Kangasti ID: Pustaka
Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Sejarah Penyebaran Islam dari Kacamata Orientalis

Kaver buku "Sejarah Lengkap Penyabaran Islam" karya Prof. Dr. Thomas W. Arnold

 

Data buku:

Judul: Sejarah Lengkap Penyebaran Islam

Penulis: Prof. Dr. Thomas W. Arnold

Penerbit: Ircisod, Yogyakarta

Cetakan ke-1: Juli 2019

Tebal: 672 hlm

ISBN: 978-602-7696-90-7

 

Islam merupakan salah satu agama dakwah (missionary) terbesar di dunia bersama dengan Kristen dan Buddha. Sejarah penyebaran Islam menempuh perjalanan yang sangat panjang hingga mencapai jumlah pemeluk yang besar di seluruh belahan dunia seperti sekarang ini.

 

Max Muller, seorang filsuf dari Jerman yang juga pendiri studi ilmu agama, mendefinisikan istilah agama misioner sebagai “agama yag memiliki ajaran mendakwahkan kebenaran disertai meningkatnya upaya penarikan orang lain yang masih ingkar oleh pendiri atau para pengganti dari pendiri agama yang bersangkutan sampai titik upaya tersebut dianggap menjadi kewajiban suci.”

 

Masih menurut Muller, “Misionari menjadi semangat kebenaran yang menyala dalam hati para penganut dan tidak bisa ditinggalkan, bahkan ditunjukkan dalam pemikiran, kata-kata, dan perbuatan, yang tidak akan puas sampai agama tersebut bisa merasuk dalam setiap jiwa manusia hingga hal yang diyakini sebagai kebenaran diterima sebagai kebenaran pula oleh seluruh manusia.”

 

Semangat dakwah semacam itulah yang menjadi pemacu semangat kaum muslimin untuk senantiasa menyebarkan ajaran Islam ke seluruh umat manusia di setiap benua. Data tahun 2015 memperlihatkan, dari  7,3 miliar penduduk dunia, sekitar sepertiganya memeluk Kristen (31%). Umat Islam menduduki proporsi terbesar kedua dengan 1,8 miliar atau setara dengan 24% dari populasi global. Jumlah penganut umat Islam yang tersebar di seluruh dunia itu merupakan bukti kerja panjang dalam kegiatan dakwah Islam selama berabad-abad.    

 

Buku berjudul Sejarah Lengkap Penyebaran Islam ini merupakan karya seorang orientalis Islam asal Inggris yang juga seorang Profesor Studi Arabia di University of London bernama Sir Thomas Walker Arnold. Sebagai sebuah buku sejarah Islam, buku ini menyuguhkan kajian yang sangat menarik seputar penyebaran Islam, sejak awal agama Islam didakwahkan oleh Nabi Muhamad Saw di Mekah dan Madinah, hingga menyebar ke berbagai negara di dunia.

 


 

Penyebaran ajaran Islam demikian pesat menjamah hampir di setiap penjuru dunia dengan beragam sebab dan aneka latar belakang sosial, politik, serta agama. Namun, dari berbagai sebab yang ada, faktor terbesar dari persebaran ajaran Islam yang kian tak terbantahkan adalah munculnya tenaga-tenaga misionaris muslim. Mereka merelakan diri menjadi dai untuk mengislamkan orang-orang kafir dengan Nabi Muhammad Saw sebagai teladan utama mereka.  

 

Hebatnya, menurut Thomas W. Arnold dalam buku ini, dakwah misioner Islam tidak pernah dilakukan dengan penganiayaan yang penuh kekejaman atau dilandasi kemarahan sikap fanatik. (hlm. 19). Metode dakwah damai hanya akan ditinggalkan ketika lingkungan politik memaksa mereka untuk menggunakan kekuatan dan kekerasan atau cara-cara damai tidak mungkin ditempuh dan jalur politik tak bisa diusahakan lagi. (hlm. 20).

 

Prinsip Dakwah

Buku ini oleh Thomas W. Arnold dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana idealisme ini muncul dalam sejarah dan bagaimana prinsip-prinsip kegiatan dakwah dipraktikkan di lapangan oleh para eksponen Islam. Di luar tujuan ini, buku ini tidak bertujuan mengungkap contoh-contoh kekuatan pengislaman yang mungkin ditemukan di sana-sini dari lembaran sejarah umat Islam. (hlm. 25).

