Kangasti ID: Catatan
Mbah Bejo, Boyong Grobog, dan Sejarah Lokal Grobogan (1)

Mbah Bejo, Boyong Grobog, dan Sejarah Lokal Grobogan (1)

Mbah Bejo atau bernama asli Heru Hardono dikenal sebagai pemerhati sejarah Grobogan. [Foto: Wahyu K]

Saya mengenal dan kemudian banyak berinteraksi dengan Mbah Bejo saat saya menahkodai komunitas Grobogan Corner. Mbah Bejo termasuk salah satu yang kami daulat menjadi penasehat Grobogan Corner.

 

Grobogan Corner sendiri—biasa kami singkat GC—adalah sebuah komunitas yang basis awalnya adalah media sosial (facebook) yang kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah gerakan sosial di dunia nyata. GC resmi didirikan melalui sebuah pertemuan kopi darat pertama yang diadakan di Warung Makan Mbak Mun Godong (depan SPBU)  pada Jumat (21/11/2014).

 

Saat pertemuan itu, saya didaulat menjadi ketua komunitas dan Dr. Suwignyo Siswodiharjo, Sp.OG ditunjuk sebagai ketua dewan pembina. Salah satu tujuan GC sejak berdirinya adalah menggali dan ikut serta mengembangkan potensi lokal Grobogan di berbagai bidang, seperti kuliner, pariwisata, sejarah, UMKM, dan lain sebagainya. Beberapa program yang (pernah) digulirkan GC antara lain: susur wisata, visit UMKM, dan bincang inspirasi.

 


Di GC, saya banyak berinteraksi dengan Mbah Bejo karena memiliki minat yang sama terkait dengan sejarah lokal Grobogan. Mengenal Mbah Bejo—yang bernama asli Heru Hardono, adalah sesuatu yang amazing. Bagi saya, Mbah Bejo adalah ensikopedi hidup tentang sejarah lokal Grobogan.

 

Mbah Bejo fasih bila bercerita tentang pelbagai tempat dan bangunan bersejarah di Kabupaten Grobogan. Berinteraksi dengan Mbah Bejo, saya mendapat banyak asupan informasi tentang Grobogan di masa lalu. Mbah Bejo sendiri adalah seorang pensiunan pegawai negeri sipil, tinggal di Gubug. Berlatar seorang guru sekolah dasar.

 

Pengetahuannya yang melimpah terkait sejarah lokal Grobogan ternyata berawal dari hobinya ngluyur atau kluyuran ke berbagai tempat—terutama saat masih aktif dulu, di seantero wilayah Grobogan. Tak sekedar kluyuran, namun di balik itu Mbah Bejo banyak menggali dan dan mencatat data sejarah—yang kemudian dipadukan dengan bahan pustaka—baik dari buku, majalah, maupun artikel di internet. Kekayaan data itulah yang menjadikan Mbah Bejo kritis terhadap narasi sejarah.

Mbah Bejo (kiri) setelah menerima penghargaan sebagai pemerhati sejarah Grobogan pada Pekan Raya Gubug (PRG) Jumat (13/9/2019). [Foto: group Kluyuran]

Di media sosial Facebook, Mbah Bejo membuat group bernama Kluyuran sebagai tempat ia berbagi cerita sejarah lokal Grobogan—di samping juga membuat blog dengan link akses: heruhardono.blogspot.com (sudah non-aktif).  Postingan di blog ini banyak menjadi referensi atau rujukan para penulis saat menulis cerita lokal Grobogan.

 

Tak berlebihan bila kiprah itu mendapat apresiasi. Beberapa tahun silam, tepatnya pada Jumat (13/9/2019), Mbah Bejo memperoleh penghargaan sebagai seorang pemerhati sejarah Grobogan pada acara Pekan Raya Gubug (PRG). Penghargaan diserahkan oleh Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Sinoeng Nugroho Rachmad—yang ikut hadir pada acara tersebut.

 

Boyong Grobog

Salah satu yang mengejutkan saya adalah ketika Pemkab Grobogan menginisiasi gelaran tradisi yang dikaitkan dengan sejarah perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan—dari Grobogan ke Purwodadi—yang diberi nama Boyong Grobog. Bagi saya ketika itu, Boyong Grobog adalah gagasan genial sebagai daya tarik wisata baru sekaligus nguri-nguri sejarah.

 

Tapi tidak bagi Mbah Bejo. Suatu hari, ia tiba-tiba chat saya lewat inbox di Facebook. Di chat itu, intinya Mbah Bejo memberitahu saya bahwa gagasan Boyong Grobog adalah ahistoris. Ia tidak ada dalam perjalanan sejarah Grobogan.

 

Menurut Mbah Bejo, Boyong Grobog tidak ada dalam sejarah Grobogan—yang ada adalah perpindahan pusat pemerintahan. Nomenklatur “Boyong Grobog” karena itu tidak tepat dan ahistoris. Bila mengacu pada sejarah, yang tepat menurut Mbah Bejo, adalah “Boyong Projo”—karena yang terjadi adalah ‘sekadar’ perpindahan pusat pemerintahan, bukan nama kota yang dipindah.

