lawas yang populer ketika itu.

 

Saya hafal dan suka lagu-lagu seperti Di Puncak Bukit Hijau-nya Jayanthi Mandasari; Maria-nya Julius Sitanggang; Kisah Kasih di Sekolah-Nya Obbie Messakh; bahkan hafal trilogi lagu Hati yang Luka karangan Obbi Messakh meliputi Hati yang Luka (dinyanyikan Betharia Sonata), Penyesalan (jawaban untuk lagu Hati yang Luka, dinyanyikan Obbie Mesakh sendiri) dan  Tiada Duka Lagi (dinyanyikan duet Betharia Sonata dan Obbie Mesakh).

 

Selain itu ada lagu-lagu yang populer setelahnya yang saya suka antara lain: Aku Sayang Kamu-nya Cindy Claudia Harahap; Cintaku Tak Terbatas Waktu-nya Annie Carera, dan Kasih-nya Ismi Aziz. Lalu, lagu-lagu yang didendangkan Poppy Mercuri seperti Pelangi Cinta, Tragedi Antara Kuala Lumpur – Penang,  Antara Jakarta dan Penang, Surat Undangan, Hati yang Luka, Terlambat Sudah, dan lainya.

 

Lagu-lagu pop lainnya yang saya suka: Untukmu dan Tuhan Tolonglah-nya Tito Sumarsono, Dinda di Mana-nya Katon Bagaskara, dan Sanggupkah Aku-nya Andy Liany. Untuk lagu-lagu yang dibawakan group musik, favorit saya antara lain: Kangen-nya Dewa 19, Tataplah-nya Cool Colour, Bukan Pujangga-nya Base Jam, Yogyakarta-nya Kla Project, Cerita Cinta-nya Kahitna, Mungkinkah dan Cinta Suci-nya Stinky, dan lain sebagainya.

 

Nasida Ria, Kenangan Bersama Bapak

Nasida Ria, group kasidah legendaris dari Semarang. [Foto: istimewa]

Adapun lagu-lagu nasyid--tepatnya kasidah, tak banyak ketika itu. Yang saya kenal hanya Nasida Ria Semarang yang sangat populer di masa kecil saya. Bapak saya yang secara tidak sengaja memperkenalkannya. Di rumah, bapak sering memutar lagu-lagu Nasida Ria dari radio tape yang beliau punya.

 

Dari situlah, saat bapak memutar kaset Nasida Ria, mau tak mau, saya ikut mendengarkannya dan sebagian secara tak sadar saya hafal liriknya. Lagu-lagu Nasida Ria seperti Jilbab Putih, Tahun 2000, Kota Santri, Perdamaian, dan lain-lain, sangat akrab di telinga saya dan sangat memorable.

 

Lagu-lagu Nasida Ria tak melulu religi, tapi juga ada yang bertema roman cinta, di antaranya yang sangat saya hafal ketika itu adalah sebuah lagu berjudul Tergila-gila, penggalan syairnya sebagai berikut:

 

Seindah-indah bulan purnama, lebih indah wajahnya

Semanis-manisnya madu, lebih manis senyumnya

Duh aduh aku tak tahan, kala ia memandangku

Hati rasa begetar, berdenyut-denyut jantungku

Dia tersenyum mesra, dengan ramah menyapaku

Bingung bingung, aku bingung, tersipu malu  

 

Boleh dikata, ketika itu, Nasida Ria merupakan satu-satunya group musik religi yang paling masyhur. Sebagai anak yang lahir dari keluarga dengan iklim religius, mau tidak mau, saya mengenal lagu-lagu Nasida Ria yang hingga saat ini masih direproduksi juga dicover oleh banyak group-group  musik religi.

 

Ketika itu, lagu-lagu religi dari Nasida Ria banyak diputar saat pesta hajatan warga, terutama di perdesaan, antara lain di acara mantenan atau walimatul ‘ursy. Syahdunya ketika itu....

 

Menggemari Nasyid

Tahun-tahun terakhir di pengujung tahun 1990-an, saya mulai menyukai lagu-lagu religi atau nasyid dengan tema religi yang lebih kental yang booming ketika itu, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Genre nasyid inilah yang sangat membekas di hati saya, yang berpuluh tahun kemudian ketika pageblug Covid-19 mengguncang dunia dan masyarakat harus stay at home, saya merasa perlu ada hiburan, salah satunya menyalurkan “hobi terpendam” saya, yaitu: menyanyi.