 

Seperti contoh ungkapan kekejaman Khalifah Marwan, seorang khalifah terakhir Bani Umayyah, “Siapa pun penduduk Mesir yang tidak mau memeluk agamaku dan beribadah sebagaimana aku beribadah dan mengikuti ajaranku, maka aku akan membunuh dan menyalibnya.” Sebaliknya, Khalifah al-Mutawakkil, Khalifah al-Hakim, dan Sultan Tippu dianggap sebagai ciri khas misionaris Islam seperti halnya para dai semisal Sunan Maulana Malik Ibrahim di tanah Jawa, Khwaja Mu’inuddin Chisti di India dan dai-dai lain yang tak terhitung jumlahnya yang telah berhasil melakukan pengislaman dengan cara damai. (hlm. 27).

 

Buku ini terdiri atas 13 bahasan utama. Di bahasan awal, Thomas W. Arnold dengan sangat baik menyuguhkan ulasan tentang seputar kehidupan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang dai. Perjalanan dakwah Nabi Muhammad Saw yang panjang telah melewati liku-liku dan tantangan hebat, namun ia tak gentar meski menghadapi beragam intimidasi dan upaya kriminalisasi.

 

Saat di awal-awal dakwah, orang-orang Quraisy mengultimatum agar ia menghentikan dakwahnya dan mengancam akan melancarkan lebih banyak lagi siksaan dan kekerasan kepadanya bila ia tidak mau berhenti berdakwah. Namun dengan gagah ia menjawab:

 

“Sekalipun matahari diturunkan di atas tangan kananku dan bulan dikirimkan di atas tangan kiriku sebagai pilihan pengganti agar aku meninggalkan dakwahku atau binasa dalam rangka menjalani misi Tuhan, aku tidak akan pernah mencampakkan ajaran ini sampai Tuhan menyuruhku berhenti.” (hlm. 35).

 


Dengan demikian, dari sejak semula, Islam mengemban label sebagai agama misioner (agama dakwah) yang mengejar kemenangan hati manusia untuk mengislamkan serta menyerukan orang-orang agar mengikuti persaudaraan seiman. Dan sebagaimana permulaannya, karakter misioner ini berlanjut hingga sekarang ini. (hlm. 84).

 

Dari karakter misioner itulah, Islam menyebar hampir ke seluruh penjuru dunia. Dan di bab-bab selanjutnya, Thomas W. Arnold menyuguhkan ulasan yang memikat terkait sejarah penyebaran Islam tersebut, sejak penyebaran Islam di negara-negara Asia Barat, Afrika, Spanyol, Eropa, Asia Tengah, Mongol dan Tartar, India, Tiongkok, hingga di Kepulauan Melayu.

 

Dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna, serta didukung oleh data-data yang kredibel, buku setebal 672 halaman dan bersampul keras (hard cover) ini layak menjadi salah satu bacaan dan referensi terkait sejarah penyebaran Islam ke berbagai belahan dunia dari kaca mata seorang orientalis. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan.Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 3 Novermber 2019.

Formula Hidup Sehat Rasulullah

Formula Hidup Sehat Rasulullah

 

Kaver buku Jurus Sehat Rasulullah karya dr. Zaidul Akbar. [foto: toko-muslim.com]

Data buku:

Judul: Jurus Sehat Rasulullah, Hidup Sehat Menebar Manfaat

Penulis: dr. Zaidul Akbar

Penerbit: PT. Sygma Media Inovasi, Bandung

Cetakan ke-1: Februari 2020

Tebal: xx + 316 hlm

ISBN: 978-623-92873-5-1

 

“Sehat memang bukan segala-galanya, tapi tanpa sehat, segala-galanya sering tak berarti apa-apa,” begitu kalimat bijak yang sering kita dengar. Kesehatan memang penting, bahkan sangat penting, tapi sayangnya, tak sedikit yang mengabaikannya. Baru tersadar akan arti penting kesehatan saat raga sudah terkulai lemah diserang penyakit.

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua nikmat yang karenanya banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

 

Salah satu penyumbang rentannya kesehatan orang zaman sekarang adalah pola makan yang buruk. Makan hanya asal enak, tanpa menimbang apakah makanan yang masuk ke perutnya itu baik, atau justru merusak raganya.

 

Melalui buku yang berjudul Jurus Sehat Rasulullah ini, dokter Zaidul Akbar mengingatkan pentingnya memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Menurutnya, tubuh yang sehat dimulai dari pencernaan atau perut yang sehat. Jika perut bermasalah, dipenuhi makanan tinggi gula, kurang serat, dan tercampur dengan bahan kimia sintetis, bisa dipastikan perut itu akan jadi rumah penyakit.