 

Di sisi lain, asal-usul Grobogan sendiri, menurut Mbah Bejo, masih debatable alias belum pasti.  Apakah berasal dari Grobog berisikan senjata ataukah tempat menaruh binatang buruan yang tertangkap. Masih perlu diriset dan didiskusikan (lagi).

 

Apa yang disampaikan Mbah Bejo itu jujur mengagetkan saya sekaligus memantik hasrat saya untuk melakukan pembacaan secara kritis terkait sejarah Grobogan. Dari situlah kemudian kami terlibat diskusi cukup intens dan memutuskan untuk mempublikasi hasil diskusi kami.

Berita yang menyajikan statement Mbah Bejo tentang Boyong Grobog yang dimuat di Suara Merdeka, edisi Senin, (6/4/2015).

Koran akhirnya yang kami pilih, selain tentu media sosial Facebook sebagai basis awal gerakan kami di Grobogan Corner. Akhirnya, Suara Merdeka edisi  Senin (6/4/2015) memuat statement Mbah Bejo terkait Boyong Grobog dengan judul “Tradisi Perlu Dikaji Ulang: Tak Ada Boyong Grobog dalam Sejarah.”

 

Sepuluh hari kemudian, artikel opini saya terkait kritisisasi terhadap Boyong Grobog dimuat Suara Merdeka, edisi Kamis (16/4/2015) dengan judul “Landasan Boyong Grobog”—karena bagi kami, Boyong Grobog tidak memiliki pijakan sejarah yang kuat.

 

Tapi semua itu hanya angin lalu. Gelaran Boyong Grobog tetap berlangsung setiap tahun, hingga kini, tanpa edukasi. Banyak yang salah paham bahwa kritik kami terhadap gelaran Boyong Grobog sebagai sebuah penafian atau penolakan. Tidak. Sama sekali tidak.

 

Bagi saya, dan juga bagi Mbah Bejo, Boyong Grobog tetaplah ide genial dari sisi atraksi wisata--yang memang terbukti sangat magnetis menyedot masyarakat untuk menyaksikan. Namun, ide genial itu, gagasan keren itu, gagasan top abis itu, gagasan jos gandos itu, harus diikuti sosialisasi dan edukasi sejarah yang benar, agar masyarakat Grobogan, terutama generasi mudanya, tidak mendapatkan asupan sejarah yang distorsif. (bersambung).

 

Simak perbincangan hangat saya tentang Boyong Grobog dan Asal-usul Sejarah Grobogan dengan Mbah Bejo di Rumah Pustaka BMA yang saya kelola:

 


 
*Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist & Peminat Sejarah Lokal

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Mengenal Eko Supa, Pelukis Karikatur Kelas Dunia dari Grobogan

Eko Supa, seniman lukis karikatur dari Grobogan. [Foto: Wahyu K]

Tubuhnya gemuk. Kalau bicara pelan. Saya bertemu dengannya saat menghadiri kegiatan Nggambar Bareng Palipuro di Alun-alun Purwodadi akhir bulan Mei 2022 lalu. Sembari menggoreskan kuas ke media gambar di depannya, ia meladeni saya berbincang.

 

Nama lengkapnya Eko Suparyanto, namun di panggung lukis yang digelutinya, ia populer dengan nama Eko Supa. Pria kelahiran Grobogan, 2 April 1982 ini memang dikenal sebagai seorang pelukis, spesialis karikatur. Bukan sekelas pelukis temeh-temeh, tapi lukisannya sudah menjelajah dari pameran-pameran berkelas, lokal, regional, nasional, hingga internasional.  

 

Minatnya di bidang seni lukis sudah sejak  dari kecil. Tapi mulai menekuni dunia seni lukis secara profesional sejal lulus dari SMA  PGRI Purwodadi. Ia bertolak ke Jogjakarta untuk belajar seni lukis secara lebih intens.

 


Di Kota Gudeg itu, ia belajar seni lukis dari para pelaku seni rupa di sepanjang Jalan Malioboro. Jogjakarta rupanya membuatnya betah berlama-lama menimba ilmu dan menekuni dunia seni lukis. Setidaknya tercatat tujuh tahun ia tinggal di Jogjakarta sejak tahun 2002 hingga 2009.

 

Di Jogjakarta itulah kemampuan seni lukisnya terasah dengan baik. Ia ikut pameran demi pameran dan percaya diri menjual lukisannya. Lukisan pertamanya berupa gambar harimau terjual Rp 750 ribu.

 

Eko Supa pun semakin mantap menapaki profesi sebagai seorang seniman lukis. Berbagai aliran seni lukis pernah ia pelajari dan tapaki. Mulai dari aliran realis, naturalis, ekspresif, impresif, dan lain-lain. Hingga kemudian ia memantapkan diri cenderung memilih seni lukis gaya karikatur—yaitu seni lukis yang menggambarkan suatu objek konkret dengan cara melebih-lebihkan ciri khas objek tersebut.

 

Pameran Tunggal

Setelah aktif mengikuti sejumlah pameran, Eko Supa menjadi lebih percaya diri, ia pun menghelat pameran tunggal. Pameran tunggal pertamanya diadakan di Galeri Hadiprana Jakarta tahun 2009 dengan mengusung tema “Orde Batik” yang menggambarkan tokoh-tokoh internasional dalam busana batik. 