 

Lagu nasyid yang saya pilih. Kenapa saya memilih nasyid? Apa dan bagaimana saya kemudian “memberanikan diri” mengcover lagu nasyid? Simak di tulisan berikutnya ya. (Bersambung).  

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur dan Citizen Journalist

Formula Hidup Sehat Rasulullah

Formula Hidup Sehat Rasulullah

 

Kaver buku Jurus Sehat Rasulullah karya dr. Zaidul Akbar. [foto: toko-muslim.com]

Data buku:

Judul: Jurus Sehat Rasulullah, Hidup Sehat Menebar Manfaat

Penulis: dr. Zaidul Akbar

Penerbit: PT. Sygma Media Inovasi, Bandung

Cetakan ke-1: Februari 2020

Tebal: xx + 316 hlm

ISBN: 978-623-92873-5-1

 

“Sehat memang bukan segala-galanya, tapi tanpa sehat, segala-galanya sering tak berarti apa-apa,” begitu kalimat bijak yang sering kita dengar. Kesehatan memang penting, bahkan sangat penting, tapi sayangnya, tak sedikit yang mengabaikannya. Baru tersadar akan arti penting kesehatan saat raga sudah terkulai lemah diserang penyakit.

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua nikmat yang karenanya banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

 

Salah satu penyumbang rentannya kesehatan orang zaman sekarang adalah pola makan yang buruk. Makan hanya asal enak, tanpa menimbang apakah makanan yang masuk ke perutnya itu baik, atau justru merusak raganya.

 

Melalui buku yang berjudul Jurus Sehat Rasulullah ini, dokter Zaidul Akbar mengingatkan pentingnya memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Menurutnya, tubuh yang sehat dimulai dari pencernaan atau perut yang sehat. Jika perut bermasalah, dipenuhi makanan tinggi gula, kurang serat, dan tercampur dengan bahan kimia sintetis, bisa dipastikan perut itu akan jadi rumah penyakit.

 

Dalam doktrin Islam, makanan yang dikonsumsi haruslah memenuhi dua syarat, yaitu halal dan thayyib (baik). Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran, “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan thayyib (baik) yang terdapat di Bumi...” (QS. Al-Baqarah, 2: 168).      

 

Sesuai pesan ayat tersebut, halal saja tidak cukup dalam soal makanan sehat. Makanan yang dikonsumsi haruslah thayyib. Soal thayyib ini, dokter Zaidul menyatakan, sebuah makanan disebut thayyib apabila memenuhi parameter umum: aman dikonsumsi—baik jangka pendek atau pun jangka panjang; tumbuh di tanah yang tinggi mineral; bebas dari bahan kimia sintetik; mendapat cahaya matahari; dan tidak terpapar logam berat, serta tidak banyak pengolahan.

 

Bahan-bahan yang tidak baik dimasukkan ke dalam tubuh, khususnya jika digunakan secara terus-menerus seperti: penyedap, pengawet, perisa, pewarna, gula pasir, produk olahan, makanan cepat saji, makanan instan, dan obat kimia. Bahan-bahan tersebut dapat merusak tubuh kita, sehingga jelas semua bahan itu tidak thayyib.

 

Gaya Hidup Sehat

Melalui buku ini, dokter Zaidul mengajak pembaca untuk membangun pola makan yang sehat agar memperoleh tubuh yang sehat serta terhindar dari pelbagai penyakit. Namun tidak hanya soal makan yang perlu mendapat perhatian dalam menerapkan jurus atau formula sehat ala Rasulullah.

 

Gaya hidup sehat seperti menjaga kebersihan, berolahraga, tidur yang berkualitas, serta buang air kecil dan buang air besar yang benar juga perlu diperhatikan dan menjadi habit (kebiasaan) untuk memperoleh tubuh yang sehat.

 

Rasulullah misalnya, diriwayatkan sangat gemar berolah raga. Tubuh Rasulullah pun terawat dan atletis, sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Ummu Hani’, “Aku tidak melihat bentuk dari perut Rasulullah Saw kecuali aku teringat akan gulungan kertas yang bersusun antara satu dengan yang lainnya.” (Abu Dawud Sulaiman, Musnad Abi Dawud Ath Thayalisi, 1999/1419 H).

 

Riwayat tersebut menunjukkan betapa Rasulullah Saw disiplin dalam merawat kesehatan tubuhnya. Beberapa olahraga yang digemari Rasulullah adalah gulat, berkuda, memanah, berenang, dan berlari. 