 

Dalam doktrin Islam, makanan yang dikonsumsi haruslah memenuhi dua syarat, yaitu halal dan thayyib (baik). Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran, “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan thayyib (baik) yang terdapat di Bumi...” (QS. Al-Baqarah, 2: 168).      

 

Sesuai pesan ayat tersebut, halal saja tidak cukup dalam soal makanan sehat. Makanan yang dikonsumsi haruslah thayyib. Soal thayyib ini, dokter Zaidul menyatakan, sebuah makanan disebut thayyib apabila memenuhi parameter umum: aman dikonsumsi—baik jangka pendek atau pun jangka panjang; tumbuh di tanah yang tinggi mineral; bebas dari bahan kimia sintetik; mendapat cahaya matahari; dan tidak terpapar logam berat, serta tidak banyak pengolahan.

 

Bahan-bahan yang tidak baik dimasukkan ke dalam tubuh, khususnya jika digunakan secara terus-menerus seperti: penyedap, pengawet, perisa, pewarna, gula pasir, produk olahan, makanan cepat saji, makanan instan, dan obat kimia. Bahan-bahan tersebut dapat merusak tubuh kita, sehingga jelas semua bahan itu tidak thayyib.

 

Gaya Hidup Sehat

Melalui buku ini, dokter Zaidul mengajak pembaca untuk membangun pola makan yang sehat agar memperoleh tubuh yang sehat serta terhindar dari pelbagai penyakit. Namun tidak hanya soal makan yang perlu mendapat perhatian dalam menerapkan jurus atau formula sehat ala Rasulullah.

 

Gaya hidup sehat seperti menjaga kebersihan, berolahraga, tidur yang berkualitas, serta buang air kecil dan buang air besar yang benar juga perlu diperhatikan dan menjadi habit (kebiasaan) untuk memperoleh tubuh yang sehat.

 

Rasulullah misalnya, diriwayatkan sangat gemar berolah raga. Tubuh Rasulullah pun terawat dan atletis, sebagaimana yang pernah diriwayatkan oleh Ummu Hani’, “Aku tidak melihat bentuk dari perut Rasulullah Saw kecuali aku teringat akan gulungan kertas yang bersusun antara satu dengan yang lainnya.” (Abu Dawud Sulaiman, Musnad Abi Dawud Ath Thayalisi, 1999/1419 H).

 

Riwayat tersebut menunjukkan betapa Rasulullah Saw disiplin dalam merawat kesehatan tubuhnya. Beberapa olahraga yang digemari Rasulullah adalah gulat, berkuda, memanah, berenang, dan berlari. 

 


 

Selain berolah raga, tidur berkualitas di malam hari juga penting untuk kesehatan. Tidurlah di malam hari dalam keadaan gelap karena ada hormon yang dikeluarkan kelenjar hipofisis yang bernama melatonin. Ternyata, malam yang diciptakan Allah untuk istirahat merupakan cara tubuh untuk memperbaiki diri dengan mengeluarkan melatonin.  

 

Meski terlihat sepele, cara buang air kecil dan buang air besar ternyata juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Rasulullah misalnya, mencontohkan buang air besar dengan posisi jongkok. Posisi jongkok jauh lebih efektif. Proses pengeluaran tinja akan jauh lebih cepat karena tekanan perut jauh lebih besar dibandingkan dengan posisi duduk.

 

Agar buang air besar lancar, dokter Zaidul juga menyarankan memperbanyak mengonsumsi serat dari buah-buahan dan minyak, seperti minyak zaitun, minyak pala, minyak wijen, dan beberapa minyak esensial lainnya, sehingga kita tidak perlu berlama-lama di kamar mandi.

 

Ibadah Kunci Kesehatan

Selain fisik, formula sehat yang tak kalah penting  adalah kesehatan qalbu (hati atau batin). Berpikir positif salah satunya. Semua pikiran positif akan memberi energi positif pada kehidupan seseorang. Orang yang berenergi positif akan memiliki emosi yang baik. Penyakit tidak akan datang pada orang yang memiliki emosi yang baik.

 

Beribadah dengan benar juga menjadi kunci kesehatan. Sehatnya Rasulullah Saw ternyata bermula dari amal ibadah yang luar biasa. Itu karena sesungguhnya banyak sekali hikmah dan kebaikan yang akan kita dapatkan ketika melaksanakan amal ibadah dengan baik, salah satunya adalah manfaat dalam bidang kesehatan.