 

Pameran tunggal itu nampaknya menjadi titik balik bagi Eko Supa untuk menunjukkan reputasinya sebagai seorang seniman lukis berkelas. Tahun 2010, lukisannya menjadi finalis Jakarta Art Awards dan Indonesia Art Awards. Tahun-tahun berikutnya secara beruntun, yaitu tahun 2011, 2012, dan 2015, lukisannya menjadi finalis UOB Painting of the Year Indonesia, menyisihkan ribuan lukisan yang dikompetisikan.

 

Lukisan bertajuk "Spirit Selendang" karya Eko Supa

Tahun 2018, lukisannya bertajuk “Spirit Selendang” termasuk yang dipamerkan dalam Pameran Temporer Museum Basoeki Abdullah bertema “Spirit Potret”. Pada pameran itu, Eko Supa bersama sekitar 30 seniman lukis se-Indonesia—yang lukisannya terpilih, diminta untuk melukis  karya maupun karakter Basoeki Abdullah dengan eksplorasi sesuai aliran dan imajinasi masing-masing.

 

Saat itu Eko Supa membuat lukisan karikatur yang menggambarkan Basoeki Abdullah masuk ke dalam lukisan “Jaka Tarub”—sebuah lukisan yang pernah dibuat oleh Basoeki Abdullah berdasarkan cerita rakyat tentang Jaka Tarub dan 7 Bidadari. 

 

Dalam lukisannya, Eko Supa menggambarkan karakter Basoeki Abdullah yang mengambil selendang bidadari, sehingga karya lukisannya itu diberi tajuk “Spirit Selendang” dan terpajang di katalog galeri tersebut. 

 

Satu Lukisannya Terjual Rp 35 Juta

Setelah malang melintang di Jogjakarta, Eko Supa harus pulang ke kampung halamannya di Kota Purwodadi. Ia pulang karena harus menunggui ibunya. Namun, hal itu tak membuatnya lantas vakum dari dunia lukis. Ia tetap produktif. Hingga saat ini, Eko Supa masih terus aktif sebagai pelukis bebas yang mengolah karakter karikatural tokoh-tokoh dunia.

 

Apalagi dunia seni lukis boleh dibilang sudah menyatu dalam hidup dan kehidupannya. Seni lukis menjadi mata pencahariannya. Sepanjang karir sebagai seniman lukis, Eko Supa mengaku, satu lukisannya pernah terjual hingga seharga Rp 35 juta.

 

Menurutnya, itu belum seberapa dibanding pelukis-pelukis lainnya yang sudah lebih tersohor yang bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk satu buah lukisan. Namun ia tetap bersyukur dengan apa yang telah dicapainya hingga seperti sekarang.

 

Bulan Desember 2018, ia bersama dua seniman lukis Purwodadi lainnya, yaitu Didik Budiarto dan Andi Kebo, membidani lahirnya sebuah komunitas seniman lukis Purwodadi bernama Palipuro yang merupakan kepanjangan dari “Perkumpulan Pelukis Purwodadi Grobogan”. 

 

Ia berharap, lahirnya komunitas ini menjadikan seniman lukis Grobogan lebih memiliki pengaruh di kancah seni lukis nasional maupun internasional, serta memiliki kontribusi bagi citra positif daerah.

 

Simak video perbincangan saya dengan Eko Supa di rumahnya di daerah Kebondalem, Purwodadi, Grobogan:

 


 *Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist     

     

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (2)

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (2)

Saat rekaman cover lagu "Sesungguhnya" karya Raihan. [Foto: dokumen pribadi]

Akhir tahun 1990-an, saya mulai mengenal lagu-lagu nasyid di luar Nasida Ria Semarang. Berbagai group nasyid, dalam maupun luar negeri, mulai saya kenal—dan menjadi genre lagu yang menjadi hiburan ‘baru’ saya. Snada (Indonesia) dan Raihan (Malaysia) adalah dua group nasyid yang berhasil ‘mencuri’ hati saya.

 

Saya pun membeli kaset-kaset album mereka. Namun dibanding Snada, Raihan adalah group nasyid paling saya gemari yang—boleh dibilang—hampir semua album  yang mereka keluarkan saya beli, sejak era kaset hingga era CD. Mulai dari album pertama Puji-pujian (1996), Syukur (1998), Senyum (1999), Demi Masa (2001), Gema Alam (2003), Allahu (2004), dan Ameen (2005).

 

Hanya tiga album terakhir yaitu Tawakal (2006), The Spirit of Shalawat (2008) dan Zikir Theraphy (2011) saya tidak membelinya. Boleh jadi karena saya merasa kualitas perfoma Raihan menurun sejak ditinggalkan vokalis utamanya, Nazrey Johani, pada tahun 2006. Tahun 2007, Raihan sempat memiliki vokalis baru bernama Zulfadli Mustaza.

 

Kendati demikian, saya tetap menyimak perkembangan group nasyid yang didirikan pada Oktober 1996 dengan formasi personel lengkap: Nazrey Johani (vokalis), Azhari Ahmad, Abubakar Md. Yatim, Che Amran Idris, dan Amran Ibrahim. 