 


 

Selain berolah raga, tidur berkualitas di malam hari juga penting untuk kesehatan. Tidurlah di malam hari dalam keadaan gelap karena ada hormon yang dikeluarkan kelenjar hipofisis yang bernama melatonin. Ternyata, malam yang diciptakan Allah untuk istirahat merupakan cara tubuh untuk memperbaiki diri dengan mengeluarkan melatonin.  

 

Meski terlihat sepele, cara buang air kecil dan buang air besar ternyata juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Rasulullah misalnya, mencontohkan buang air besar dengan posisi jongkok. Posisi jongkok jauh lebih efektif. Proses pengeluaran tinja akan jauh lebih cepat karena tekanan perut jauh lebih besar dibandingkan dengan posisi duduk.

 

Agar buang air besar lancar, dokter Zaidul juga menyarankan memperbanyak mengonsumsi serat dari buah-buahan dan minyak, seperti minyak zaitun, minyak pala, minyak wijen, dan beberapa minyak esensial lainnya, sehingga kita tidak perlu berlama-lama di kamar mandi.

 

Ibadah Kunci Kesehatan

Selain fisik, formula sehat yang tak kalah penting  adalah kesehatan qalbu (hati atau batin). Berpikir positif salah satunya. Semua pikiran positif akan memberi energi positif pada kehidupan seseorang. Orang yang berenergi positif akan memiliki emosi yang baik. Penyakit tidak akan datang pada orang yang memiliki emosi yang baik.

 

Beribadah dengan benar juga menjadi kunci kesehatan. Sehatnya Rasulullah Saw ternyata bermula dari amal ibadah yang luar biasa. Itu karena sesungguhnya banyak sekali hikmah dan kebaikan yang akan kita dapatkan ketika melaksanakan amal ibadah dengan baik, salah satunya adalah manfaat dalam bidang kesehatan.

 

Amal ibadah seperti wudhu, shalat, dan puasa, bila dijalankan dengan baik, akan sangat bermanfaat, termasuk dalam bidang kesehatan. Bahkan amal-amal ibadah lainnya seperti membaca Al-Quran, berdoa, bersedekah, bahkan haji dan umrah, juga memiliki manfaat terhadap kesehatan.

 


 

Shalat misalnya. Gerakan dalam shalat telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kesehatan. Dr. Alexis Carrel—pemenang Nobel dalam bidang kedokteran, pernah menyebutkan bahwa shalat ternyata memberi kumpulan energi yang luar biasa pada tubuh seseorang. Bahkan, dia mengatakan bahwa dalam shalat seakan-akan ada radium (bahan radioaktif) sebagai sumber energi yang dapat dipakai sebagai pengobatan pada penderita tuberkulosis, osteomyelitis (infeksi tulang), luka ulserasi, kanker, dan lain-lain.

 

Penelitian yang cukup menarik pernah dilakukan oleh Guru Besar Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Mohammad Sholeh, M.Pd, terkait dengan manfaat shalat tahajud. Hasilnya ditemukan fakta bahwa shalat tahajud yang dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan, tepat, rutin dan ikhlas, mampu memberikan peningkatan pada sistem kekebalan tubuh.  

 

Banyak kupasan menarik lainnya yang bisa dibaca secara lengkap di buku ini. Buku ini menyuguhkan formula hidup sehat Rasulullah—atau dalam istilah Dokter Zaidaul Akbar, JSR atau Jurus Sehat Rasulullah yang digali dari Al-Quran maupun al-Hadits, kemudian diperkaya dengan data-data ilmiah modern terkait kesehatan. Sehingga buku ini selain kontekstual, juga mencerahkan sekaligus aplikatif.

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan, Jawa Tengah. Tulisan ini dimuat di Duta Masyarakat, edisi 18 April 2020.

Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw di Rumah Sehat Thakza Wirosari Grobogan

Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw di Rumah Sehat Thakza Wirosari Grobogan

 

Ustaz Riyanto, PAZtrooper yang membuka layanan penyembuhan dengan metode PAZ Al Kasaw. [Foto: Wahyu K]

Rumah Sehat Thakza beralamat di Dusun Keliling RT 01 RW III, Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Lokasinya persis di seberang lapangan Bantolo Sakti. Rumah Sehat Takzha dikelola oleh Ustaz Riyanto—saya biasa memanggilnya Riyanto saja, seorang praktisi thibbun nabawi yang juga seorang ustaz (guru) di SDIT Ar-Risalah Wirosari.