 

Amal ibadah seperti wudhu, shalat, dan puasa, bila dijalankan dengan baik, akan sangat bermanfaat, termasuk dalam bidang kesehatan. Bahkan amal-amal ibadah lainnya seperti membaca Al-Quran, berdoa, bersedekah, bahkan haji dan umrah, juga memiliki manfaat terhadap kesehatan.

 


 

Shalat misalnya. Gerakan dalam shalat telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan kesehatan. Dr. Alexis Carrel—pemenang Nobel dalam bidang kedokteran, pernah menyebutkan bahwa shalat ternyata memberi kumpulan energi yang luar biasa pada tubuh seseorang. Bahkan, dia mengatakan bahwa dalam shalat seakan-akan ada radium (bahan radioaktif) sebagai sumber energi yang dapat dipakai sebagai pengobatan pada penderita tuberkulosis, osteomyelitis (infeksi tulang), luka ulserasi, kanker, dan lain-lain.

 

Penelitian yang cukup menarik pernah dilakukan oleh Guru Besar Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. Mohammad Sholeh, M.Pd, terkait dengan manfaat shalat tahajud. Hasilnya ditemukan fakta bahwa shalat tahajud yang dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan, tepat, rutin dan ikhlas, mampu memberikan peningkatan pada sistem kekebalan tubuh.  

 

Banyak kupasan menarik lainnya yang bisa dibaca secara lengkap di buku ini. Buku ini menyuguhkan formula hidup sehat Rasulullah—atau dalam istilah Dokter Zaidaul Akbar, JSR atau Jurus Sehat Rasulullah yang digali dari Al-Quran maupun al-Hadits, kemudian diperkaya dengan data-data ilmiah modern terkait kesehatan. Sehingga buku ini selain kontekstual, juga mencerahkan sekaligus aplikatif.

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan, Jawa Tengah. Tulisan ini dimuat di Duta Masyarakat, edisi 18 April 2020.

Mbah Muntaha, Ulama Kharismatik dari Wonosobo

Mbah Muntaha, Ulama Kharismatik dari Wonosobo

 

Kaver buku "Biografi KH. Muntaha Al-Hafizh"

KH. Muntaha Al-Hafiz atau biasa disapa Mbah Muntaha atau Kiai Muntaha adalah seorang ulama kharismatik dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah Kalibeber, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Namanya populer berkat ide pembuatan Al-Quran Akbar yang dicetuskannya pada tahun 1994. Al-Quran Akbar 30 juz yang digagas oleh Mbah Muntaha konon (ketika itu) terbesar di seluruh dunia, yaitu berukuran 1 x 1,5 m, belum termasuk rehal dan ketika seluruh Al-Quran itu dibuka.

 

Pembuatan Al-Quran Akbar itu menjadi sangat monumental dan gaungnya menggema hingga ke tingkat nasional karena banyak media massa yang meliputnya, baik lokal maupun nasional. Tercatat media massa yang meliput antara lain The Jakarta Post, Kompas, Suara Karya, Jawa Pos, dan Suara Merdeka.

 

Penulisan Al-Quran Akbar dikerjakan oleh dua orang santri Al-Asy’ariyah ketika itu yaitu H. Hayatuddin dari Grobogan dan H. Abdul Malik dari Yogyakarta. Kertas yang digunakan untuk penulisan Al-Quran Akbar mendapatkan bantuan dari Menteri Penerangan ketika itu yaitu Harmoko. Setelah selesai dibuat, Al-Quran Akbar tersebut diserahkan kepada Presiden RI ketika itu, yaitu H. Muhammad Soeharto, di istana negara pada Selasa, 5 Juli 1994.

 

Ide pembuatan Al-Quran Akbar hanyalah secuil dari refleksi kecintaan Mbah Muntaha yang sangat besar terhadap Al-Quran. Sebelumnya, Mbah Muntaha juga mencetuskan ide penulisan buku Tafsir Maudhu’i atau tafsir tematik Al-Quran.

 

Untuk mengeksekusi ide tersebut, dibentuklah Tim 9 yang terdiri dari para ustaz di lingkungan Pesantren Al-Asy’ariyah dan dosen Institut Ilmu Al-Quran (IIQ)—sekarang menjadi Universitas Sains Al-Quran (UNSIQ) Wonosobo.

 

Buku tafsir tersebut akhirnya terbit dan beredar luas ke khalayak dengan judul Tafsir Maudhu’i Al-Muntaha. Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Pustaka Pesantren Yogyakarta, cetakan pertama tahun 2004.