 

Dua personel Raihan yaitu Azhari Ahmad meninggal dunia tahun 2001 dan Nazrey Johani, sang vokalis, keluar tahun 2006. Sehingga praktis kini personel Raihan tinggal tersisa tiga, yaitu  Abu Bakar, Che Amran, dan Amran Ibrahim. Meski demikian, mereka tetap eksis meski belum lagi mengeluarkan album atau single terbaru—kecuali mereproduksi lagu-lagu mereka dengan arrangement baru.

Raihan formasi lengkap, dari kiri Azhari Ahmad (alm), Che Amran Idris, Nazrey Johani, Amran Ibrahim, dan Abu Bakar Md. Yatim. [Foto: istimewa]

 Raihan, Legenda Nasyid Dunia

Bagi saya, Raihan adalah legenda nasyid dunia yang belum tertandingi oleh group nasyid manapun hingga sekarang. Kehadirannya, hemat saya, serupa Rhoma Irama di Indonesia—yang bila Rhoma Irama menjadi legenda dalam musik dangdut, maka Raihan adalah legenda dalam musik religi—yang lagu-lagunya tetap asyik dinikmati khalayak sepanjang masa.

 

Pada masa kejayaannya, lagu-lagu Raihan banyak yang menjadi hits dan kaset maupun CD album mereka laku keras, termasuk di Indonesia. Tercatat, Raihan pernah mendapatkan double platinum untuk album Demi Masa. Raihan sering diundang untuk konser di seantero dunia, di antaranya di Hongkong, Kanada, Prancis, Rusia, dan Inggris. Saat konser di Inggris, Raihan diberikan penghargaan oleh Ratu Elizabeth II.

 

Seperti lagu-lagu karya Rhoma Irama, lagu-lagu Raihan juga tetap enak dinikmati hingga kini. Tema-temanya antara lain tentang akidah, ibadah, akhlak, sejarah, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan syair-syair yang mudah dipahami serta seni lagu yang asyik dinyanyikan. Sehingga saya pun banyak hafal lagu-lagu Raihan.

 

Di antara lagu Raihan yang banyak saya hafal, ada yang menjadi favorit saya, antara lain: Kita Hamba, Sesungguhnya, Iman Mutiara, Kabar Iman, Damba Cinta-Mu, Carilah Cinta, dan sebagainya.

 




Selain Raihan, juga Snada, banyak group nasyid lainnya yang saya suka, baik dari Indonesia maupun Malaysia. Namun, seperti biasanya, saya tidak begitu memfavoritkan group—dalam arti lebih ke menyukai lagunya yang asyik didengar dan syair lagunya yang menyentuh hati.

 

Beberapa group nasyid dari Indonesia yang beberapa lagunya saya suka antara lain: The Fikr, Tazakka, Edcoustic, Seismic, Shoutul Harakah, dan Izzatul Islam. Adapun group nasyid dari Malaysia yang beberapa lagunya saya suka antara lain: Unic, Inteam, Hijaz, Rabbani, dan Saujana.

 

Pandemi Covid-19 dan Cover Lagu

Sebagai penikmat lagu, saya tidak pernah menyanyikannya ke publik, di acara sekecil apapun. Kalau saya menyanyi, itu pun lirih, hanya untuk kepentingan diri sendiri—di kala sendiri pula hahaha....

 

Pandemi Covid-19 yang mengguncang dunia, juga Indonesia, menghentak kita semua—termasuk saya. Jelang Indonesia ditetapkan sebagai wilayah terpapar Covid-19 dan warganya dinyatakan untuk stay at home, saya masih mengisi sebuah pelatihan menulis di sebuah hotel.  

 

Jadwal pelatihan 5 hari baru berjalan 2 hari, sehingga 3 hari selanjutnya harus di-cancel dulu akibat kebijakan stay at home dan larangan berkerumun—dan kemudian akhirnya diadakan secara daring melalui zoom meeting

 


 

Beberapa bulan di awal pandemi, saya dan seluruh anggota keluarga (anak saya yang di pesantren juga dipulangkan) benar-benar stay at home. Hal itu membuat banyak waktu luang.

 

Akhirnya di sela aktivitas membaca, menulis, beribadah, bercengkerama dengan keluarga, saya bisa menyisihkan aktivitas ‘baru’: yaitu menyanyi di ruang kerja haha.... Dari aktivitas ‘baru’ itulah, atas dorongan seorang kawan, saya memberanikan diri untuk mengcover lagu.

 

Kebetulan ada lagu religi yang tengah viral ketika itu dan saya menyukai lagu tersebut, yaitu lagu berjudul Aisyah, dipopulerkan oleh Mr. Bie. Setelah memantapkan diri bisa menyanyikannya dengan relatif baik—versi saya tentu saja, maka saya pun menjadwalkan rekaman di sebuah studio music di Semarang. Saya diantar oleh seorang teman, namanya Teguh Santoso—dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Ungaran, yang telah terlebih dulu biasa rekaman cover lagu di studio tersebut.