 

Secara pribadi, saya sudah lama mengenal pengelola Rumah Sehat Takzha itu. Akhir tahun 1999, ketika saya mendirikan Forum Remaja Madani (Formad)—sebuah wadah dakwah dan pemberdayaan remaja muslim di Kecamatan Wirosari dan sekitarnya, Riyanto adalah salah satu anggota aktif.

 

Saat itu Riyanto masih seorang pelajar SMA, yaitu di SMA Al-Islam Wirosari. Riyanto aktif juga di majlis taklim remaja yang saya asuh, yaitu di Kelompok Kerja Majlis Taklim (KKMT) Formad yang anggotanya adalah para pelajar SMP dan SMA dari lintas sekolah di Kecamatan Wirosari dan sekitarnya.

 

Saya tidak lagi mengasuh KKMT Formad saat saya harus ‘hijrah’ ke kecamatan lain karena menikah pada tahun 2003. Tapi saya masih sering kontak dengan Riyanto, namun jarang ketemu. Sampai kemudian ia kuliah dan kemudian mengajar di sebuah SDIT di Wirosari sampai sekarang. 

 

Bahkan saya ketahui, ia juga menjadi seorang praktisi thibbun nabawi, di antaranya membuka layanan penyembuhan melalui bekam (al-hijamah), selain juga seorang pelatih Taekwondo.

 

Menjadi PAZtrooper

Perkembangan terkini, Riyanto juga ikut pelatihan sebuah metode pengobatan yang ditemukan oleh Ustaz Haris Moejahid rahimahullah, yang saat ini sedang populer-populernya, yaitu Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw. Dan saat ini Riyanto membuka layanan penyembuhan melalui metode tersebut di rumahnya yang sekaligus dijadikan tempat ‘klinik’-nya—yang ia sebut dengan Rumah Sehat Thakza.

 

Saya sudah beberapa kali silaturahmi ke ‘klinik’-nya, bahkan telah melihat bagaimana Riyanto menerapi ‘pasien’-nya dengan bekam maupun dengan metode PAZ Al-Kasaw. Bahkan saya sendiri sudah merasakan dibekam dan diterapi dengan metode PAZ oleh Riyanto.

 

Ustaz Riyanto saat menerapi saya dengan metode PAZ Al-Kasaw. [Foto: Wahyu K]

PAZ Al-Kasaw sendiri adalah terapi atau metode pengobatan berbasis perbaikan rangka tubuh manusia yang ditemukan oleh Allahu yarham Ustadz Haris Moejahid, alumni Technische Universiteit Delft jurusan Aeronoutical Enginering (spesialisasi struktur dan rangka pesawat terbang), Belanda.

 

Bentuk pengobatannya melalui berbagai gerakan dalam rangka memperbaiki rangka tubuh yang menjadi sumber keluhan pelbagai penyakit—yang bisa dipelajari oleh siapapun. Hingga saat ini lebih dari 12 ribu orang yang sudah mempelajari metode penyembuhan ini dan telah banyak masyarakat yang terbantu penyembuhan atas penyakit yang diderita melalui wasilah terapi ini, biiznillah

 

Sehingga boleh dibilang, PAZ Al Kasaw ini merupakan ikhtiar agar setiap muslim bisa memiliki ketrampilan menyelesaikan aneka penyakit dengan cara-cara yang sederhana, praktis, bisa diterapkan kapan saja dan di mana saja, hasilnya cepat, tanpa butuh alat khusus, serta tanpa jimat, tanpa rapalan mantra, dan bebas dari kesyirikan. Slogan PAZ Al-Kasaw adalah tanpa operasi, tanpa obat, tanpa alat, dan tanpa jimat.