 

Gagasan Kiai Muntaha terkait penulisan tafsir tematik ini dipandang sebagai langkah maju dari kiai pesantren yang sering dianggap sebagai tradisional. Sebagai seorang kiai dengan latar belakang pendidikan nonformal dari pesantren ke pesantren, Mbah Muntaha memang termasuk sosok ulama dengan pemikiran yang sangat maju dan visioner. Di antaranya nampak dalam inovasi dan pemikirannya di bidang pendidikan.

 

Mbah Muntaha-lah sosok dibalik ide berdirinya perguruan tinggi UNSIQ Wonosobo di bawah naungan Yayasan Pendidikan Ilmu Ilmu Al-Quran (YPIIQ). Mbah Muntaha menjadi salah satu pendiri sekaligus memegang jabatan rektor sebelum perguruan tinggi itu berubah menjadi universitas.

 

Di samping maju secara pemikiran dan visioner menatap masa depan, selebihnya Mbah Muntaha adalah sosok ulama sepuh yang kharismatik, santun dan rendah hati, yang hidupnya kuyup dengan butir-butir keteladanan. Ia juga sangat peduli terhadap kehidupan masyarakat dan dihormati oleh para pemimpin dan pejabat serta tokoh Islam lainnya. Tidak hanya tokoh dalam negeri, tapi juga tokoh luar negeri seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

 

Karenanya, saat Mbah Muntaha wafat, puluhan ribu orang datang ke Kalibeber untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok ulama kharismatik yang sangat dihormati itu. Mbah Muntaha wafat pada hari Rabu, 29 Desember 2004, dalam usia 94 tahun.

 

Buku ini menyajikan biografi Mbah Muntaha, perjalanan hidup, ide-ide, pemikiran, kiprah, dan perjuangannya. Membaca buku ini kita akan mereguk selaksa kesegaran hikmah dan sinar keteladanan dari sosok ulama yang mencintai kalam Allah, Al-Quran, di sepanjang hidupnya.<!--[if gte mso 9]>

 

Data Buku: 

Judul: Biografi KH. Muntaha Al-Hafizh, Ulama Kharismatik Pencetus Mushaf Al-Qur’an Akbar

Penulis: Drs. H. Samsul Munir Amin, MA

Penerbit: Media Kreasi Press

Cetakan pertama: Maret 2018

Tebal: xxii +155 hlm


*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan. Tulisan ini dimuat di Tribun Jateng, edisi Minggu, 8 Juli 2018.

Menjelajah dan Menikmati Eksotisme Turki

Menjelajah dan Menikmati Eksotisme Turki

Suara Merdeka, edisi Minggu, 27 Oktober 2019.

Turki adalah salah satu destinasi wisata dunia. Ada yang menyebut Turki sebagai “museum terbuka” karena tanah Anatolia itu menyimpan banyak sekali jejak peradaban demi peradaban dalam bentuk artefak sejarah dan peninggalan arkeologis.

 

Istanbul adalah daya pikat pertama Turki yang membuat banyak turis, khususnya dari Indonesia, yang ingin menjejak dan menjelajah segenap eksotismenya. Selain kaya akan aspek-aspek sejarah yang melumurinya, Istanbul adalah daerah yang secara geografis sangat strategis, indah, dan sekaligus sangat istimewa.

 

Masyarakat dunia secara umum mengenal Istanbul sebagai kota yang terletak di antara dua benua, yaitu Asia dan Eropa. Istanbul juga menyimpan pernak-pernik sejarah panjang yang bahkan jauh sebelum Romawi, Byzantium, ataupun Usmani.

 

Tempat-tempat wisata mainstream di Istanbul meliputi Masjid Biru (Masjid Fatih/Sultanahmet), Hagia Sophia, Istana Topkapi, Tur Busphorus, Masjid Sulaiman, Dolmabahce, Taksim, Galata Kulesi, Kiz Kulesi, dan Grand Bazaar. Delapan objek wisata ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi di Istanbul karena nyaris semua turis mengunjunginya.

 

Masjid Biru dan Haga Sophia adalah contoh kedigdayaan simbol sejarah sekaligus pariwisata Turki selain Istana Topkapi. Karya besar yang dihasilkan oleh dua peradaban yang berbeda ini telah sama-sama menunjukkan kemewahannya kepada panggung dunia.

 

Masjid Biru dan  Haga Sophia terletak di kawasan Fatih, salah satu distrik padat di Istanbul bagian Eropa. Haga Sophia dibangun sebagai katedral  pada tahun 537 M di masa Justinian I dengan menunjuk dua arsitek terbaik mereka, Isidore dan Anthemius.