 

Rekaman itu adalah untuk pertama kalinya saya ke studio, untuk pertama kalinya saya nyanyi agak serius satu lagu utuh (haha...), dan untuk pertama kalinya saya rekaman. Awalnya agak ndredeg juga. Take ulang berkali-kali. Tapi akhirnya, rekaman pertama berjalan sukses, meski saya masih merasa kurang percaya diri.     


 

Setelah rekaman pertama lagu Aisyah—dengan versi lirik yang sedikit saya gubah (akan saya ceritakan di tulisan tersendiri, insya Allah), lalu disusul cover lagu berikutnya, yaitu lagu Bidadari Surga-nya Ustaz Jefri Al-Buchori, lalu Wahai Seorang Kekasih-nya Nazrey Johani, Suci Sekeping Hati-nya Saujana, dan terakhir lagu Sesungguhnya Raihan.

 

Seiring kehidupan yang mulai (kembali) normal, saya sudah tidak lagi menyisihkan waktu menyanyi, kecuali sekedarnya saja di sela kerja. Namun kelima lagu cover tersebut, bisa ditonton di channel YouTube saya: Badiatul Muchlisin Asti. Saya akan senang bila Anda berkenan menontonnya dan meninggalkan jejak di kolom komentar hahaha....Demikian sedikit cerita tentang saya, lagu, dan cover lagu. 

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur dan Citizen Jornalist.   

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (1)

Saya, Menyanyi, dan Cover Lagu (1)

Saat rekaman untuk cover lagu Bidadari Surga-nya Ust. Jefri Al-Buchori. [Foto: dokumen pribadi]

Saya akui, sejak kecil saya suka lagu—sekadar sebagai penikmat. Dan sebagai anak kamso (kampungan dan ndeso), memori saya tentang lagu-lagu yang saya sukai sumbernya adalah radio dan televisi (baca: TVRI) yang memang merupakan sumber utama hiburan ketika itu.

 

Masa kecil dan remaja saya lakoni pada rentang masa tahun 1980-an dan 1990-an. Soal lagu, saya tidak memfavoritkan genre lagu tertentu. Asal nadanya asyik dan syairnya syahdu—mengena di hati saya, saya suka. Karena itu, saya punya banyak memori lagu-lagu favorit secara pribadi lintas genre, baik dangdut, pop, dan nasyid—yang dulu diwakili oleh Nasida Ria Semarang.

 

Sampai sekarang, saya masih banyak hafal dan mampu mendendangkan sebagian besar lagu-lagu dangdut favorit saya—kebanyakan lagu-lagu yang dibawakan Evi Tamala seperti Lilin-lilin Putih, Luka di Atas Luka, Sedingin Salju, Selamat Malam, Rembulan Malam, Senandung Rembulan, Kandas, dan sebagainya.

 

Harus saya akui, di antara pedangdut yang lagunya banyak (tidak semua) saya favoritkan adalah Evi Tamala. Sedang pedangdut lain hanya lagu-lagu tertentu saja seperti Ine Sinthya saya suka lagunya yang berjudul Memori Daun Pisang dan Prasangka; Ikke Nurjanah Cinta dan Dilema;  Cici Paramida Wulan Merindu; dan sebagainya.

 

Untuk pedangdut pria, Rhoma Irama-lah yang harus saya sebut. Pasalnya, saat saya kecil, dua orang kakak sepupu saya yang tinggalnya sebelah rumah, sangat menyukai lagu-lagu Rhoma Irama. Kata mereka kepada saya ketika itu, ibarat pepatah “tidak ada rotan, akar pun jadi”— lagu-lagu Rhoma Irama adalah rotan, dan lagu-lagu penyanyi lainnya adalah akar. Begitulah mereka mengibaratkan posisi Rhoma di hati mereka dibanding pedangdut lainnya.

 

Meski demikian, sebagaimana penyanyi lainnya, tak semua lagu-lagu Rhoma saya suka. Hanya beberapa lagu saja seperti Raib, Tabir Kepalsuan,  Pertemuan, dan Bahtera Cinta. Saya memang cenderung menyukai lagu-lagu bertema roman. 

 


 

Lagu Pop, Sejak Tito Sumarsono Hingga Poppy Mercury

Sebagaimana dangdut, saya juga tidak fanatik pada penyanyi pop tertentu. Saya menyukai lagunya—yang nada dan syairnya pas meresap di hati saya. Makanya, saya punya memori lagu-lagu tertentu yang saya suka dari banyak lagu pop lawas yang populer ketika itu.

 

Saya hafal dan suka lagu-lagu seperti Di Puncak Bukit Hijau-nya Jayanthi Mandasari; Maria-nya Julius Sitanggang; Kisah Kasih di Sekolah-Nya Obbie Messakh; bahkan hafal trilogi lagu Hati yang Luka karangan Obbi Messakh meliputi Hati yang Luka (dinyanyikan Betharia Sonata), Penyesalan (jawaban untuk lagu Hati yang Luka, dinyanyikan Obbie Mesakh sendiri) dan  Tiada Duka Lagi (dinyanyikan duet Betharia Sonata dan Obbie Mesakh).