 

Bagi saudara-saudara kamu muslimin di manapun berada yang membutuhkan infomasi tentang PAZ Al-Kasaw, baik karena ingin mencari wasilah kesembuhan maupun karena tertarik mendalami ilmu PAZ, bisa mengunjungi website resmi PAZ Al-Kasaw, yakni di: https://pazindonesia.com/

 

Atau yang berada di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan dan sekitarnya bisa menghubungi Rumah Sehat Thakza yang beralamat di Dusun Keliling RT 01 RW III, Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Nomor WhatsApp: 085292727070

 

Tonton video kami tentang Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw di Rumah Sehat Thakza Wirosari:

 


 *Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist & Peminat Kajian Thibbun Nabawi

Kak Erwin, Diploma Teknik Kimia yang 'Tersesat' Jadi Juru Cerita

Kak Erwin, Diploma Teknik Kimia yang 'Tersesat' Jadi Juru Cerita

 

Gaya Kak Erwin sebagai juru cerita. [Foto: Istimewa]

Saya lupa persisnya sejak kapan saya mulai mengenalnya. Ketika itu, ia seorang penyiar radio di Purwodadi FM—stasiun radio milik Pemkab Grobogan. Ia pernah mengundang saya ke radio tersebut untuk sebuah acara inspirasi. Saya diwawancara seputar aktivitas kepenulisan saya.

 

Sejak saat itulah saya mengenalnya dan bersahabat—meski belum begitu intens dan akrab. Ia bernama asli Nur Setyo Pambudi atau publik lebih mengenalnya dengan sapaan Kak Erwin—nama tenarnya sebagai penyiar radio.

 

Januari 2011, lewat inbox facebook, ia menghubungi saya dan meminta izin ngamen—istilah darinya—yang maksudnya adalah mendongeng di sekolah (RA) yang saya kelola. Seketika langsung saya jawab “oke”. Dan pada Senin, 24 Januari 2011, ia datang dengan membawa boneka tangan dan mendongeng di depan anak-anak di sekolah yang saya kelola.

 

Ternyata itu adalah debut mendongeng pertamanya sebelum kemudian ia menjadi pendongeng atau juru kisah yang kondang kawentar seperti saat ini. Saat ini, namanya sudah sohor. Ia tidak hanya telah menyapa anak-anak di hampir seluruh pelosok Grobogan dengan kisah-kisahnya. Tapi juga telah menuturkan kisah-kisah teladannya ke anak-anak di lintas kabupaten, bahkan lintas provinsi.

 

Sejak mendongeng di sekolah saya itu, saya semakin akrab dengannya. Dan secara periodik  mengundangnya ke sekolah yang saya kelola, untuk mendongeng, hingga sekarang.

 

Peduli Jalan Lubang

Setelah mengenalnya, Kak Erwin—demikian saya juga biasa menyapanya—adalah sosok unik yang pernah saya kenal. Nanti saya akan cerita letak keunikannya di mana. Sebelum ke situ, saya ingin menceritakan bagian ini terlebih dulu. 

Kak Erwin (tengah) saat laaunching gerakan KPJLG di Rumah Makan Soso, Jalan Hayam Wuruk, Purwodadi, pada Jumat (6/5/2011). [Foto: Istimewa]
 

April 2011, lagi-lagi lewat inbox facebook, Kak Erwin menghubungi saya dan mengajak saya untuk terlibat dalam sebuah aksi sosial. Sejujurnya, saya agak gamang dengan ajakan itu. Namun Kak Erwin berhasil meyakinkan saya, hingga saya mengiyakan ajakannya.

 

Akhirya, pada Jumat, 6 Mei 2011, lima orang meliputi saya (penulis), Kak Erwin (penyiar radio),  Sugiyanto alias Ndoro Sugi (fotografer), Nur Cholis (guru), dan Suwantono (guru), secara resmi melaunching sebuah gerakan sosial yang kemudian populer dengan sebutan gerakan Koin Peduli Jalan Lubang Grobogan (KPJLG). Ketika itu jalan di wilayah Grobogan memang bayak yang parah.

 

Launching dilakukan di Rumah Makan Soso, Jalan Hayam Wuruk, Purwodadi. Kak Erwin sebagai inisiator didaulat sebagai koordinator gerakan. Gerakan KPJLG ini kayaknya cukup menyedot perhatian. Launching KPJLG diliput hampir semua koran mainstream ketika itu. Suara Merdeka, Solopos, Kedaulatan Rakyat, dan lainnya, merilis berita launching itu keesokan harinya—yang kemudian sepertinya menyengat pihak penguasa.

 

Kuliahnya Apa Jadi Apa?

Meski gerakan itu tinggal kenangan, namun sesungguhnya, inisiasi KPJLG menyiratkan sisi unik sosok Kak Erwin. Bagi saya, Kak Erwin memang sosok unik. Setidaknya bila dilihat dari sisi studinya yang “jaka sembung naik ojek” alias gak nyambung jek dengan pasison-nya—yang sebenarnya merupakan fenomena umum di Indonesia.