 

Masjid Biru dibangun belakangan, tepatnya pada tahun antara 1463 -1470 M atas perintah Fatih Sultan Mehmed, penakluk Konstantinopel dari tangan Byzantium. Arsitek masjid ini berdarah Yunani, bernama Atik Sinan atau lebih dikenal dengan sebutan Mimar Sinan (Sinan si Arsitek). Dalam aspek arsitektur, Masjid Fatih bisa dibilang sebagai proyek monumental pertama dalam tradisi arsitektural kekaisaran Usmani. Jarak Masjid Biru dan Hagia Sophia sekitar panjang lesatan anak panah, salah satu senjata andalan di masa Usmani.

 

Haga Sophia atau Aya Sofya adalah bangunan katedral ortodoks yang hari ini menjadi objek wisata paling terkenal di Turki. Sebagai tempat ibadah bagi pemeluk Kristen Ortodoks, Hagia Sophia dicatat sebagai bangunan ketiga setelah gereja-gereja kecil sebelumnya mengalami kerusakan karena materialnya berbeda.


Besar dan Kuat

Bangunan kali ini diniatkan oleh sang penguasa untuk menjadi katedral yang sepenuhnya berbeda, besar, dan kuat. Kini, bersama Masjid Biru, Hagia Sophia yang disulap menjadi masjid setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmet pada tahun 1453 ini, sudah pasti masuk ke dalam daftar tujuan wisata di Istanbul.

 

Hagia Sophia dikenal sebagai bentuk arsitektur Byzantium yang khas dan bahkan menjadi terobosan baru bagi gaya-gaya arsitektur gereja pada masanya. Ia sudah mengalami lima kali perubahan fungsi, dari Katedral Kristen Byzantium (537-1204), Katedral Katolik Roma (1204-1261), Katedral Ortodoks Yunani (1261-1453), Masjid Usmani (1453-1931), dan Museum (1935-sekarang).

 

Ketika dialihfungsikan sebagai masjid, benda-benda penting katedral seperti bel, altar, iconostasis, mosaik bergambar Yesus, Bunda Maria, Penginjil Kristen, dan malaikat, dihancurkan. Sebagian lainnya dilapisi atau ditutup, lalu ditambah dengan unsur-unsur keislaman seperti mihrab dan empat menara yang hingga kini masih tegak. Galeri besar yang bisa disaksikan secara kasat mata adalah kaligrafi besar bertuliskan nama Nabi Muhammad, empat khalifah, Hasan dan Husein.

 

Destinasi lain seperti Istana Topkapi, Masjid Sulaiman, Dolmahbace, dan Grand Bazaar berada di sekitar Fatih. Jalan kaki adalah alternatif bagus untuk menjangkau semua tempat itu. Selain menyehatkan, juga bisa menikmati suasana agar pengalaman  traveling kian tambah mantap.

 

Kawasan Sultanahmet bisa menjadi tujuan pertama, setelah itu bisa satu per satu mengunjungi wisata-wisata mainstream di Istanbul. Dari satu tempat wisata ke destinasi selanjutnya berjarak sekitar 1 – 2 km. Kalau tidak mau jalan kaki, bisa naik tramvay, transportasi  paling nyaman di tengah kota, atau bus kota.

 

Untuk Kiz Kulesi, ada tur khusus dengan naik vapur. Caranya tinggal datang ke pelabuhan vapur di tepian Selat Bosphorus dan memastikan jadwal ke Kiz Kulesi. Adapun dari Sultanahmet ke arah Galata Kulesi berjarak sekitar 4 km. Jarak ini lebih menantang bila ditempuh dengan jalan kaki karena akan melewati Galata Koprusu alias Jembatan Galata, sembari menikmati pemandangan luas di tengah Bosphorus. Dari Galata, perjalanan bisa dilanjutkan sekalian ke Taksim.

 

Buku berjudul Jalan-jalan ke Turki yang ditulis oleh 11 pelajar Indonesia di Turki ini bisa menjadi referensi dan panduan traveling menjelajah eksotisme Turki yang sangat indah dan menajubkan. Namun, buru-buru harus disampaikan, Turki bukan hanya Istanbul. Banyak sekali objek-objek indah, eksotis, dan menarik lainnya di Turki yang bisa dijelajahi. Dari wisata-wisata mainstream hingga tempat-tempat tersembunyi.