 

Selain itu ada lagu-lagu yang populer setelahnya yang saya suka antara lain: Aku Sayang Kamu-nya Cindy Claudia Harahap; Cintaku Tak Terbatas Waktu-nya Annie Carera, dan Kasih-nya Ismi Aziz. Lalu, lagu-lagu yang didendangkan Poppy Mercuri seperti Pelangi Cinta, Tragedi Antara Kuala Lumpur – Penang,  Antara Jakarta dan Penang, Surat Undangan, Hati yang Luka, Terlambat Sudah, dan lainya.

 

Lagu-lagu pop lainnya yang saya suka: Untukmu dan Tuhan Tolonglah-nya Tito Sumarsono, Dinda di Mana-nya Katon Bagaskara, dan Sanggupkah Aku-nya Andy Liany. Untuk lagu-lagu yang dibawakan group musik, favorit saya antara lain: Kangen-nya Dewa 19, Tataplah-nya Cool Colour, Bukan Pujangga-nya Base Jam, Yogyakarta-nya Kla Project, Cerita Cinta-nya Kahitna, Mungkinkah dan Cinta Suci-nya Stinky, dan lain sebagainya.

 

Nasida Ria, Kenangan Bersama Bapak

Nasida Ria, group kasidah legendaris dari Semarang. [Foto: istimewa]

Adapun lagu-lagu nasyid--tepatnya kasidah, tak banyak ketika itu. Yang saya kenal hanya Nasida Ria Semarang yang sangat populer di masa kecil saya. Bapak saya yang secara tidak sengaja memperkenalkannya. Di rumah, bapak sering memutar lagu-lagu Nasida Ria dari radio tape yang beliau punya.

 

Dari situlah, saat bapak memutar kaset Nasida Ria, mau tak mau, saya ikut mendengarkannya dan sebagian secara tak sadar saya hafal liriknya. Lagu-lagu Nasida Ria seperti Jilbab Putih, Tahun 2000, Kota Santri, Perdamaian, dan lain-lain, sangat akrab di telinga saya dan sangat memorable.

 

Lagu-lagu Nasida Ria tak melulu religi, tapi juga ada yang bertema roman cinta, di antaranya yang sangat saya hafal ketika itu adalah sebuah lagu berjudul Tergila-gila, penggalan syairnya sebagai berikut:

 

Seindah-indah bulan purnama, lebih indah wajahnya

Semanis-manisnya madu, lebih manis senyumnya

Duh aduh aku tak tahan, kala ia memandangku

Hati rasa begetar, berdenyut-denyut jantungku

Dia tersenyum mesra, dengan ramah menyapaku

Bingung bingung, aku bingung, tersipu malu  

 

Boleh dikata, ketika itu, Nasida Ria merupakan satu-satunya group musik religi yang paling masyhur. Sebagai anak yang lahir dari keluarga dengan iklim religius, mau tidak mau, saya mengenal lagu-lagu Nasida Ria yang hingga saat ini masih direproduksi juga dicover oleh banyak group-group  musik religi.

 

Ketika itu, lagu-lagu religi dari Nasida Ria banyak diputar saat pesta hajatan warga, terutama di perdesaan, antara lain di acara mantenan atau walimatul ‘ursy. Syahdunya ketika itu....

 

Menggemari Nasyid

Tahun-tahun terakhir di pengujung tahun 1990-an, saya mulai menyukai lagu-lagu religi atau nasyid dengan tema religi yang lebih kental yang booming ketika itu, baik di Indonesia maupun di Malaysia. Genre nasyid inilah yang sangat membekas di hati saya, yang berpuluh tahun kemudian ketika pageblug Covid-19 mengguncang dunia dan masyarakat harus stay at home, saya merasa perlu ada hiburan, salah satunya menyalurkan “hobi terpendam” saya, yaitu: menyanyi.

 

Lagu nasyid yang saya pilih. Kenapa saya memilih nasyid? Apa dan bagaimana saya kemudian “memberanikan diri” mengcover lagu nasyid? Simak di tulisan berikutnya ya. (Bersambung).  

 

*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur dan Citizen Journalist

Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw di Rumah Sehat Thakza Wirosari Grobogan

Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw di Rumah Sehat Thakza Wirosari Grobogan

 

Ustaz Riyanto, PAZtrooper yang membuka layanan penyembuhan dengan metode PAZ Al Kasaw. [Foto: Wahyu K]

Rumah Sehat Thakza beralamat di Dusun Keliling RT 01 RW III, Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Lokasinya persis di seberang lapangan Bantolo Sakti. Rumah Sehat Takzha dikelola oleh Ustaz Riyanto—saya biasa memanggilnya Riyanto saja, seorang praktisi thibbun nabawi yang juga seorang ustaz (guru) di SDIT Ar-Risalah Wirosari.

 

Secara pribadi, saya sudah lama mengenal pengelola Rumah Sehat Takzha itu. Akhir tahun 1999, ketika saya mendirikan Forum Remaja Madani (Formad)—sebuah wadah dakwah dan pemberdayaan remaja muslim di Kecamatan Wirosari dan sekitarnya, Riyanto adalah salah satu anggota aktif.

