Kangasti ID: Literasi
Buku Riwayat Kuliner Indonesia Diluncurkan, Kupas Sejarah Kuliner Ikonik Indonesia

Buku Riwayat Kuliner Indonesia Diluncurkan, Kupas Sejarah Kuliner Ikonik Indonesia

 

Saya [paling kanan], saat memaparkan buku Riwayat Kuliner Indonesia yang saya luncurkan. (Foto: Wahyu K)

Pada hari Selasa (23/8/2022) lalu, saya meluncurkan buku terbaru saya yang berjudul “Riwayat Kuliner Indonesia (Seri 1): Asal-usul, Tokoh, Inspirasi, dan Filosofi” di Rumah Kreatif Grobogan (RKG), Jalan DI Panjaitan, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah. Acara peluncuran dihadiri teman-teman dekat dari sejumlah tokoh budaya, pelaku wisata, penggiat ekonomi kreatif, pengusaha kuliner, pegiat literasi, content creator, dan lainnya.

“Asal-usul Aku Jatuh Cinta Pada Buku” dalam Antologi Puisi Samudra Ekspresi

“Asal-usul Aku Jatuh Cinta Pada Buku” dalam Antologi Puisi Samudra Ekspresi

Sumber ilustrasi: thumbnail di channel YouTube GolAGong TV
 

Sejak menekuni dunia kepenulisan pada tahun 1994, saya merasa “gak berbakat” menulis tulisan jenis fiksi. Saya lebih enjoy menulis nonfiksi. Tulisan pertama saya juga dalam bentuk artikel, dimuat di majalah Rindang edisi Juni 1994. Judulnya “Krisis Pergaulaan Remaja Modern”. Rindang adalah majalah bulanan yang diterbitkan oleh Departeman Agama (Depag) Jawa Tengah. Sekarang sudah tidak terbit.

 

Seterusnya, hingga sekarang, yang saya tulis juga tulisan-tulisan nonfiksi antara lain dalam bentuk: opini, esai, berita (liputan kegiatan), feature, resensi, dan lain sebagainya. Seingat saya, sekali saya pernah menulis cerkak (cerita cekak) alias cerpen berbahasa Jawa dan dimuat di majalah Jaya Baya. Edisi berapa dan tahun berapa saya lupa. Hanya yang saya ingat adalah judulnya, “Episode Cinta”—karena isinya memang cerita roman remaja dan dimuat di rubrik Roman Secuil.

 

Kalau puisi? Saya sudah koleksi dan membaca berulangkali buku-buku antologi puisi karya penyair bereputasi nasional maupun lokal, seperti Gus Mus, Rendra, D Zawawi Imron, dan lain sebagai, tapi saya merasa selalu “gagal” dan “tak percaya diri” setiap kali menulis puisi.

 

Puisi saya cenderung berbunga-bunga atau terlalu mudah “diendus” maksudnya. Meski kebanyakan puisi-puisi Gus Mus juga “lugas” dan “mudah diketahui maksudnya” seperti puisi “Di Negeri Amplop”, tapi puisi-puisi Gus Mus—menurut saya—pilihan katanya benar-benar memiliki daya satra dan “magis”.

 

Karena itulah, sepanjang usia kepenulisan saya, hingga kini saya memosisikan diri sebagai penikmat sastra, baik novel maupun cerpen dan puisi. Seumur-umur saya tak pernah memupuk mimpi menulis novel atau punya buku antologi cerpen atau puisi. Terbersit sih pernah—tapi hingga sekarang belum juga gumregah dan punya greget untuk merealisasikannya.

 

Tapi atas “todongan” seseorang pegiat literasi nasional bernama Dr. Muhsin Kalida—yang juga seorang pakar psichowriter dan dosen UIN Sunan Kalijaga Kogjakarta, beberapa waktu lalu, akhirnya saya “dipaksa” atau “terpaksa” menulis puisi dan akhirnya 3 buah puisi saya masuk ke dalam sebuah buku antologi bersama. Judul bukunya “Samudra Ekspresi, Antologi Puisi”, diterbitkan oleh penerbit Ladang Kata Jogjakarta bekerja sama dengan Yasuka Institute, Juli 2021.   

 

Buku itu diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. H. Hanna, M.Pd., seorang pegiat literasi, pengurus pusat Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB), dan guru besar Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari. Buku diberi endorsement oleh Duta Baca Indonesia, Gol A Gong dan penggagas buku tersebut, tak lain adalah Dr. Muhsin Kalida—yang “menodong” saya untuk ikut di “proyek penulisan” itu.

 

Berikut ini dua dari tiga puisi saya yang ada di dalam buku tersebut:

 

Asal-usul Aku Jatuh Cinta Pada Buku

 

di sebuah desa kecil

di sebuah madrasah sore

di sebuah ruang kelasnya

tersebutlah lemari buku tua

dengan ratusan buku-buku

di dalamnya

 

lemari buku itu

di pojokan kelas letaknya

di situlah aku biasa menghabiskan

waktu

saat teman-teman kecilku

asyik bermain gundu

aku lebih suka membaca buku

saat teman-teman kecilku asyik gegojekan

aku asyik melahap bacaan

 

aku selalu kagum

dengan cerita-cerita

di buku yang kubaca

seperti tentang regu pramuka

yang sukses menggulung komplotan penjahat

atau seorang anak yang berjasa pada kampungnya

 

bertahun buku di lemari itu

tak pernah bertambah

hingga aku lulus dari madrasah

mungkin, sampai kini

atau kini buku-buku itu sudah raib

aku tak tahu

 

tapi lemari buku di madrasah itu

tapi lemari buku di pojokan kelas itu

adalah tempat pertama kali

aku jatuh cinta pada buku

 

Bugel, Juni 2021

 

 

Sajak Kampung Halaman

 

berziarah ke kampung halaman

memungut serpihan tapak kenangan

yang menyerpih di pelataran madrasah

juga di sepanjang jalan dusun tanah tumpah darah

 

dulu, semua masih bersahaja

bermain jithungan di bawah terang purnama

bermain galasin, atau gobag sodor kami menyebutnya

di pelataran madrasah yang lumayan luasnya

 

dulu, hujan adalah kado dari langit

yang kami bisa pesta air dan bola
sungai lusi laksana bengawan surga

tempat berenang-renang dan berkejaran di bening airnya

 

sekarang, semua berlalu, zaman telah amat maju

tapak-tapak kenangan itu mulai sirna

anak-anak hanya karib dengan gawai

setan gepeng itu membius amatlah piawai

 

Berukudon, nama kampung halamanku

betapa pun tetaplah pelabuhan rindu

tempat aku pulang menenun kenangan

ihwal suatu masa pada zaman yang telah silam

 

Bugel, Juli 2019

 

Terlepas dari kualitas puisi saya yang “jauh panggang dari api” itu, tak apalah. Saya kira pembaca memaklumi, karena saya memang bukan serorang penyair hahaha.....tapi puisi saya di buku itu sempat mendapat komentar dari Gol A Gong yang bisa disimak di chanel YouTube-nya.

 

*Badiatu Muchlisin Asti, Citizen Journalist, Penulis Nonfiksi, bukan penyair.