Memesona

Ankara, Izmir, Mardin, Diyarbakir, Konya, Eskisehir, hingga Harran yang berbatasan dengan Suriah, semua memiliki daya tarik dan cerita tersendiri. Bentang alam yang memesona, kota tua, biara, masjid, makam para nabi, benteng, madrasah, dan gereja, mencatat jejak sejarah panjang Islam dan Kristen di bumi Anatolia.

 

Semua destinasi itu dirangkum dan diceritakan secara apik dan menarik dengan gaya reportase yang runtut dan memikat sebagai referensi bagi siapapun yang ingin menjelajah eksotisme Turki. Atau sekedar ingin menikmati Turki dari cerita-cerita yang ditulis oleh 11 pelajar Indonesia di Turki yang terhimpun dalam Tim Spirit Turki.

 

Bila masih ada yang kurang, maka itu adalah pelbagai makanan khas Turki yang belum dieksplorasi secara khusus. Karena kuliner, sepertinya kini telah menjadi bagian tak terpisahkan saat seseorang bertamasya ke sebuah daerah atau negara.     

    

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan. Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 27 Oktober 2019.
Mozaik Pemikiran Keislaman Gus Muwafiq

Mozaik Pemikiran Keislaman Gus Muwafiq

Kaver buku "Gus Muwafiq: Menggenggam Dalil Merawat Tradisi, Menjaga Kebangsaan Indonesia"

KH. Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq adalah dai muda yang sedang naik daun. Video rekaman ceramahnya di berbagai kesempatan sangat mudah dijumpai di media sosial seperti facebook dan youtube.


Posisi Gus Muwafiq mungkin bisa disejajarkan dengan dai-dai muda yang populer di media sosial lainnya seperti Ustaz Abdul Somad (UAS), Ustaz Adi Hidayat (UAH), atau Ustaz Hanan Attaki.  Hanya saja captive market audiens Gus Muwafiq berbeda dengan ketiga ustaz tersebut.

Bila ketiganya lebih digemari kalangan “muslim perkotaan”, audiens Gus Muwafiq kebanyakan adalah warga nahdliyyin yang lebih banyak tinggal di kampung, karena kiai berpenampilan gondrong itu memang berlatar belakang NU.

Beberapa waktu lalu, dai muda kelahiran Lamongan, 2 Maret 1974 itu kesandung masalah. Video berisi potongan ceramahnya di Purwodadi (Jawa Tengah) viral dan menjadi perbincangan hangat warganet. Banyak yang membela, tak sedikit yang mengecam karena konten isi ceramah Gus Muwafiq dinilai melecehkan Nabi Muhamad.

Dalam ceramahnya, Gus Muwafiq menyebut kelahiran Nabi Muhammad biasa saja, seperti manusia pada umumnya, tidak bersinar, masa kecilnya tak terurus saat diasuh oleh kakeknya, bahkan ia menyebut kata “rembes” yang dalam bahasa Jawa berarti mukanya dekil karena umbelen (beringus). 
 
Beberapa ulama menilai kata-kata itu tidak pantas ditujukan kepada Nabi Muhammad, bahkan terkategori melecehkan. Sebagian ulama menasehati Gus Muwafiq untuk meminta maaf dan bertobat kepada Allah Swt atas apa yang telah dikatakannya.

Atas peristiwa itu, secara khusus Gus Muwafiq melakukan klarifikasi, minta maaf, dan pada kesempatan lain, juga menyatakan bertobat kepada Allah. Sikap ini sesungguhnya merupakan teladan baik yang bisa dicontoh oleh para dai muda lainnya.

Di luar kehebohan itu, buku berjudul Gus Muwafiq: Menggenggam Dalil, Merawat Tradisi, Menjaga Kebangsaan Indonesia yang ditulis oleh Muhammad Ainur ini layak disimak untuk mengenal lebih dekat sosok Gus Muwafiq dan menyelami recik-recik pemikirannya tentang keislaman dan keindonesiaan. Buku setebal 248 halaman ini dibagi menjadi tiga bagian.

Bagian pertama mengupas profil Gus Muwafiq sebagai seorang santri, aktivis dan kiai. Jauh sebelum populer sebagai dai seperti sekarang, Gus Muwafiq adalah seorang santri yang mengaji dari satu pesantren ke pesantren lainnya. (halaman 14). Lalu menjadi aktivis pergerakan Islam (PMII) saat menjadi mahasiswa di IAIN (sekarang UIN) Sunan kalijaga Yogyakarta. Puncaknya, ia pernah didaulat menjadi Sekjen Mahasiswa Islam se-Asia Tenggara. (halaman 15).