 

Saat itu Riyanto masih seorang pelajar SMA, yaitu di SMA Al-Islam Wirosari. Riyanto aktif juga di majlis taklim remaja yang saya asuh, yaitu di Kelompok Kerja Majlis Taklim (KKMT) Formad yang anggotanya adalah para pelajar SMP dan SMA dari lintas sekolah di Kecamatan Wirosari dan sekitarnya.

 

Saya tidak lagi mengasuh KKMT Formad saat saya harus ‘hijrah’ ke kecamatan lain karena menikah pada tahun 2003. Tapi saya masih sering kontak dengan Riyanto, namun jarang ketemu. Sampai kemudian ia kuliah dan kemudian mengajar di sebuah SDIT di Wirosari sampai sekarang. 

 

Bahkan saya ketahui, ia juga menjadi seorang praktisi thibbun nabawi, di antaranya membuka layanan penyembuhan melalui bekam (al-hijamah), selain juga seorang pelatih Taekwondo.

 

Menjadi PAZtrooper

Perkembangan terkini, Riyanto juga ikut pelatihan sebuah metode pengobatan yang ditemukan oleh Ustaz Haris Moejahid rahimahullah, yang saat ini sedang populer-populernya, yaitu Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw. Dan saat ini Riyanto membuka layanan penyembuhan melalui metode tersebut di rumahnya yang sekaligus dijadikan tempat ‘klinik’-nya—yang ia sebut dengan Rumah Sehat Thakza.

 

Saya sudah beberapa kali silaturahmi ke ‘klinik’-nya, bahkan telah melihat bagaimana Riyanto menerapi ‘pasien’-nya dengan bekam maupun dengan metode PAZ Al-Kasaw. Bahkan saya sendiri sudah merasakan dibekam dan diterapi dengan metode PAZ oleh Riyanto.

 

Ustaz Riyanto saat menerapi saya dengan metode PAZ Al-Kasaw. [Foto: Wahyu K]

PAZ Al-Kasaw sendiri adalah terapi atau metode pengobatan berbasis perbaikan rangka tubuh manusia yang ditemukan oleh Allahu yarham Ustadz Haris Moejahid, alumni Technische Universiteit Delft jurusan Aeronoutical Enginering (spesialisasi struktur dan rangka pesawat terbang), Belanda.

 

Bentuk pengobatannya melalui berbagai gerakan dalam rangka memperbaiki rangka tubuh yang menjadi sumber keluhan pelbagai penyakit—yang bisa dipelajari oleh siapapun. Hingga saat ini lebih dari 12 ribu orang yang sudah mempelajari metode penyembuhan ini dan telah banyak masyarakat yang terbantu penyembuhan atas penyakit yang diderita melalui wasilah terapi ini, biiznillah

 

Sehingga boleh dibilang, PAZ Al Kasaw ini merupakan ikhtiar agar setiap muslim bisa memiliki ketrampilan menyelesaikan aneka penyakit dengan cara-cara yang sederhana, praktis, bisa diterapkan kapan saja dan di mana saja, hasilnya cepat, tanpa butuh alat khusus, serta tanpa jimat, tanpa rapalan mantra, dan bebas dari kesyirikan. Slogan PAZ Al-Kasaw adalah tanpa operasi, tanpa obat, tanpa alat, dan tanpa jimat.

 

Bagi saudara-saudara kamu muslimin di manapun berada yang membutuhkan infomasi tentang PAZ Al-Kasaw, baik karena ingin mencari wasilah kesembuhan maupun karena tertarik mendalami ilmu PAZ, bisa mengunjungi website resmi PAZ Al-Kasaw, yakni di: https://pazindonesia.com/

 

Atau yang berada di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan dan sekitarnya bisa menghubungi Rumah Sehat Thakza yang beralamat di Dusun Keliling RT 01 RW III, Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Nomor WhatsApp: 085292727070

 

Tonton video kami tentang Pengobatan Akhir Zaman (PAZ) Al-Kasaw di Rumah Sehat Thakza Wirosari:

 


 *Badiatul Muchlisin Asti, Citizen Journalist & Peminat Kajian Thibbun Nabawi

Kak Erwin, Diploma Teknik Kimia yang 'Tersesat' Jadi Juru Cerita

Kak Erwin, Diploma Teknik Kimia yang 'Tersesat' Jadi Juru Cerita

 

Gaya Kak Erwin sebagai juru cerita. [Foto: Istimewa]

Saya lupa persisnya sejak kapan saya mulai mengenalnya. Ketika itu, ia seorang penyiar radio di Purwodadi FM—stasiun radio milik Pemkab Grobogan. Ia pernah mengundang saya ke radio tersebut untuk sebuah acara inspirasi. Saya diwawancara seputar aktivitas kepenulisan saya.

 

Sejak saat itulah saya mengenalnya dan bersahabat—meski belum begitu intens dan akrab. Ia bernama asli Nur Setyo Pambudi atau publik lebih mengenalnya dengan sapaan Kak Erwin—nama tenarnya sebagai penyiar radio.

 

Januari 2011, lewat inbox facebook, ia menghubungi saya dan meminta izin ngamen—istilah darinya—yang maksudnya adalah mendongeng di sekolah (RA) yang saya kelola. Seketika langsung saya jawab “oke”. Dan pada Senin, 24 Januari 2011, ia datang dengan membawa boneka tangan dan mendongeng di depan anak-anak di sekolah yang saya kelola.