 

Gaya Kak Erwin saat mendongeng bersama bonekanya yang diberi nama Cuncun. [Foto: Badiatul M. Asti]

Di mata saya, Kak Erwin itu sosok multi talenta. Lebih ke punya bakat seni ketimbang berkutat di latar belakang studinya yang farmasi dan teknik kimia. Bisa nggitar sehingga pernah ngamen. Bisa melukis sehingga pernah menghadiahi saya lukisan wajah saya dengan gaya karikatural.

 

Sehingga tak aneh, bila perjalanan hidupnya makin ke sini justru makin jauh dari latar studinya. Kayaknya ilmu hasil sekolah (farmasi) dan kuliah (teknik kimia)-nya, gak membekas pada dirinya.

 

Sebelum malang melintang sebagai juru kisah, juru cerita, pendongeng—atau apapun namanya seperti saat ini, ia adalah seorang penyiar radio. Dari penyiar radio lalu beralih menjadi juru kisah profesional—yang belakangan saya tahu, ia “melebarkan sayap” dengan membuat tim outbound yang disebutnya dengan istilah Dobaba alias Dolanan Bareng-bareng.

Buku "Resep Mujarab Lihai Mendongeng" karya Kak Erwin. Info dan Pemesanan Hubungi WhatsApp: 085742208552

Oh ya, penting didiketahui, komitmennya terhadap dunia kisah, ia wujudkan dalam sebuah buku yang berjudul Resep Mujarab Lihai Mendongeng, Membentuk Akhlak Anak Melalui Cerita (2017). Buku itu saya edit dan terbitkan melalui penerbitan yang saya kelola: CV. Hanum Publisher. Menurut Kak Erwin dalam sebuah podcast bersama saya, buku itu ia tulis berkat “kutukan” dari saya hahaha....suatu hari saat ia memoderatori saya dalam sebuah diskusi kepenulisan. Begitulah.

 

Simak perbincangan saya dengan Kak Erwin dalam sebuah video podcast di Rumah Pustaka BMA:

 


 
*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur & Citizen Journalist     

Palipuro dan Pelukis-pelukis Hebat Grobogan

Palipuro dan Pelukis-pelukis Hebat Grobogan

Saya bersama para pelukis Grobogan dalam acara Nggambar Bareng Palipuro di Alun-alun Purwodadi pada Minggu (29/5/20022). [Foto: Wahyu K)

Komunitas itu bernama Palipuro, kepanjangan dari “Perkumpulan Pelukis Purwodadi Grobogan”. Salah satu pendiri komunitas itu bernama  Didik Budiarto yang sudah cukup lama saya kenal. Di Palipuro, selain sebagai salah satu pendiri, Mas Didik—begitu saya biasa menyapanya—adalah nahkoda alias ketua komunitas berbasis seniman lukis ini.

 

Dari status yang dibagikan di akun facebook-nya beberapa waktu lalu, saya tahu Palipuro akan punya event pada hari Minggu (29/5/2022). Event internal—kopdar dan temu kangen anggota Palipuro yang dikemas dalam acara Nggambar Bareng Palipuro. Tempat acaranya di Alun-alun Purwodadi.

 

Sejak pandemi covid-19, seperti pelbagai komunitas lainnya, Palipuro tidak berkegiatan tatap muka. Komunikasi dan silaturahmi dijalin secara daring lewat media sosial. Boleh dikata, pertemuan pada Minggu itu adalah pertemuan pertama setelah dua tahun pandemi mereka tiarap, tidak berkegiatan tatap muka sama sekali.

 

Meski saya bukan anggota Palipuro—dan selama ini juga buta dan apatis soal seni lukis-melukis—tapi saya tertarik untuk ikut nimbrung pada acara tersebut. Maka, pada hari Minggu itu, saya bertolak merapat ke kegiatan para seniman lukis di Alun-alun Purwodadi itu. Saya ingin mengenal dan menjalin silaturahmi dengan mereka.

 

Pelukis-pelukis Hebat

Ketika saya hadir di tengah-tengah mereka, saya tak menyangka, saya bisa bertemu dengan para pelukis Grobogan yang ternyata tidak hanya memiliki reputasi nasional, tapi juga sudah berkelas internasional. Karya lukisan mereka sudah malang melintang di berbagai kompetisi dan pameran, baik tingkat lokal, regional, nasional, bahkan internasional.