Gus Muwafiq dikenal sebagai sosok yang sederhana. Pergulatannya di dunia pergerakan Islam, menempanya menjadi sosok yang bersahaja namun tangguh dan bisa beradaptasi dalam segala situasi. Gus Imad, salah seorang pengasuh pesantren di Wonosobo yang sering menemani Gus Muwafiq berdakwah pada zaman dahulu menuturkan bahwa Gus Muwafiq seringnya naik motor ke mana-mana. (halaman 20). Karena itulah, Gus Muwafiq bisa ceramah di segala situasi. Ia pernah diundang ceramah di istana oleh presiden Jokowi, tapi juga biasa ceramah di pengajian-pengajian kampung. 
 
Ia dikenal memahami sejarah Islam, terutama dalam konteks keislaman dalam bingkai keindonesian. Gus Muwafiq sangat fasih berbicara tentang nasionalisme, pentingnya merawat tradisi, spirit kebangsaan, dan mempertahankan NKRI. Islam ala Gus Muwafiq sering disebut dengan istilah Islam santun yang rahmatal lil’alamin.

Pada bagian kedua dan ketiga buku ini, penulis mendedah ragam pemikiran Gus Muwafiq dalam konteks keislaman, keindonesiaan, kepemimpinan, dan tentu saja, Islam yang rahmatal lil’alamin. Membaca isi buku ini lebih seperti menikmati mozaik alias keping-keping pemikiran Gus Muwafiq yang dipungut dan dirangkum dari ceramah-ceramah sosok kiai berbadan besar dan berambut gondrong itu. 

Namun, dari mozaik pemikiran itu, pembaca bisa membaca arah pemikiran Gus Muwafiq yang mengerucut pada dambaan untuk membangun ekspresi berislam ala Indonesia yang tetap berpijak dan berakar pada tradisi leluhur (tentu yang tidak bertentangan dengan Islam). Islam yang damai, santun, menghargai pluralitas, penuh kerukunan dan persatuan, dalam bingkai NKRI.

Karena itu, Gus Muwafiq tidak setuju bila Indonesia disebut sebagai negeri kafir atau negeri thaghut. (halaman 53).  Bagi Gus Muwafiq, Indonesia justru negeri paling syar’i, (setidaknya) karena ada banyak konsep dan istilah yang diambil dari bahasa Arab, seperti istilah rakyat, masyarakat, dan wilayah, yang mengandung makna yang mendalam. (halaman 105).

Gus Muwafiq juga mengingatkan perlunya menjaga NKRI dari berbagai ancaman seperti terorisme dan radikalisme. Baginya, menjaga NKRI adalah wujud jihad. (halaman 76). Ia juga tidak sependapat dengan pihak-pihak yang menuduh bahwa cinta Tanah Air adalah bid’ah dan tidak sesuai syariat Islam. Menurutnya, kelompok-kelompok yang ingin mewujudkan negara Islam tetapi merusak Tanah Air, meskipun mereka membawa segepok dalil, sesungguhnya mereka tidak paham esensi Islam. (halaman 132-133).

Di atas berbagai keping-keping pemikiran itu, Muhammad Ainur sebagai penulis buku ini memandang Gus Muwafiq termasuk salah satu ulama muda NU yang begitu peduli pada pentingnya tali persaudaraan agar dikuatkan. 
 
“Kalau kita kaji kembali isi-isi ceramahnya, juga gerakan-gerakan sosial-keagamaannya yang barangkali luput dari liputan media, sangat tampak bahwa Gus Muwafiq menginginkan terciptanya kerukunan, terjalinnya silaturahmi, dan kuatnya ikatan persaudaraan atas dasar cinta dan kasih sayang,” tulis Ainur. (halaman 146).

Buku ini memang belum utuh memotret profil Gus Muwafiq dan belum mendalam mengkaji pemikirannya. Namun sekelumit profil dan mozaik pemikiran yang dihadirkan di buku ini, setidaknya bisa menjadi instrumen bagi pembaca untuk mengenal sosok kiai muda NU yang tengah menjadi (salah satu) lakon di panggung dakwah Islam Nusantara saat ini.
 
Data buku:
Judul buku: Gus Muwafiq: Menggenggam Dalil, Merawat Tradisi, Menjaga Kebangsaan Indonesia
Penulis: Muhammad Ainur
Penerbit: Laksana Jogjakarta
Cetakan: Pertama, 2019
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-407-583-5 

*Badiatul Muchlisin Asti, Ketua Yayasan Mutiara Ilma Nafia Grobogan. Tulisan ini dimuat di Suara Merdeka, edisi Minggu, 26 Januari 2020.