 

Ternyata itu adalah debut mendongeng pertamanya sebelum kemudian ia menjadi pendongeng atau juru kisah yang kondang kawentar seperti saat ini. Saat ini, namanya sudah sohor. Ia tidak hanya telah menyapa anak-anak di hampir seluruh pelosok Grobogan dengan kisah-kisahnya. Tapi juga telah menuturkan kisah-kisah teladannya ke anak-anak di lintas kabupaten, bahkan lintas provinsi.

 

Sejak mendongeng di sekolah saya itu, saya semakin akrab dengannya. Dan secara periodik  mengundangnya ke sekolah yang saya kelola, untuk mendongeng, hingga sekarang.

 

Peduli Jalan Lubang

Setelah mengenalnya, Kak Erwin—demikian saya juga biasa menyapanya—adalah sosok unik yang pernah saya kenal. Nanti saya akan cerita letak keunikannya di mana. Sebelum ke situ, saya ingin menceritakan bagian ini terlebih dulu. 

Kak Erwin (tengah) saat laaunching gerakan KPJLG di Rumah Makan Soso, Jalan Hayam Wuruk, Purwodadi, pada Jumat (6/5/2011). [Foto: Istimewa]
 

April 2011, lagi-lagi lewat inbox facebook, Kak Erwin menghubungi saya dan mengajak saya untuk terlibat dalam sebuah aksi sosial. Sejujurnya, saya agak gamang dengan ajakan itu. Namun Kak Erwin berhasil meyakinkan saya, hingga saya mengiyakan ajakannya.

 

Akhirya, pada Jumat, 6 Mei 2011, lima orang meliputi saya (penulis), Kak Erwin (penyiar radio),  Sugiyanto alias Ndoro Sugi (fotografer), Nur Cholis (guru), dan Suwantono (guru), secara resmi melaunching sebuah gerakan sosial yang kemudian populer dengan sebutan gerakan Koin Peduli Jalan Lubang Grobogan (KPJLG). Ketika itu jalan di wilayah Grobogan memang bayak yang parah.

 

Launching dilakukan di Rumah Makan Soso, Jalan Hayam Wuruk, Purwodadi. Kak Erwin sebagai inisiator didaulat sebagai koordinator gerakan. Gerakan KPJLG ini kayaknya cukup menyedot perhatian. Launching KPJLG diliput hampir semua koran mainstream ketika itu. Suara Merdeka, Solopos, Kedaulatan Rakyat, dan lainnya, merilis berita launching itu keesokan harinya—yang kemudian sepertinya menyengat pihak penguasa.

 

Kuliahnya Apa Jadi Apa?

Meski gerakan itu tinggal kenangan, namun sesungguhnya, inisiasi KPJLG menyiratkan sisi unik sosok Kak Erwin. Bagi saya, Kak Erwin memang sosok unik. Setidaknya bila dilihat dari sisi studinya yang “jaka sembung naik ojek” alias gak nyambung jek dengan pasison-nya—yang sebenarnya merupakan fenomena umum di Indonesia.

 

Gaya Kak Erwin saat mendongeng bersama bonekanya yang diberi nama Cuncun. [Foto: Badiatul M. Asti]

Di mata saya, Kak Erwin itu sosok multi talenta. Lebih ke punya bakat seni ketimbang berkutat di latar belakang studinya yang farmasi dan teknik kimia. Bisa nggitar sehingga pernah ngamen. Bisa melukis sehingga pernah menghadiahi saya lukisan wajah saya dengan gaya karikatural.

 

Sehingga tak aneh, bila perjalanan hidupnya makin ke sini justru makin jauh dari latar studinya. Kayaknya ilmu hasil sekolah (farmasi) dan kuliah (teknik kimia)-nya, gak membekas pada dirinya.

 

Sebelum malang melintang sebagai juru kisah, juru cerita, pendongeng—atau apapun namanya seperti saat ini, ia adalah seorang penyiar radio. Dari penyiar radio lalu beralih menjadi juru kisah profesional—yang belakangan saya tahu, ia “melebarkan sayap” dengan membuat tim outbound yang disebutnya dengan istilah Dobaba alias Dolanan Bareng-bareng.

Buku "Resep Mujarab Lihai Mendongeng" karya Kak Erwin. Info dan Pemesanan Hubungi WhatsApp: 085742208552

Oh ya, penting didiketahui, komitmennya terhadap dunia kisah, ia wujudkan dalam sebuah buku yang berjudul Resep Mujarab Lihai Mendongeng, Membentuk Akhlak Anak Melalui Cerita (2017). Buku itu saya edit dan terbitkan melalui penerbitan yang saya kelola: CV. Hanum Publisher. Menurut Kak Erwin dalam sebuah podcast bersama saya, buku itu ia tulis berkat “kutukan” dari saya hahaha....suatu hari saat ia memoderatori saya dalam sebuah diskusi kepenulisan. Begitulah.

 

Simak perbincangan saya dengan Kak Erwin dalam sebuah video podcast di Rumah Pustaka BMA:

 


 
*Badiatul Muchlisin Asti, Bookpreneur & Citizen Journalist