 

Selama ini saya hanya mengenal Djoko Pekik, seniman lukis Indonesia asal Grobogan (lahir tahun 1937) yang tinggal di Jogjakarta. Djoko Pekik dijuluki “Pelukis Satu Milyar” karena harga lukisannya yang menembus angka satu milyar. Ya, lukisan karyanya yang bertajuk “Lukisan Indonesia 1998: Berburu Celeng” menjadi lukisan yang—tidak  hanya melambungkan namanya  dalam pameran lukisan di Jogjakarta pada tahun 1999, namun juga membuatnya mendulang pundi-pundi rupiah karena lukisan itu terjual dengan harga satu milyar rupiah.  

Djoko Pekik (duduk), seniman lukis Indonesia asal Grobogan yang populer dengan julukan "Pelukis Satu Milyar". [Foto: Kompas.com]

Ternyata, tak hanya Djoko Pekik, masih ada seniman lukis Grobogan lainnya yang hingga kini punya pamor cukup mentereng di kancah seni lukis Indonesia. Mereka masih sangat muda. Mereka hadir di kegiatan Nggambar Bareng Palipuro di Alun-alun Purwodadi, dan hari Minggu itu saya berkesempatan bertemu dan berbincang santai dengan mereka.

 

Tanpa menafikan yang lain, setidaknya saya mencatat ada tiga seniman lukis Grobogan yang—setelah saya menelusuri jejak mereka, saya mendapatkan jejak yang cukup mengagumkan. Siapa saja mereka? Ini selayang profilnya:

 

J Kuncung

J Kuncung [Foto: Wahyu K]

J Kuncung adalah pelukis asal Desa Jenengan, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan . Tahun 2003 ia bergabung dengan komunitas seni di Universitas Terbuka Pasar Seni, Ancol, Jakarta. Di komunitas seniman se-Asia Tenggara itu ia tertarik menekuni seni lukis. Selain aktif mengikuti pameran bersama, ia juga pernah menghelat pameran tunggal bertema “Kuncung” di Pasar Seni Ancol, Jakarta (2018). Tahun 2020, pameran tunggal keduanya bertema “Secret of Jawa” dihelat di Candi Joglo Semar, Purwodadi.   

 

Ahmad Subandiyo 

Ahmad Subandiyo [Foto: Wahyu K]
 

Pelukis asal Grobogan ini pernah menjadi juara pertama kompetisi Seni Lukis Mandiri Art 2015 dengan mengantongi hadiah Rp 150 juta. Sebelumnya, ikut memamerkan karyanya di pameran bersama 'Cultural Bridge' di Wendt Gallery New York Amerika Serikat (2010) dan mengikuti eksibisi kolektif bersama 'Indonesian Heritage Society Art Fair 2014' di Duta Fine Art, Jakarta Selatan.

 

Eko Supa

Eko Supa [Foto: Wahyu K]
 

Pelukis asal Purwodadi bernama lengkap Eko Suparyanto ini dikenal sebagai seniman lukis spesialis lukisan karikatur. Aktif mengikuti pameran bersama. Pameran tunggal pertamanya dihelat di Galeri Hadiprana Jakarta tahun 2009 dengan mengusung tema “Orde Batik” yang menggambarkan tokoh-tokoh internasional dalam busana batik.

 

Beberapa lukisannya menjadi finalis Indonesia Art Awards (2010), Jakarta Art Awards (2010) dan berturut-turut tahun 2011, 2012, dan 2015, lukisannya menjadi finalis UOB Painting of the Year Indonesia, menyisihkan ribuan lukisan yang dikompetisikan.

 

Lukisannya yang bertajuk “Spirit Selendang” termasuk yang dipamerkan dalam Pameran Temporer Museum Basoeki Abdullah bertema “Spirit Potret” pada tahun 2018. Hingga saat ini Eko Supa masih aktif sebagai pelukis bebas yang mengolah karakter karikatural tokoh-tokoh besar Indonesia dan dunia.

 

Melihat jejak reputasi mereka, saya berharap Palipuro menjadi wadah yang semakin mengantarkan para pelukis Grobogan semakin kuat pengaruhnya di kancah seni lukis nasional maupun internasional, dan tentu, ikut mewarnai Grobogan dengan lukisan-lukisan yang indah dan penuh makna. Lanjutkan, kawan!

 

Tonton video mengenal Palipuro--wadah para pelukis di Kabupaten Grobogan berikut: 



*Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist